Categories
Nanoteknologi & Material Riset & Inovasi

Mengomunikasikan Hasil Riset dengan Presentasi yang Efektif

Tangerang Selatan – Humas BRIN. Para peneliti terkadang mengalami kendala dalam menyampaikan hasil risetnya kepada masyarakat. Hal ini menyebabkan hasil riset dan inovasi menjadi kurang termanfaatkan.

Widyaiswara Ahli Muda, Direktorat Pengembangan Kompetensi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Indra Riswadinata mengatakan, adanya anggapan beberapa orang bahwa hasil penelitian yang disampaikan ke masyarakat sangat sulit dipahami.

“Untuk itu, kita harus merancang, membuat, dan menyajikan presentasi yang menarik. Karena inilah cara kita menghargai perjuangan riset yang hebat,” katanya, pada webinar Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material (ORNAMAT) seri ke-29, Selasa (13/06).

Indra mengungkapkan, mengomunikasikan hasil riset yang telah dibuat harus dengan cara yang jelas, ringkas, dan menginspirasi. Ada tiga prinsip presentasi efektif, yakni konten, desain, dan penyampaian.

“Merancang sebuah bahan tayang dan cara persentasi yang membosankan akan membuat audiens tidak akan memperhatikan peran kita. Di mana seharusnya kita menjadi satu-satunya matahari di dalam ruang presentasi itu. Manusia pada umumnya lebih mudah memahami presentasi dengan menggunakan gambar dan tulisan, sehingga terlihat menarik,” ujarnya.

Indra juga menjelaskan berdasarkan penelitian beberapa ahli yang menyatakan di seluruh dunia, ada bukti empiris mengapa kita dapat belajar lebih cepat dari gambar dan kata-kata,  dibandingkan dengan kata-kata tanpa gambar. 

“Presentasi yang efektif harus menyediakan gambar dan tulisan. Presentasi juga harus berisi kebenaran dan disampaikan dengan cerita yang disertai gambar, sehingga semakin mudah dimengerti oleh audiens,” terangnya.

Kemudian dalam membuat konten yang hebat, dirinya menjabarkan harus ada tiga pondasi, yaitu menentukan topik dan tujuan yang sesuai, serta kebutuhan audiens. “Tiga pondasi presentasi yang perlu kita perhatikan yakni tentukan topik, tentukan tujuan presentasi seperti informasi, memengaruhi, menghibur, memotivasi atau menginspirasi, dan terakhir kenali audiens,” urainya. 

Mengenai desain, Indra mengupas bagaimana presentasi yang efektif harus menggunakan desain yang mampu menyampaikan hasil riset dengan jelas, ringkas, dan sederhana.

“Sangat perlu diperhatikan juga dalam penggunaan warna, gambar, jenis tulisan dan ukuran tulisan. Lalu dalam pembuatan bahan presentasi, yang dilihat audiens adalah animasi, jadi hati-hati dalam menggunakan animasi. Pemilihan animasi harus ada relevansinya dan memperhatikan perpindahan posisi, rotasi, serta skala,” jelasnya.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, penyampaian presentasi yang baik memerlukan beberapa hal yang mesti diperhatikan. Mulai dari gaya tubuh, tatapan mata, penggunaan alat bantu yang baik, dan sebagainya. Sebagai seorang presenter, harus peduli pada audiensnya, sehingga menyesuaikan cara belajar audiens menerima informasi.

“Dalam membuka dan menutup presentasi, baiknya kita menyampaikan kutipan, kisah, humor, fakta, atau bertanya. Untuk humor harus berhati-hati, karena jika bukan orang humoris maka akan terkesan membosankan. Lalu pada saat presentasi, diperlukan perkenalan hangat, tatapan mata, gestur, agar lebih menunjukkan ketertarikan pada materi yang kita sampaikan,” ungkap Indra.

Visualisasi

Presentasi adalah sebuah proses komunikasi. Menurut Indra, kekuatan visual dapat mengefektifkan komunikasi sesuai cara kerja otak yang visual. Sehingga, dalam memvisualisasikan karya tulis ilmiah, dapat dengan memperhatikan enam mode pemikiran.

“Yakni siapa dan apa yang kita bicarakan? Berapa banyak datanya? Di mana terjadinya? Mengapa terjadi? Bagaimana mereka berinteraksi? Setelah semua hal ini diindentifikasi, maka akan mudah memvisualkan karya tulis ilmiah yang dibuat,” bebernya.

Dia menambahkan, jika bertemu kata benda, nama, dan objek, maka visualisasikan dengan gambar, bisa berupa potret seperti desain grafis dan ikon.

Mengenai kuantitas, dapat dengan angka, lalu nilai menggunakan grafik. Jika ada lokasi, posisi, dan irisan, visualisasikan dengan peta. Untuk waktu rangkaian urutan, dapat divisualisasikan dengan linimasa. Sebab-akibat divisualisasikan dengan bagan alir, serta hikmah sebuah kisah dengan persamaan.

“Ketika Anda bertemu dengan kata benda dalam ide Anda, maka gambarkan sebuat potret atau citra. Sebuah citra atau potret mampu menggambarkan kata benda, kata ganti siapa, dan apa ide kita. Citra dapat berbentuk orang, tempat, atau sesuatu yang kita sampaikan,” ucap Indra.

Berkomunikasi dengan Media

Dalam kesempatan yang sama, Pranata Humas Madya, Biro Komunikasi Publik, Umum, dan Kesekretariatan BRIN Sugiarti menyatakan, pentingnya bagi peneliti untuk bisa berkomunikasi di media.

“Ada beberapa alasan seorang peneliti harus bicara di media,” ungkap Sugiarti.

Pertama, sebagai pertanggungjawaban atas riset yang dibiayai oleh dana publik. Kedua, untuk memberikan informasi baru, untuk mengubah perilaku masyarakat, misalnya adopsi ide atau teknologi baru.

Ketiga, lanjut dia, untuk mengoreksi misinformasi atau miskomunikasi di masyarakat. Keempat, memperoleh umpan balik untuk ide pengembangan suatu hasil riset. Kelima, untuk mendapatkan mitra kolaboratif baru untuk riset, termasuk dari industri.

Dirinya juga menguraikan bagaimana cara berkomunikasi dengan media. “Ada tujuh kiat merencanakan komunikasi dengan media, yaitu memiliki tujuan yang jelas, tahu siapa audiens yang dituju, pesan apa yang ingin disampaikan, ada poin kunci tertulis, melakukan persiapan, berlatih kembali, dan mempersiapkan wawancara dengan baik,” tuturnya.

Kemudian, dalam bekerja sama dengan media yang melakukan peliputan riset, peneliti perlu berhati-hati dalam memanfaatkan kesempatan ini. “Mendapatkan liputan tidak selalu mudah, jadi manfaatkan peluang ini sebaik mungkin, supaya mendukung karier kita,” pesannya.

Dia pun menjabarkan lima kesalahan yang sering terjadi saat peneliti berbicara dengan wartawan. “Kesalahan itu yaitu tidak menyebutkan nama organisasi, pembicaraan yang panjang dan bertele-tele, menggunakan pernyataan negatif, mengatakan ‘no comment’, serta berasumsi bahwa pembicaraan¬†off the record”¬†ulasnya. (esw, mfn/ ed: adl, tnt)

Tautan :

https://www.brin.go.id/news/113022/mengomunikasikan-hasil-riset-dengan-presentasi-yang-efektif