Categories
Perhimpunan Periset Indonesia

PPI Kota Tangsel Laksanakan Raker Perdana Tahun 2023

Tangerang Selatan – Humas PPI. Pengurus Perhimpunan Periset Indonesia atau PPI Kota Tangerang Selatan melaksanakan rapat kerja (raker) perdana periode 2023-2025 bersama Ketua PPI Provinsi Banten, di Gedung 80 Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Habibie, Kamis (12/1).

Dalam sambutan, Ketua PPI Kota Tangsel, Agus Sukarto Wismogroho mengungkapkan dengan adanya PPI, kita harus memberikan manfaat bagi anggota. “Menjadi pembawa informasi dalam berbagai macam forum, sehingga memudahkan teman-teman kita untuk menerima informasi yang terbaik,” ujarnya,

“Salah satu kebutuhan mendasar para periset yaitu kompetensi, serta program yang diinginkan para anggota terkait permintaan dasar, fasilitas, komunikasi dengan komunitas, dan sosialisasi aktifitas di sosial media,” kata Agus dalam laporannya.

Agus menyampaikan, bahwa sesuai dengan target awal, PPI Kota Tangsel mendapat amanah untuk menguatkan sebagai periset, bisa bermanfaat, dan sehat sampai pensiun. “Semoga kegiatan kita bisa efektif dan mulai mengeksekusi kegiatan-kegiatan dengan berkolaborasi bersama PPI Provinsi Banten,” harapnya.

Selanjutnya, Ketua Dewan Pakar PPI Kota Tangsel, Anny Sulaswatty mengajak untuk berjuang bersama-sama menunjukkan performa PPI Kota Tangsel yang baik untuk semua.

First performance itu yang paling penting. Percaya deh, kalau kita perform dengan baik, maka orang pasti akan melihat dan menghargai kita,” yakin Anny.

Lebih lanjut, bagaimana memformnya? Mengoptimalkan kinerja seperti kompetensi, dan menjalankan program yang mereka inginkan seperti permintaan dasar, fasilitas, dan seterusnya.

“Kita harus buktikan, entah bagaimana caranya. Mudah-mudahan Agus dan Deni (sinergi PPI Kota Tangsel dan PPI Provinsi Banten), kita bersama dengan teman-teman yang lain, ayo kita hadapi,” tegas Ketua Dewan Pakar.

Dalam raker ini, Ketua PPI Provinsi Banten, Deni Shidqi Khaerudini menyampaikan bahwa banyak juga teman-teman dari eks BATAN, BPPT yang menjadi anggota PPI, supaya dibantu untuk membuat publikasi dan  bisa diakomodir, karena mereka dulu juga melakukan riset  tetapi belum berbentuk jurnal dan itu menjadi pekerjaan rumah PPI.

Deni juga mengatakan, untuk eksternal juga harus eksis karena PPI sebagai organisasi profesi harus berkecimpung di masyarakat. “PPI harus berkontribusi baik internal maupun eksternal. Ke depan, PPI sendiri secara nasional kita juga akan menjadi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP),” terangnya.

Menurutnya, sebagai organisasi profesi independen, PPI dapat mengadakan bermacam kegiatan pelatihan  yang bermanfaat, karena di situlah dirasakan keberadaan dan manfaatnya.

Selanjutnya, Deni berharap ada kerja sama antara PPI Kota Tangsel dan PPI Provinsi Bantern dalam mengurus periset internal maupun eksternal.

“Semoga selama kepemimpinan Pak Agus , PPI Kota Tangsel akan jauh lebih bergairah dan banyak kegiatan yang mensejahterakan pembangunan,” pesan Deni. (hrd/ed: mfn)

Categories
Perhimpunan Periset Indonesia

PPI Kota Tangsel Sampaikan Program di HUT PPI ke-1 dan Rakornas PPI 2022

Tangerang Selatan – Humas PPI. Dalam rangka pelaksanaan program kerja Perhimpunan Periset Indonesia (PPI) serta untuk bahan evaluasi terhadap capaian kerja dan perencanaan pelaksaan program kerja kedepan, PPI menyelenggarakan Peringatan Hari Ulang Tahun Ke-1 dan Rapat Koordinasi Nasional PPI Tahun 2022, secara hybrid, di Gedung Widya Graha, Kampus Gatot Subroto, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Rabu (21/12).

Mengusung Tema “Penguatan Profesionalitas Organisasi Profesi PPI dan Periset untuk Meningkatkan Peran Penting dalam Ekosistem RIset dan Inovasi”, dihadiri oleh pengurus pusat PPI, Majelis Kehormatan Periset, Dewan Pengawas, Dewan Pakar, dan Komisi Profesi Periset

Dalam sambutannya, Ketua Umum PPI, Syahrir Ika, menyampaikan bahwa PPI dibentuk oleh para periset pada 21 Desember 2021, yang merupakan kelanjutan dari Himpunan Peneliti Indonesia (Himpenindo) dan Himpunan Perekayasa Indonesia (Hiperindo). “PPI menaungi 11 jabatan fungsional (jabfung), sehingga menjadi organisasi profesi dari 11 jabfung yang dikelola dan BRIN menjadi instansi pembinanya,” ujar Syahrir.

“Sebagai instansi pembina, BRIN mengoordinasikan 11 jabatan fungsional, yang terdiri dari Peneliti, Perekayasa, Teknisi Penelitian dan Perekayasaan, Analis Pemanfaatan Iptek, Analis Data Ilmiah, Penata Penerbitan Ilmiah, Analis Perkebunrayaan, Teknisi Perkebunrayaan, Kurator Koleksi Hayati, Pengembang Teknologi Nuklir, dan Pranata Nuklir,” jelasnya.

Disebutkan Syahrir, tahun depan PPI menuju digitalisasi manajemen dan proses bisnis PPI secara inklusif serta desentralisasi pelaksanaan program kerja di level wilayah, selanjutnya penguatan manajemen dan tatakelola PPI wilayah.

“Selain itu, PPI juga membangun e-office, e-finance, dan virtual office, serta terus melakukan perbaikan untuk menaikkan nilai guna bagi periset,” terangnya. 

Dalam pertemuan tersebut, mewakili Kepala BRIN, Deputi Bidang Sumber Daya Manajemen Iptek – BRIN, Edy Giri Rachman Putra menyampaikan bahwa PPI adalah mitra strategis di BRIN, untuk sama-sama membangun SDM unggul ke depannya. “Peran dari PPI akan sangat penting bagaimana kita bisa menguatkan, mengembangkan, dan mematangkan talenta-talenta riset dan inovasi melalui program-programnya,” ujar Edy.

Dikatakan Edy, di usia satu tahun, PPI sudah sangat garang dalam memberikan rekomendasi kepada BRIN. PPI memberikan advokasi dengan membantu teman-teman periset lainnya untuk bisa bergabung dengan BRIN atau pun memberikan masalah-masalah yang terkait di daerah. PPI juga melaksanakan uji kompetensi bagi para peserta lainnya yang akan naik jenjang atau pun ahli jenjang

“Minggu lalu, PPI memberikan banyak masukan dalam penyusunan rancangan standar kinerja kerja nasional Indonesia (SKKNI) untuk empat bidang yaitu jabatan pekerja periset ilmiah hayati untuk mikroorganisme, hewan, dan herbarium,” urai Edy.

“PPI bersama-sama BRIN membuat sebuah standar kompetensi dalam membuat platform dasar bagi periset atau pun SDM Iptek kita secara nasional, sehingga ke depannya kita bisa bersaing secara global, sesuai visi misi PPI,” imbuhnya.

Selain itu, PPI memberikan masukan terkait dengan penegakan etika periset. “PPI masih mempunyai tantangan ke depan yaitu bergabungnnya beberapa jabatan fungsional yang memerlukan regulasi baru berkaitan dengan penyetaraan tunjangan, standar terkait dengan manajemen kinerja dan sistem kerja, serta gap kompetensi.

Edy berharap di tahun depan ada kegiatan yang berkaitan dengan pelatihan dan sertifikasi kompetensi dari periset yang ada di BRIN. Utamanya dalam rangka meningkatkan kompetensi dan kapasitas mereka.

“Pekerjaan rumah kita bersama agar PPI bisa menyiapkan lembaga sertifikasi profesi (LSP) dan bentuk pelatihan, guna meningkatkan kompetensi dari periset kita yang ada di BRIN maupun nasional,” tandasnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua PPI Kota Tangerang Selatan, Agus Sukarto Wismogroho, melaporkan kegiatan PPI Kota Tangerang Selatan Tahun 2022. Antara lain pelaksanaan musyawarah wilayah (muswil), pengukuhan, membangun jejaring potensial, dan persiapan kegiatan tahun 2023 pasca pengukuhan 

Agus menyampaikan kegiatan setelah PPI berdiri, yakni webinar, musyawarah wilayah (muswil), serah terima jabatan PPI Kota Tangsel, Pengukuhan PPI Kota Tangsel, dan aktivitas sosial media PPI Kota Tangsel. 

Disamping itu, PPI Kota Tangsel membangun jejaring seperti menjajaki kerja sama dengan pemerintah daerah. “Program organisasi tidak mungkin dilakukan tanpa berkolaborasi untuk mendapatkan hasil yang riil,” tegasnya.

PPI Kota Tangsel juga mecoba mengelaborasi dengan kelompok-kelompok masyarakat, salah satunya adalah Kelompok Sadar Wisata Tangsel (Pokdarwis). Dalam kegiatan tersebut, PPI Kota Tagnsel bersama-sama untuk mengimplementasikan teknologi ke masyarakat di wilayah sekitar KST BJ Habibie.

“Kami juga ikut pada beberapa kegiatan di Pemda dan berharap posisi kami di KST BJ Habibie bisa ikut mewarnai Kota Tangerang Selatan,” harap Ketua PPI Kota Tangsel.

Pada pengembangan Potensi Program Kerja Rencana Strategis Tahun 2023, PPI melakukan program rencana tahun depan. “Dari harapan anggota terhadap PPI Kota Tangsel adalah intinya satu yaitu apa sih yang dirasakan oleh anggota?,” ungkap Agus.

“Seperti tahun-tahun lalu, yang banyak diminta yaitu tentang fungsional dengan animonya sekitar 500-1.000 orang, tetapi masalah sains, langsung di bawah 100 orang,” ulasnya

Di dalam visi misinya, Agus menyatakan bahwa bagi yang ikut PPI Kota Tangsel maka SKP aman. “Mari bekerja bersama-sama dengan PPI (Kota Tangerang Selatan) maka SKP akan aman,” ajak Agus.

Untuk mengamankan SKP, salah satu permasalahannya adalah publikasi. “Kami sedang mengkreasikan suatu klub publikasi bersama yaitu Global Publication Club (GPC).  Bagaimana teman-teman yang sulit publikasi bisa dibantu oleh teman-teman yang ahli publikasi,” ucap Agus.

Selain itu, ia ingin PPI menjadi sahabat industri dan pemda, melakukan lingkungan hijau, serta sehat selalu. Di dalam Gerakan Kesehatan Masyarakat (germas), PPI Kota Tangsel juga ikut di dalam kegiatan senam bersama BRIN. Dirinya pun mengajak untuk menyukseskan program durian tahun 2024 dengan menanam durian di KST BJ Habibie. (hrd/ ed: adl)

Categories
Perhimpunan Periset Indonesia

Pengurus PPI Tangsel Periode 2022-2025 Resmi Dikukuhkan

Tangerang Selatan – Humas PPI. Pengurus Perhimpunan Periset Indonesia atau PPI Kota Tangerang Selatan periode 2022-2025 dilantik oleh Ketua PPI Provinsi Banten, Deni Shidqi Khaerudini di Graha Widya Bhakti, KST BJ Habibie, Selasa (20/12). Secara simbolis pengukuhan ditandai dengan pembacaan naskah pengukuhan Pengurus PPI Kota Tangsel, serta penandatanganan pakta integritas yang disaksikan oleh pengurus PPI Provinsi Banten, PPI Pusat, dan Dewan Pengawas PPI Pusat.  

Dalam sambutannya, Ketua PPI Kota Tangsel, Agus Sukarto mengatakan bahwa dirinya dan jajaran pengurus diberi amanah untuk mengolah perhimpunan periset di wilayah Tangsel. “Terutama untuk mengembangkan lingkungan riset yang lebih baik,” ujarnya.

Lebih lanjut, dijabarkan Agus, PPI Tangsel akan melaksanakan tiga tema kegiatan yang ingin dikembangkan. “Pertama, kegiatan internal yaitu penguatan sebagai periset yaitu penguatan sainsnya, publikasi, dan sejenisnya,” ujarnya. 

“Kedua adalah kegiatan eksternal, agar PPI Kota Tangsel bisa bekerja sama dengan seluruh stakeholder di wilayah Tangsel terutama dengan Pemda, universitas-universitas, dan perhimpunan-perhimpunan UMKM, dan swasta, sehingga bisa bersama-sama mengimplementasikan hasil sains dari para periset  ke masyarakat,” imbuhnya.

“Ketiga yaitu kesejahteraan dan kesehatan dengan bersama-sama mengajak teman-teman untuk selalu sehat hingga akhir hayat agar selalu sehat bersama-sama dengan PPI Kota Tangsel,” sebutnya.

Dalam tiga program tersebut, ketua PPI Kota Tangsel Periode 2022-2025 mengharapkan arahan, bimbingan, dukungan dari para dewan pakar, dewan Pembina, dan lainnya. 

Kemudian Agus berharap bersama pemda, bisa bekerja bersama-sama untuk membangun wilayah Tangsel yang lebih cerdas di masa mendatang. Berkunjung ke universitas untuk lebih lanjut mengembangkan kolaborasi bersama-sama

Dalam kegiatan tersebut, Ketua PPI Provinsi Banten, Deni Shidqi Khaerudini, menyampaikan harapannya kepada PPI Kota Tangsel untuk dapat berpartisipasi pada kegiatan PPI Pusat dan PPI Provinsi. “Semoga sering berkomunikasi dengan PPI Pusat dan terus bersinergi antara PPI Prov Banten dan PPI Kota Tangsel akan semakin memperkuat,” ucap Deni.

“Amanah kita sangat berat untuk Indonesia maju, Indonesia jaya, dan menyejahterakan rakyat Indonesia itu amanah kita” sambungnya.

Deni juga mengatakan harapannya agar PPI akan bergerak bersama dengan stakeholder yang lain. “Saya berharap teman-teman tetap solid, tetap kompak, dan semoga kepengurusan kita selama tiga tahun ke depan terutama PPI Kota Tangsel bergerak dengan baik,” harapnya.

Selanjutnya, Ketua Umum PPI Pusat yang diwakili Sekjen PPI Pusat, Sumbogo, menyampaikan visi misi PPI yang salah satunya mendorong para periset untuk dapat membantu pemerintah untuk dapat membangun ekonomi yang mana sedang mengalami penurunan ekonomi. 

“Kita bertanggung jawab dalam urusan invensi dan inovasi untuk membantu pemerintah bertahan dari ancaman krisis,  bahkan bila perlu kita tumbuh dalam ancaman krisis,” terangnya.

Sumbogo juga menyampaikan agar pengurus PPI dapat melayani anggotanya, serta memanfaatkan fasilitas yang tersedia di PPI. “Sebagi pengurus PPI, kita harus melayani anggota kita, karena menjadi pengurus PPI itu merupakan tugas mulia memiliki nilai amal dunia akhirat,” katanya.

Mewakili manajemen BRIN, Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, Haznan Abimanyu mengharapkan PPI dapat memberikan kegiatan-kegiatan yang memberikan manfaat bagi para anggotanya. “Semoga pengurus PPI Kota Tangsel yang baru ini bisa melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi anggotanya dan warga kota Tangsel,” harap Haznan.

Haznan juga mengharapkan Pemda Kota Tangsel dapat memanfaatkan keberadaan PPI di Kota Tangsel. “Keberadaan anggota PPI di Kota Tangsel merupakan para periset yang andal dan bagus, sehingga kota Tangsel dalam melakukan kegiatan atau kebijakan bisa berbasis sains dan berbasis teknologi,” terangnya.

Kemudian perwakilan Dewan Pakar PPI Kota Tangsel, Anny Sulaswatty, mengucapkan selamat kepada ketua yang baru saja dikukuhkan serta menyemangati untuk pengurus PPI Kota Tangsel dalam menjalankan kegiatan kegiatannya. “Insya Allah di bawah bimbingan anak muda, kita sama-sama dalam membangun semangat berbasis iptek,” ajak Anny. 

Profesor riset tersebut juga berharap pengurus PPI Kota Tangsel untuk dapat se-iya, seirama, walau berbeda gaya namun mempunyai tujuan yang sama.

Dalam pertemuan tersebut, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Wisata Keranggan, Alwani menyampaikan ucapan terima kasih dan berharap sebagai masyarakat PPI Kota Tangsel dapat seirama dan satu tujuan tanpa ada ego sentris. 

“Semoga PPI Kota Tangsel dapat bersama sama membangun Kota Tangsel. Kolaborasi antara pemerintah, PPI Kota Tangsel, dan Pokdarwis, untuk dapat membangun ekonomi kemasyarakatan, pengembangan SDM dan SDA yang terintegrasi. Semoga dengan adanya kolaborasi yang dapat menyelesaikan Permasalahan Kemiskinan di Kota Tangsel,” urai Alwani.

Senada dengan hal tersebut, perwakilan STKIP Sinar Cendekia, Yanto, mengucapkan selamat dan berharap dapat bersinergi dengan PPI Kota Tangsel “Mudah-mudahan PPI Kota Tangsel bermanfaat dan turut berkonribusi untuk membangun Kota Tangsel, bangsa dan negara,” harap Yanto yang kampusnya merupakan institusi non profit dan tidak berbayar.

Menutup acara pengukuhan PPI Kota Tangsel, Agus Fanar Syukri, selaku Dewan Pengawas PPI Pusat, turut menyampaikan pesan untuk pengurus. 

“Pertama, untuk dapat memahami dan melaksanakan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) dan aturan organisasi PPI. Kedua, untuk dapat memberikan manfaat kepada anggota PPI, dan juga kepada masyarakat dan seterusnya. Ketiga, semoga PPI Kota Tangsel dapat berkolaborasi aktif dengan mitra-mitra,” urai Agus Fanar.

“Selamat berjuang dan berkinerja terbaik, dan berkolaborasi dengan baik,” pungkasnya.

Sebagai informasi, dalam acara pengukuhan yang digelar secara hybrid tersebut, turut diisi dengan talkshow yang dipandu oleh Rike Yudianti selaku moderator. Hadir sebagai narasumber pertama, Tonny Soewandi, selaku kepala bidang Bappelitbangda Kota Tangerang Selatan menyampaikan gambaran umum kota Tangerang Selatan, indikator makro daerah dibandingkan dengan provinsi dan nasional, indikator makro  daerah tahun 2021 dan 2022, serta permasalahan daerah kota Tangerang Selatan. 

Sementara narasumber kedua, Lukman Shalahuddin menyampaikan materi dengan topik “Peran PPI dan BRIDA dalam Mendukung Pembangunan Daerah” dengan sub judul Penguatan dan Ekosistem Inovasi Riset Daerah. Hubungan kerja BRIN dengan pemda yaitu membangun ekosistem riset dan inovasi daerah berbasis bukti. Target BRIN dan BRIDA adalah menjadi sumber pengambilan kebijakan berbasis sains nasional dan daerah. Di dalamnya mengandung pembangunan manusia serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. (hrd/ ed: adl)

Categories
Nanoteknologi & Material

TEM Talos F200X untuk Analisis Nanopartikel dan Material Berketahanan Tinggi

Tangerang Selatan – Humas BRIN.  Penggunaan alat karakterisasi Transmission Electron Microscope (TEM) di Indonesia memasuki babak baru dengan hadirnya S/TEM Talos F200X. Memperkenalkan kepada seluruh periset dan calon pengguna TEM di Indonesia, bahwa BRIN telah memiliki alat TEM, yang akan mulai aktif dioperasikan awal tahun 2023. 

Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material (ORNM) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), kembali menghadirkan narasumber untuk memaparkan dua topik utama, yaitu TEM untuk Analisa Nanopartikel dan TEM Analisis untuk Material Berketahanan Tinggi, pada Webinar Ornamat ke-19 Edisi Khusus TEM, Selasa (13/12). 

Kepala ORNM BRIN, Ratno Nuryadi dalam pembukaan menginformasikan bahwa webinar khusus ini untuk memberikan refreshment dan penguatan kepada periset, baik dari sisi pengetahuan-pengetahuan dasar  sampai aplikatif, termasuk pembinaan. 

“Mudah-mudah dengan informasi ini, dapat menjadi bekal bagi periset untuk menggunakan alat karakterisasi yang andal dan ampuh, karena TEM bisa melihat struktur yang sangat kecil hingga struktur atom,” harapnya.

Dalam rangka memaksimalkan penggunaan TEM, Ratno menyampaikan akan berkolaborasi dengan berbagai pihak. “Kami akan berkolaborasi dengan dalam maupun luar negeri (Jerman, India dan Malaysia), sehingga bisa mempertajam fokus penelitian serta mengirimkan periset untuk studi lanjut mendalami TEM dengan berbagai skema yang ada, baik Degree by Research (DBR) maupun program reguler,” terangnya. 

Pada sesi pemaparan, Riza Iskandar dari Thermo Fisher Scientific menyampaikan  bahwa pada tahun ini BRIN menginstalasi peralatan TEM dengan tipe Talos F200X yang memiliki keunggulan untuk melakukan analisis sampai ke struktur atom. 

“Dengan menggunakan TEM, kita bisa mendapatkan atau memperbesar obyek gambar yang ingin kita lihat dengan ukuran yang sangat besar. Obyek tersebut yang mungkin ukurannya kurang dari satu nanometer atau pun sangat kecil, yang tidak dapat kita lihat dengan mata kita, yang tidak bisa kita lihat dengan mikroskopik, tetapi kita melihat dengan menggunakan TEM ini,” ucap Riza.

“Keunggulan TEM berikutnya adalah juga bisa dipergunakan untuk mendapatkan informasi terkait dengan struktur, yang dalam hal ini tidak hanya kita tahu bagaimana obyek diperbesar dan bisa kita tahu apa yang ada di dalam obyek tersebut,” tambahnya.

Riza mengatakan, dengan kemajuan teknologi dan kebutuhan yang lebih mendalam, maka alat TEM yang ada di pasaran saat ini tidak hanya berhenti dalam komposisi konvensional saja, tetapi hampir semua sudah memiliki fungsi yang disebut Scanning TEM (STEM). 

Menurutnya, kemampuan dari Scanning TEM (STEM) itu merupakan fitur yang paling utama menjadikan Talos F200 X berada dalam kondisi di depan dibandingkan dengan kompetitor yang lain. Ia berharap kondisi ini tidak perlu dijadikan suatu persaingan. 

“Beberapa laboratorium yang memiliki alat TEM yang tidak memiliki fungsi tertentu ketika melakukan penelitian, bisa melakukan kolaborasi dengan laboratorium lain yang memiliki kemampuan yang lain juga,” ulasnya. (hrd,jp/ed:adl)

Categories
Nanoteknologi & Material Riset & Inovasi

Komitmen BRIN bersama KLHK dan UNDP untuk Pertambangan Emas Rakyat Bebas Merkuri

Jakarta – Humas BRIN. Sejalan dengan komitmen pemerintah untuk pengurangan dan penghapusan penggunaan merkuri di lokasi Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan United Nations Development Program (UNDP) dalam pelaksanaan “Global Opportunities for Long-term Development of Artisanal and Small-scale Gold Mining (ASGM) Sector (GEF-GOLD): Integrated Sound Management of Mercury in Indonesia’s ASGM (ISMIA) Project” atau proyek GOLD-ISMIA.

Proyek GOLD-ISMIA bertujuan mengurangi dan menghapus penggunaan merkuri di sektor PESK di Indonesia, melalui penyediaan bantuan teknis, alih teknologi, dan akses terhadap pembiayaan untuk peralatan pengolahan emas bebas merkuri. Dalam rangka sosialisasi produk GOLD-ISMIA sebagai acuan para pihak untuk menjadikan sektor PESK yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan, maka diselenggarakan rapat persiapan ‘Workshop dan Pameran Diseminasi Hasil Proyek GOLD-ISMIA’, pada Selasa (29/11).

Dadan M. Nurjaman selaku Perekayasa Ahli Utama BRIN dan DNPD GOLD-ISMIA Project, menyampaikan sekilas bahwa tahun 2013 disahkan Konvensi Minamata mengenai merkuri dalam sebuah konferensi Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) di Provinsi Kumamoto, Jepang. Konvensi tersebut memutuskan seluruh negara PBB menyepakati rencana pengurangan dan penghapusan merkuri dari berbagai sektor.

Hingga kini, Dadan dan tim sudah meneliti sekitar 13 sektor yang menghasilkan merkuri di Indonesia dan yang paling besar adalah di sektor Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK). “Sampai setahun, PESK menghasilkan kurang lebih 140 ton yang dirilis ke lingkungan. Sedangkan sektor lainnya antara lain PLTU batubara, migas, dan juga dari sektor kesehatan,” jelasnya.

Pemerintah menuangkan dalam Perpres Nomor 21 Tahun 2019 yang mengatur tentang Rencana Aksi Nasional Pengurangan dan Penghapusan Merkuri (RAN PPM). Pada peraturan ini juga mewajibkan daerah untuk membuat Rencana Aksi Daerah (RAD) di tiap daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota sebagai tindaklanjut pelaksanaan RAN PPM.

“Sebagaimana diatur dalam RAN PPM pada bidang prioritas PESK ditargetkan zero merkuri sebelum adanya kebijakan RAN PPM di tahun 2025,” sebut Dadan. 

Proyek Gold-ISMIA kerja sama antara UNDP, KLHK, dan BRIN bertujuan mengurangi dan menghilangkan penggunaan merkuri di PESK dengan cara memberikan bantuan teknis, transfer teknologi, pembentukan kemitraan antara swasta – publik dan akses pendanaan untuk pembelian peralatan pengolahan emas tanpa merkuri. “Program ini tidak dilaksanakan sendiri, tapi dilaksanakan oleh 8 negara yang dianggap menghasilkan merkuri dalam jumlah yang signifikan, khususnya di pengolahan emas oleh penambang rakyat,” urai Dadan.

Proyek GOLD-ISMIA ini difokuskan pada enam lokasi, yaitu di Pulau Obi (Sulawesi Utara), Minahasa Utara (Sulawesi utara), Kulon Progo (Yogyakarta), Kuantan Singingi (Riau), Lombok (NTB), dan Gorontalo Utara (Gorontalo). 

“Dalam kegiatan lima tahun ini, ada enam lokasi proyek dalam upaya memberikan pelatihan, percontohan, pendampingan, dan sebagainya, agar mereka beralih dan berkesinambungan berkelanjutan programnya,” tuturnya.

Teknologi BRIN dalam Proyek GOLD-ISMIA

Dadan mengatakan, dengan pelarangan merkuri bukan berarti mata pencahariannya putus. Salah satu keberhasilan adalah bisa beralihnya teknologi yang awalnya menggunakan merkuri menjadi non merkuri. 

“Peran BRIN sebagai lembaga riset mengintervensi teknologi supaya mereka beralih ke teknologi yang bukan merkuri. Dengan enam lokasi proyek, kami memberikan pelatihan, percontohan, pendampingan, dan sebagainya, agar mereka beralih dan berkesinambungan berkelanjutan programnya,” ulas Dadan.

Ditambahkan olehnya bahwa dari sisi teknologi, ada beberapa kunci keberhasilan dengan pendampingan yang tidak hanya semata-mata pada pengetahuan akademis yang dibawa, tetapi memahami bagaimana kearifan lokal dari pertambagan emas rakyat itu.

“Menggabungkan antara pengetahuan teknis dengan kearifan lokal, itulah kunci keberhasilan sehingga bisa berkelanjutan, karena sebenarnya sudah 30 tahun upaya ini dilakukan di dunia dan banyak yang gagal juga karena tidak memperhatikan pengetahuan teknis dengan kearifan lokal,” jelasnya.

Dari sisi formalisasi, yang akan dilakukan pembinaan adalah pertambangan emas rakyat yang berada di Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) dan mempunyai Izin Pertambangan Rakyat (IPR). Pendampingan formalisasi dilakukan terhadap proses kebijakannya yang terdapat rencana aksi nasional (RAN) juga rencana aksi daerah (RAD). 

Selain itu, termasuk upaya agar rakyat bisa secara kelompok membangun usahanya, maka dibentuk koperasi juga. ”Di dalam koperasi diberikan pelatihan bagaimana administrasinya, manajemennya, keuangannya, termasuk ada yang disebut mendapatkan semacam hibah kecil untuk koperasi yang digunakan untuk membeli modal peralatan unit pengolahan, ada yang dibangun infrastruktur kantor, dan lain-lain. Itu sudah berjalan juga. Jadi dari berbagai aspek ini, diimplementasikan di dalam project GOLD-ISMIA,” jabarnya.

“Proyek ini tidak hanya berorientasi pada proses penambangan tanpa merkuri, namun juga pendekatan formalisasi dan kesejahteraan bagi para penambang, dan tidak lupa juga melibatkan kesetaraan gender,” tegasnya.

Senada dengan Dadan, perekayasa BRIN Haswi Purwandanu Soewoto mengatakan bahwa BRIN menyiapkan teknologi sebagai pengganti merkuri. “Jadi pada dasarnya kami mempunyai proyek tentang bagaimana mengkaji pengolahan emas yang tidak menggunakan merkuri, peralatan lab kami juga komplit, dan setelah itu kami kaji untuk tipe emas,” ungkapnya.

“Ada dua tipe emas, yaitu primer dan sekunder. Untuk emas primer, bisa menggunakan teknologi bleaching atau pengikisan yang murah dengan beberapa bahan kimia yang lebih aman, antara lain sianida, yang dapat didestruksi secara cepat dan limbahnya bisa dikelola, sehingga tidak berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan, sementara untuk tipe emas sekunder bisa dengan teknik gravitasi,” lanjut Haswi.

Terkait hal tersebut, hasil proyek GOLD ISMIA telah dirasakan manfaatnya oleh para penambang PESK, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah di Indonesia, sekaligus mendukung pencapaian Aksi Nasional Pengurangan dan Penghapusan Merkuri. Dadan dan tim berharap dengan pelaksanaan diseminasi ini dapat diinformasikan ke seluruh pemangku kepentingan, sehingga manajemen pengetahuan GOLD-ISMIA Project bisa dijadikan acuan atau model di tempat lain. (hrd/ ed: adl)

Categories
Riset & Inovasi

Cerita Peserta Kegiatan 5 Hari BRIN-LDE Academy

Tangerang Selatan – Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan tiga univesitas Belanda LDE (Leiden, Delft, dan Erasmus) mengadakan acara yang dilaksanakan selama lima hari (31 Oktober – 4 November 2022), yang terdiri dari kuliah, workshop, field trip, pertemuan, dan diskusi.

Sebagai peserta yang mempunyai ambisi yang tinggi, tentu mempunyai masukan maupun harapan besar ke depannya pada BRIN-LDE Academy. Bagaimana pengalaman mereka, ilmu apa yang didapat, apa yang bisa membantu mereka, apakah ada potensi kerja sama baik dari BRIN atau pun dari akademisi universitas di Indonesia? Berku

Pada kelas Smart Cities and Digital Transitions, peserta Rahman Priyatmoko, Pusat Riset (PR) Kewilayahan – BRIN mengatakan pelaksanaan BRIN-LDE Academy 2022 sudah berjalan dengan baik dengan dijalankan secara mandiri oleh PR Kependudukan. Waktu diskusi dengan para pengajar karena ada beberapa acara yang sifatnya seremonial yang menurutnya kurang perlu. 

“Misalnya di hari ketiga ada audiensi dengan LDE yang memanfaatkan program IPSH, yang waktunya bisa lebih digunakan untuk memaksimalkan diskusi mengenai paper yang kita tulis. Atau ouput yang ingin dicapai harus lebih jelas,” jelasnya. 

“Manajemen waktunya harus perlu diperhatikan, seperti dikurangi acara-acara seremonial pada program Academy lima hari ini,” ujar Priyatmoko atau Moko.

Moko mengungkapkan bahwa ada beberapa peserta yang ingin belajar di luar negeri, baik di Belanda maupun di negara Eropa lainnya. “Untuk itu sangat perlu untuk berlatih bagaimana cara berkomunikasi dengan pengajar dari luar negeri, sehingga jadi mengetahui gaya mereka seperti apa,” kata Moko. 

“Kemudian kita berlatih juga berbicara dalam Bahasa Inggris dan mungkin bahasa asing lainnya. Hal ini menjadi feedback bagi BRIN sendiri untuk program Bahasa Inggris bagi penelitinya,” imbuhnya.

“Kalau kita bekerja sama dengan peneliti dari luar maka proposal dari bisa jadi contoh karena kita belum mempunyai kemampuan yang sama dan kita berbeda tingkatannya antar para peneliti,” tambahnya.

Moko berharap agar program ini terus dilaksanakan secara rutin maka akan lebih bagus. 

Menurutnya, untuk riset tergantung dengan metode yang digunakan, tidak masalah digunakan di Indonesia atau pun di luar negeri. “Metode itu sifatnya universal, mau menggunakan metode A di tempat di mana saja tidak masalah, untuk perbedaan riset tidak ada masalah antara periset Indonesia dengan luar negeri,” ujarnya.

Ia mengatakan bahwa para peserta ikut ke acara Academy dengan membawa paper dan selama di sini peserta harus membentuk tim untuk menyusun proposal. “Dari proposal yang kita susun ini, kerja kelompok itu, berkaitan dengan komunitas atau kelompok khusus dan teknologi selama pandemi kemarin,” jelas Moko.

Sementara pada kelas Health in the City, peserta Nur Aliyah, PR Pendidikan mengatakan BRIN-LDE Academy 2022 menyenangkan. “Karena kita dapat pengetahuan baru dari fasilitator dalam negeri dan luar negeri. Kita bisa menambah jejaring dengan bertemu banyak peneliti dari luar BRIN. selain itu untuk lokasinya dan penjajar sudah bagus,” terangnya.

Baginya, acara selama lima hari untuk proposal writing dirasa kurang, tetapi untuk program pertama kali sudah bagus. “Untuk ke depannya bisa ditingkatkan lagi dan pendalaman yang lebih dalam lagi karena di sini kita diberikan banyak ilmu,” ucap Nur. 

“Di kelas, kami mengerjakan topik tentang Health in the City. Saat ini kami diminta untuk membuat proposal yang rencanakan untuk diajukan ke Rumah Program IPSH (Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora) – BRIN. Untuk kerja samanya kita bertemu dengan teman baru dari luar BRIN seperti dari Kementerian, Universitas, dan Universitas dari luar negeri,” tuturnya

Fitri Arlinkasari, Dosen Fakultas Psikologi, Universitas YARSI Jakarta, memiliki kesan sangat positif dengan program Academy karena sekarang trennya di Indonesia sedang sangat berkembang dan juga sedang menggalakkan kolaborasi dengan lintas institusi, lintas disiplin ilmu, sehingga ia merasa kegiatan ini bisa memfasilitasi semua kebutuhan kolaborasi tersebut.

“Menurut saya dalam penyelenggaraan bisa lebih fokus. Panitia bisa lebih membuat pemetaan pada minat-minat yang berpartisipasi di sini, sehingga ketika dikelompokkan dalan satu diskusi sudah bisa lebih jelas dan terarah mau ke mana ide-ide tersebut bisa diartikulasikan dalam bentuk proposal atau pun artikel,” terang Fitri. 

“Dalam riset, kita sama-sama mempunyai target yang kurang lebih mirip, peneliti dari luar pun termotivasi untuk bisa terpublikasi di jurnal-jurnal terindeks Scopus. Kita punya satu goal yang sama untuk bekerja sama berarti goal kita satu. Itu hal yang positif dalam berkolaborasi,” lanjutnya.

Lebih lanjut Fitri menjelaskan bahwa kita sudah pada tahap yang sama baik peneliti dalam negeri maupun penelit luar negeri sama-sama mengapresiasi keunikan lokal masing-masing. “Kita tidak lagi berbicara bahwa good practice dari luar bisa juga diterapkan di Indonesia, tetapi kita juga mempunyai keunikan atau kelebihan masig-masing yng bisa menunjang pengembangan dalam negeri sendiri juga,” ucap Fitri.

“Penelitian tidak ada lagi bahwa negara ini lebih baik dari negara lain, tetapi sudah pada sikap bisa  mengembangkan dengan cara kita sendiri,” tambahnya. 

Kemudian dari segi akses database, menurut Fitri pemerintah masih perlu memberikan kemudahan akses bagi para penelitinya untuk akses jurnal berbayar. “Saya sendiri merasakan waktu kuliah di luar ngeri untuk aksesnya luar biasa banyak dan sangat mudah, sehingga kita mau menulis artikel pun juga sangat terfasilitasi dengan akses tersebut,” cakapnya.

Ia pun berpesan mudah-mudahan kedepannya baik BRIN maupun pemerintah secara umum dapat menyediakan akses yang lebih baik.

Pada kelas Urban Diversity, peserta Tatang Rusata, PR Masyarakat dan Budaya – BRIN mengatakan acara ini sangat menarik karena  di acara ini kita terbuka kolaborasi yang tidak hanya peneliti dari BRIN baik berbeda pusat riset, berbeda organisasi riset, kemudian dengan universitas, tetapi juga peneliti-peneliti dari luar negeri, terutama dari negara-negara Eropa karena di LDE Academy ini tidak hanya dari Belanda juga dari negara Eropa lainnya.

Tatang berharap agar acara ini bisa dijadikan suatu acara yang rutin baik satu tahun atau dua tahun sekali. “Acara ini terjadi kolaborasi, juga menambah skill kita dalam hal penelitian, termasuk tema-tema kontemporer yang bisa kita dapatkan dengan adanya interaksi dengan para peneliti Indonesia, dan terutama foreign researcher,” ujarnya.

“Kita bisa berperan di penelitian tingkat global, acara ini terbuka membuat jejaring selain dari dalam negeri juga dengan peneliti-peneliti dari luar negeri,” imbuhnya. 

Dalam acara BRIN-LDE Academy  2022, ada program membuat artikel, sehingga semakin terbuka untuk diterbitkan artikel di jurnal internasional 

Tatang mengusulkan bagaimana keberlanjutan acara ini, karena sudah membuat proposal. “Untuk acara BRIN-LDE Academy 2022, kita tidak diwajibkan untuk membuat proposal, karena untuk membuat proposal masih membutuhkan waktu yang lama,” ungkapnya. 

Tatang pun berharap pelaksanaan BRIN-LDE Academy 2022, terbuka kemungkinan proposal ini akan membuka kesempatan untuk bekerja sama dengan peneliti lain.

Peserta Hastangka, PR Pendidikan – BRIN mengatakan kegiatan ini penting sekali khususnya karena: Pertama, untuk mengembangkan kapasitas peneliti (SDM Iptek) di Indonesia baik peneliti internal BRIN, di luar BRIN seperti Universitas, peneliti yang sifatnya independen, menjadi proses-proses penting penguatan kapasitas peneliti di Indonesia karena kita belajar atau saling memahami konteks tema-tema riset yang berkembang di negara atau kawasan kita-kita, dan tiga universitas di Belanda: Leiden, Delft, dan Erasmus.

“Kita bisa mempelajari para peneliti Eropa itu seperti apa dalam membangun ide, gagasan, kemudian tema-tema yang dirumuskan, current issue yang diangkat sehingga kita saling belajar dan memahami ,” ungkap Hastangka atau Has.

Kedua adalah kita belajar bagaimana cara menulis artikel akademik yang dapat diterima oleh konsumsi internasional. “Hal ini selalu – terus menerus kita mencoba mempelajari dan melihat tren-tren dan perkembangan penulisan dan karya tulis akademik yang dapat diterima di komunitas internasional itu seperti apa dalam konteks isi, tema, judul, kemudian cara menulisnya,” tegasnya.

Ditambahkan olehnya ada poin bisa mengenal dengan peneliti satu dengan yang lain dari berbagai pusat riset maupun dari berbagai perguruan tinggi, termasuk peneliti dari luar negeri. 

“Nah, ini yang menjadi proses-proses penting bagaimana membangun kolaborasi, tetapi kolaborasi kita tidak hanya nasional juga internasional. Ini menjadi peran penting SDM Iptek kita untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas untuk memajukan pengetahuan dan kualitas riset di Indonesia,” jabarnya. 

“Kami mendapatkan interaksi secara intensif tidak secara umum, tetapi kami bisa mendapatkan diskusi satu per satu dari para peneliti dan kami berinterkasi satu dengan yang lain,” kesan Has.

“Keberlanjutan dari program ini akan seperti apa dan bagaimana kebijakan-kebijakan akan diterapkan, dan interaksi antar peneliti internasional dan nasional itu akan seperti apa model dan formatnya,” pesannya.

Dirinya berharap apa yang peserta tulis harusnya bisa diterbitkan dan dipublikasikan dengan pendampingan tuntas. “Tidak sekedar kami dapat masukan dan komentar yang pernah kami ajukan dan kami tulis, tetapi harus sampai produk akhir publikasi apakah itu dalam bentuk buku, prosiding, artikel jurnal. Ini harus dapat kepastian dari penyelenggara bahwa kita bicara product knowledge harus ada wujud kongkrit dari kegiatan ini, yakni produksi pengetahuan lewat publikasi agar menjadi angkah awal menjadi contoh kepada program-program berikutnya,” urai Has. 

“Tidak sekedar interaksi, tetapi  ada produk yang kongkrit yang nanti para peserta bawa pulang untuk dibaca kembali,” jelasnya.

Pada kelas Sustainable Cities and Energy, peserta Priya Alfarizki Baskara, Arsitektur Universitas Indonesia mengatakan program ini merupakan hal yang menarik dan bukan berangkat dari akademisi karena ini suatu hal yang baru serta peluag yang luar biasa karena untuk biayanya hampir tidak ada. “Mungkin ini suatu langkah dari negara untuk mencoba membuat kolaborasi dari dari tiga universitas di Belanda, yaitu Leiden University, Delft University of Technology, dan Erasmus University Rotterdam,” ujarnya.

Bagi Priya ini menarik bisa ada kerja sama mendapat perspektif lain dari orang-orang Eropa dalam akademis itu sendiri. 

“BRIN-LDE Academic 2022 merupakan program akademik awal, jadi program ini sudah baik dari segi waktu dan penyelenggaraan,” ujarnya.

“Untuk perwujudan dari hasil kerja sama mungkin tidak hanya berhenti di atas kertas, mungkin bisa diaplikasikan, bisa menjadi saran pemerintah, dan bentuk penyampaian aspirasi ke industri, dan sebagainya,” saran Priya.

Dalam program ini Priya melakukan riset tentang ‘Material Berkelanjutan’ yaitu mencoba menginvestigasi terkait karbon pada material beton itu dengan pendekatan biomimetik. Ia melakukan diskusi dengan meminta feedback atau dari kasusnya. (hrd/ ed. adl)

Categories
Nanoteknologi & Material Riset & Inovasi

Perbarui Data Pemanfaatan Pertambagan, Kemenperin Jajaki Kolaborasi dengan BRIN

Tangerang Selatan, Humas BRIN. Direktorat Industri Semen, Keramik, dan Pengolahan Bahan Galian Non Logam, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melakukan kunjungan ke Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material (ORNM) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam rangka penjajakan memperbarui progres pemanfaatan penambangan, Rabu (26/10). 

Dalam pertemuan ini, Kepala ORNM diwakili oleh Kepala Pusat Riset Teknologi Pertambangan (PRTPb), Anggoro Tri Mursito. Sementara dari Direktorat Industri, Semen, Kermaik dan Pengolahan Bahan Galian Non Logam, Kemenperin diwakili Mayzaky serta didampingi oleh konsultan dari PT Pasade Utama.

Pada sesi diskusi, Anggoro Tri Mursito menjelaskan pusat riset ORNM yang berada di kawasan sains dan teknologi (KST) BJ Habibie. “Kami di sini ada beberapa pusat riset yang hadir luring, ada dari perwakilan kelompok riset Pusat Riset Teknologi Pertambangan, Metalurgi, Kimia Maju, dan Material Maju berlokasi di KST BJ Habibie, Tangerang Selatan. Ada pula peserta yang hadir secara daring dari beberapa lokasi, diantaranya Babarsari Yogyakarta, Tanjung Bintang Lampung, dan Cisitu Bandung,” terangnya.

Selain itu, Anggoro menyampaikan profil riset pertambangan ORNM setelah satu tahun keberadaan BRIN. Mulai dari proses bisnis, perkembangan progres dari fundamental riset, sampai ke ekonomi di bidang spesial pasir kuarsa maupun untuk kuarsit. “Kami akan perbarui lagi, sehingga kita dapatkan gambaran, kajian, penelitian, maupun ekonomi yang terkini,” tambahnya

“Kami berkunjung ke BRIN untuk mengetahui adanya kajian mengenai proses pengolahan Nano Silika menjadi Sel Surya,” ujar Mayzaky. “Selain itu, kami mengharapkan adanya ouputnya lebih dulu, pertama adanya komunitas dari Nano Silika, yaitu hilirisasi industri dan teknologi pengolahannya yang berkaitan saat ini, sehinga kami datang ke BRIN, kemudian data-data dan entitas silika menjadi tersedia,” jelasnya.

Ditambahkan oleh Mayzaky, kajian bersama BRIN merupakan salah satu rangkaian kegiatan dari kajian Kemenperin, dan PT Pasade membutuhkan beberapa data dalam menyusun kajian.

Senada dengan Mayzaky, Agung Nugroho dari PT Pasade menjelaskan bahwa perusahannya ditunjuk oleh Kemenperin, untuk melakukan kajian tentang silika, terutama pengolahannya untuk sel surya. 

PT Pasade mengambil sampel di empat provinsi yaitu provinsi Banten, Medan, Bangka Belitung, dan Kalimantan Tengah. “Kami dapatkan bahwa pasir silika tidak efesien sebagai bahan baku sel surya. Kandungan pasir kita luar biasa sudah diekplorasi dan sudah diolah, tetapi kami menemukan bahwa pasir silika tidak efesien digunakan sebagai bahan baku sel surya, menurut versi yang kami pelajari dari Balai Pengujian Mineral,” ungkapnya.

“Pasir silika ini akan terbentuk fume silika sehingga tidak efisien, sedangkan yang efsien adalah kuarsit,” tambahnya.

PT Pasade belum menemukan cukup informasi atau data tentang kuarsit walaupun ada di Sumatra Barat dan Aceh, tetapi sebatas sumber daya yang belum menjadi cadangan dan perekonomiannya. PT Pasade ingin menggali lebih lanjut ke BRIN terkait pengujian-pengujian kuarsit tersebut. 

“Sebagai informasi pasir silika tidak efesien, tetapi tetap saja pasir silika menurut Telnologi Mineral dan Batubara (Tekmira) bisa digunakan sebagai Metallurgical Grade Silicon (MGSI) yang berguna untuk bahan kimia, paduan, dan sebagainya. 

“Menjadi pekerjaan rumah bagi Kemenperin adalah pasir silika apakah layak diolah menjadi MGSI atau beralih ke kuarsit seperti versinya Tekmira. Untuk itu, diharapkan di lingkungan BRIN, sudah ada penelitian-penelitian lain tentang pasir silika dan sebagainya,” tuturnya.Di akhir diskusi Anggoro mengatakan bahwa BRIN akan mengidentifikasi pemanfaatan nano silika bersama stakeholder yang lain. “Setelah BRIN mengindetifikasikan seluruh badan litbang, periset-periset Kementerian dan Lembaga, termasuk dari Tekmira dan Balitbang, Kementerian EDSM yang telah bergabung, kami akan paham betul untuk kajian ini,” ucapnya. (hrd/ ed. ls, adl)

Categories
Nanoteknologi & Material Riset & Inovasi

Metode SCC-DFTB untuk Komputasi Kerangka Kerja Kimia Kuantum

Tangerang Selatan, Humas BRIN. Pusat Riset Fisika Kuantum – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyelenggarakan Kolokium Fisika Kuantum BRIN, pada Jumat (9/9). Kolokium daring yang diangkat adalah SCC-DFTB Method for Computational Quantum Chemistry Framework oleh Wahyu Dita Saputri dari PR Fisika Kuantum.

Dita mengatakan metode SCC-DFTB (Self Consistent Charge – Density Functional Tight Binding) merupakan metode komputasi yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi sifat struktur dan dinamika dari suatu material atau senyawa kimia. “Metode SCC-DFTB merupakan aproksimasi dari metode DFT sehingga dapat mengakomodir sifat struktur elektronik suatu material/senyawa,” papar alumnus S3 UGM.

Dirinya menjelaskan kelebihan dari metode SCC-DFTB adalah proses perhitungannya yang relatif lebih cepat dibandingkan metode ab initio. “Metode ini dapat diaplikasikan pada beberapa framework, seperti kalkulasi energi, dinamika elektron, transfer elektron, dinamika molekuler, dan lain-lain,” jelas periset kelahiran tahun 1993.

Sebagai informasi, acara Kolokium yang diikuti oleh mahasiswa, dosen, dan peneliti ini diselenggarakan dua kali setiap bulannya, dengan menghadirkan pembicara dari internal  PR Fisika Kuantum BRIN maupun pembicara tamu dari luar BRIN. Topik yang disajikan sangat beragam terkait berbagai fenomena kuantum, baik dari ranah fundamental, hingga aplikasi teknologi dari cabang fisika partikel hingga ke fisika material. (hrd/ ed: adl)

Categories
Nanoteknologi & Material Riset & Inovasi Uncategorized

Aplikasi Material Metal Oksida Nanostruktur untuk Produksi Hidrogen Ramah Lingkungan

Tangerang Selatan, Humas BRIN. Gerald Ensang Timuda, periset Pusat Riset Material Maju – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pada Selasa (16/7) mempresentasikan risetnya berjudul “Aplikasi Material Metal Oksida Nanostruktur untuk Produksi Hidrogen Ramah Lingkungan”. Topik riset tersebut dipresentasikan pada webinar ORNAMAT seri #7 tahun 2022 di lingkungan  Organisasi Riset Nano Teknologi dan Material BRIN

Dalam paparannya, Gerald menyampaikan alasan melakukan riset material nanostruktur untuk produksi hidrogen. Gerald menjelaskan bahwa riset ini merupakan salah satu bagian dari upaya untuk menciptakan Energi Baru dan Terbarukan (EBT). “Penggunaan energi berbasis fosil di Indonesia ketersediaannya semakin menipis dan juga polusi yang dihasilkan, sehingga diperlukan upaya efisiensi dan alternatif sumber energi baru,” ujarnya.

“Kami memilih hidrogen sebagai salah satu solusi bahan bakar, karena kita memiliki teknologi berbasis hidrogen untuk menghasilkan listrik yang kita kenal dengan fuel cell. Teknologi ini hanya menghasilkan produk samping berupa air, uap air dan panas, jadi sangat ramah lingkungan,” tutur Gerald.

Bagaimana Hidrogen Diproduksi?

Hidrogen dapat diperoleh dengan berbagai macam metode. Yang paling umum digunakan disebut Steam Methane Reforming. Prosesnya adalah dengan mereaksikan gas metana dengan uap air (steam)  bersuhu tinggi (700 – 1000 oC) pada tekanan sekitar 3-25 bar. Tetapi permasalahan dari metode ini adalah gas metana berasal dari gas alam yang berarti masih termasuk sumber bahan bakar fosil, dan dalam prosesnya menghasilkan gas-gas rumah kaca seperti CO dan CO2 selain gas hidrogen. 

Metode popular lain adalah elektrolisis air. Molekul air (H2O) dipecah menjadi gas oksigen (O2) dan gas hidrogen (H2) menggunakan energi listrik. Permasalahan utama dari proses ini adalah energi yang dibutuhkan untuk memecah air menjadi gas hidrogen dan oksigen selalu lebih tinggi dibandingkan proses sebaliknya. Sehingga, tidak masuk akal jika hidrogen hasil elektrolisis air dijadikan sumber energi listrik.

“Oleh karena itu, perlu digunakan sumber energi lain untuk memecah molekul air”, ujar Gerald. Metode yang dikembangkan oleh Gerald dan timnya adalah dengan memanfaatkan energi surya sebagai sumber energinya, yang dikenal dengan sistem Photoelectrochemical Water Splitting.

Permasalahan Intermittency

Konversi energi surya umumnya menjadi listrik menggunakan sel surya (solar cell). Tetapi ada permasalahan intermittency. Yaitu, energi matahari bersinar siang hari, tetapi kebutuhan energi yang sangat tinggi itu terjadi di malam hari. Jadi tidak ada ketidakcocokan di sini. 

Ketidakcocokan kebutuhan energi ini membutuhkan adanya teknologi sekunder seperti teknologi baterai untuk menyimpan listrik hasil konversi sel surya. Alternatif lain adalah penyimpanan energi dalam bentuk gas hidrogen. Hidrogen bisa dikonversi kapan saja menjadi listrik kembali menggunakan piranti seperti fuel cell, sehingga bisa mencukupi kebutuhan energi di waktu-waktu ketika pasokan energi matahari tidak ada atau kurang optimal.

Pasokan energi dari matahari cukup melimpah

Penggunaan energi surya untuk produksi hidrogen sangat potensial karena pasokan energi dari matahari sangat berlimpah. Pasokan energi matahari ke permukaan bumi dapat mencapai 10.000 kali konsumsi energi global. Oleh karena itu, secara ideal, jika sumber energi dari matahari ini bisa dikonversi dengan priranti yang memiliki efisiensi 10%, maka perlu menutupi permukaan bumi sebesar 0,1 % saja untuk dapat mencukupi kebutuhan energi global. Dalam skala lokal, menutupi daerah kurang lebih seluas ibu kota baru, cukup untuk memenuhi kebutuhan energi nasional. 

Produksi Hidrogen dengan Energi Surya

Gerald dan tim memproduksi hidrogen sendiri dengan bantuan energi surya yaitu menggunakan energi matahari ini sendiri, untuk mengaktifkan salah satu elektroda dari alat elektrolis air. “Dengan elektroda ini yang menyerap energi dari matahari dan memecah hidrogen atau oksigen yang ada di air secara langsung,” menurut Gerald.

Terknologi ini, Gerald dan tim menamakan sistem Photoelectrochemical (PEC) Water Spliting, yang sedang dikembangkan dalam beberapa tahun terakhir.

Prinsip PEC Water Spliting

Prinsip PEC Water Spliting adalah, saat cahaya matahari yang masuk ke sistem maka cahaya matahari akan diserap oleh suatu material aktif (fotoabsorber). Material fotoabsorber di sini adalah material semikonduktor yang memiliki level energi konduksi dan valensi yang bersesuaian dengan level energi reduksi maupun oksidasi air sehingga mampu menghasilkan gas hidrogen dan oksigen. 

Setelah energi cahaya diserap oleh material absorber sebagai foto-anoda, elektron yang ada di level valensi dari material tersebut akan tereksitasi menuju level konduksi, dan meninggalkan hole di level valensi. Hole ini akan mengoksidasi air sehingga molekul air terpisah menghasilkan gas oksigen dan ion H+. Elektron tereksitasi di level konduksi akan dikeluarkan ke rangkaian eksternal menuju katoda, dan digunakan untuk mereduksi ion H+ dan menghasilkan gas hidrogen.  

Mengapa Perlu Nanostruktur?

Struktur nano sangat dibutuhkan agar bisa diperoleh luas permukaan yang tinggi sehingga semakin banyak lokasi terjadinya reaksi pemecahan air. Oleh karena itu, perlu dipertimbangkan pula sifat listrik material setelah menjadi struktur nano.

Hambatan listrik bisa menjadi lebih tinggi setelah berstruktur nano dibandingkan bulk-nya, misalnya untuk jenis mesoporous nanoparticle. Hal ini mengakibatkan berkurangnya elektron yang tersedia untuk reaksi reduksi air sehingga produksi hidrogen juga menurun.

“Untuk meningkatkan sifat listrik, pengembangan struktur 1D atau 2D seperti nanorod atau nanosheet menjadi pilihan, meskipun dengan trade-off luas permukaan yang semakin kecil,” ujar periset muda ini.

Nanostruktur Metal Oksida di PEC Water Splitting 

Beberapa contoh aplikasi nanostruktur untuk beberapa jenis material metal oksida, antara lain:

Zinc oxide atau seng oksida (ZnO)

Pada paper Electrochemistry Communications 13 (2011) 1383-1386, dijelaskan perbedaan antara dua nanostruktur ZnO untuk PEC Water Splitting, yaitu nanotube dan nanosheet. Nanosheet menghasilkan photocurrent yang lebih tinggi dari nanotube. Respon photocurrent adalah respon arus yang dihasilkan ketika foto-anoda semikonduktor disinari cahaya. Ini adalah salah satu cara mendeteksi sifat foto-anoda yang baik.

Paper Nano Energy 20 (2016) 156-167 juga mempelajari perbedaan berbagai nanostruktur ZnO, dan dalam hal ini orientasi kristal dari permukaan material yang terekspos ke air juga dipelajari: nanosheet dengan orientasi (002), nanorod (100), dan nanopiramida (101). Pada penelitian ini juga didapatkan bahwa struktur nanosheet dengan orientasi (002) menghasilkan photocurrent terbesar.

Dari kedua contoh di atas, telah diperlihatkan pentingnya nanostruktur yang tepat untuk aplikasi PEC Water Splitting. Kami juga melakukan penelitian ke arah ini. Dari paper yang sebelumnya mereka membuat nanosheet dengan posisi lembaran (sheet)-nya sejajar dengan permukaan substrat, sekarang kami mencoba membuat nanosheet yang lembarannya tegak lurus terhadap substrat (berdiri). Harapannya, nanosheet dapat ditumbuhkan ke atas (semakin tinggi) sehingga luas permukaannya juga semakin tinggi. 

“Hasil penelitian kami ini telah kami publikasikan di AIP Conf.Proc.2382 (2021) 020006. Selain itu kami juga mengembangkan metode baru untuk sintesis serbuk ZnO sehingga menghasilkan struktur unik spiked-nanosheet. Aplikasi serbuk ini sebagai PEC Water Splitting telah kami laporkan di ‘The 6th International Symposium on the Frontier of Applied Physics (ISFAP 2021)’, di mana prosidingnya akan dipublikasikan dalam waktu dekat ini,” urai Gerald.

Titanium dioxide (TiO2

Material semikonduktor metal oksida lain yang mirip dengan ZnO dari segi level energi dan bandgap adalah TiO2. Untuk aplikasi sebagai foto-anoda sistem PEC Water Splitting, berbagai jenis nanostruktur telah dilaporkan, antara lain nanoparticle, nanotube, nanorod, nanotube dan nanorod bercabang, dsb. (Small (2019) 1903378). Respon photocurrent yang lebih besar diperoleh untuk struktur dengan luas permukaan tinggi seperti nanotube dan nanorod bercabang.

Bismuth Vanadate (BiVO4

Kedua material yang sudah diterangkan di atas, ZnO dan TiO2, hanya mampu menyerap cahaya ultraviolet (UV) dari sinar matahari. Padahal, cahaya UV hanya bagian kecil dari spektrum cahaya matahari. Spektrum cahaya tampak, yang merupakan porsi terbesar, tidak bisa diserap. Untuk meningkatkan efektivitas penyerapan, perlu dikembangkan material yang mampu menyerap cahaya tampak, seperti Bismuth Vanadate (BiVO4)

Material ini termasuk yang tertinggi efesiensinya di golongan metal oksida untuk aplikasi foto-anoda PEC Water Splitting. Paper Nature Communication 6 (2015) 8769 melaporkan struktur BiVO4 nanoporous nano-coral dan mendapatkan efisiensi yang tertinggi di kelasnya.

Hematit (Fe2O3

Material metal oksida lain yang memiliki spektrum penyerapan cahaya tampak adalah hematit (Fe2O3). Paper Nanoscale Horiz 1 (2016) 243-267 menjelaskan berbagai nanostruktur hematit untuk aplikasi PEC Water Splitting, seperti nanorod, dendrites, nanocone, cauliflower, dan nanosheet. Salah satu permasalahan hematit adalah mudahnya elektron tereksitasi kembali ke level semula (dikenal dengan rekombinasi). Sehingga, sintesis menjadi struktur nano selain untuk meningkatkan luas permukaan juga untuk meningkatkan sifat transportasi elektronnya. Di antara berbagai nanostruktur di atas, struktur nanocone dan cauliflower termasuk yang tertinggi respon photocurrent-nya.

Struktur hybrid 

Selain pengembangan nanostruktur, Gerald dan timnya juga mengembangkan struktur hybrid atau heterostruktur antar metal oksida.

“Hal ini berfungsi untuk melebarkan spektrum cahaya matahari yang bisa diserap oleh material. Material nanostruktur seperti ZnO dan TiO2 memiliki sifat fotoelektrik yang baik, namun hanya mampu menyerap spektrum ultraviolet (UV) dari cahaya matahari. sementara kita ingin penyerapan bisa sampai di visible,” kata Gerald.

“Di sisi lain, Fe2O3 memiliki spektrum penyerapan di cahaya tampak, tetapi sifat transport elektronnya kurang baik sehingga hanya sedikit elektron yang bisa dimanfaatkan untuk mereduksi air. Dengan struktur hybrid diharapkan sifat transportasi elektron meningkat sehingga elektron yang dihasilkan dari penyerapan cahaya tampak bisa lebih banyak tersedia untuk reduksi air,” pungkasnya. (hrd/ ed. adl)

Categories
Nanoteknologi & Material Riset & Inovasi

Rekayasa Nanomaterial untuk Sensor Gas Berkinerja Tinggi

Tangerang Selatan, Humas BRIN. Ni Luh Wulan Septiani, periset Pusat Riset Material Maju – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pada Selasa (12/7) mempresentasikan penelitianya berjudul “Rekayasa Nanomaterial untuk Sensor Gas Berkinerja Tinggi”. Topik penelitian tersebut dipresentasikan pada webinar ORNAMAT seri #6 tahun 2022 di lingkungan  Organisasi Riset Nano Teknologi dan Material BRIN

Ni Luh Wulan membagikan penelitian yang dilakukan dengan topik ‘Rekayasa Nanomaterial untuk Sensor Gas Berkinerja Tinggi’. Dalam penelitian ini, ia berfokus pada sensor gas sulfur dioksida (SO2). 

Berangkat dari bahaya sulfur dioksida (SO2), bahwa sulfur dioksida (SO2) merupakan gas yang sangat berbahaya selain karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan particulate mater  khususnya PM 2.5. Gas yang tidak berwarna dan berbau tersebut dapat diemisikan oleh beberapa sektor dari industri, transportasi, dan aktifitas gunung berapi.

Gas SO2 ini jika terhirup oleh manusia dapat menyebabkan gangguan kesehatan terutama pada sistem pernafasan dan peredaran darah (sistem kardiovaskuler). “Jika kita menghirup gas SO2 dengan waktu yang sangat lama maka akan menyebabkan gangguan atau kerusakan sistem pernafasan dan sistem kardiovaskuler,” ucapnya.

“Untuk beberapa grup yang sangat berisiko, dari bahaya gas sulfur dioksida adalah orang tua, orang-orang dengan riwayat penyakit paru-paru, dan juga anak-anak,” ujar Wulan sapaan akrabnya.

Untuk memonitoring konsentrasi pada gas SO2 ini, Wulan dan tim mengembangkan sensor gas berbasis kemoresistif dengan memanfaatkan material aktif di mana beberapa propertis atau sifatnya akan berubah ketika berinteraksi dengan gas SO2 atau gas berbahaya lainnya.

“Sensor gas berbasis kemoresistif harus memiliki beberapa kriteria diantaranya respon tinggi, sensitivitas tinggi, selektivitas tinggi, waktu respon yang cepat, waktu pulih cepat, temperatur kerja rendah, stabil, dan waktu hidup panjang. Di sini penelitian yang kami lakukan adalah penelitian yang berbasis oksida logam,” kata periset Kelompok Riset Fungsional Dimensi Rendah.

Rekayasa Nanomaterial Sensor Gas

Untuk mendapatkan kriteria yang maksimal, Rekayasa Nanomaterial Sensor Gas diperlukan seperti rekayasa Morfologi, rekayasa permukaan dan rekayasa antar muka atau dengan pembuatan komposit. ”Dengan merekayasa morfologi kita dapat merekayasa porositas dan luas permukaannya sehingga situs-situs aktif  menjadi lebih banyak, sehingga dapat berinteraksi dengan baik dan maksimal dengan gas-gas target,” terang Wulan.

“Kemudian dengan Rekayasa permukaan, maka oksida logam atau material lainnya didekorasi dengan material lain seperti logam mulia atau logam lainnya untuk mendapatkan beberapa efek yang dapat meningkatkan sensitifitas respon dan juga mempercepat reaksi permukaan,” lanjutnya.

“Lalu ada rekayasa komposit yang mirip dengan rekayasa antarmuka, jadi Ketika kita membuat komposit itu kita tidak akan lepas dari adanya antarmuka atau singgungan antara fasa material yang satu dengan fasa material yang lainnya. Sinergi dari kedua fasa ini dibutuhkan untuk mencapai kinerja atau performa yang relatif tinggi ,” tambah lulusan S3 Teknik Fisika ITB.

Sensor Gas SO2  Berbasis ZnO Multilayer 

Penelitian petama yang telah dilakukan yaitu kami membuat struktur zink oxide Multilayer (ZnO Multilayer). Sebagai sensor gasnya sendiri, Dr.Wulan dan tim mencoba beberapa temperatur dari 200 hingga 4000C, dan respon ZnO multilayer terhadap SO2 ini sangat baik pada temperatur suhu 300 0C.

“Pada ZnO Sheet Layer yang pertama responnya relatif rendah yaitu di bawah 40%, kemudian ZnO Nanorods dengan dua lapisan atau double layer memiliki respon yaitu sekitar 70%. Jika ditingkatkan menjadi 3 lapisan maka respon akan mencapai 99,9% pada temperatur 3000C,” paparnya.

Pertama, Wulan dan tim melakukan studi mekanisme Sensor Gas SO2  Berbasis ZnO Multilayer yaitu di mana reaksi permukaan sangat bergantung pada kandungan oksigen di udara. 

“Ketika udara di sekitarnya yang belum terpapar gas pada temperatur tertentu, maka oksigen dalam udara akan ter-adsorpsi, kemudian akan terionisasi dengan mengambil elektron pada permukaan ZnO, sehingga menciptakan adanya lapisan depresi. Lapisan depresi meningkatkan resistansi dari ZnO,” jelasnya.

Sensor Gas SO2 Berbasis ZnO Multilayer lebih baik dibandingkan dengan single layer, karena ketika ada multilayer, maka pembauran (diffusion path) semakin panjang sehingga udara dan SO2 dapat berpenetrasi lebih dalam karena situs aktif yang tersedia melimpah.

Kemudia ada singgungan-singgungan antar muka yang menimbulkan potensial barir yang memiliki kontribusi dan berubah ketika terpapar oleh gas target. Dan untuk SO2 sendiri ketika dia berinteraksi dengan ion oksigen dia akan menjadi sulfur trioksida (SO3) dan melepas kembali elektronnya keperrmukaan ZnO sehingga lapisan depresinya akan mengecil dan resistansinya akan turun. 

Sensor Gas SOBerbasis ZnO Wool Ball-like

Kemudian yang kedua, Dr. Wulan dan tim merekayasa morfologi dari ZnO dengan bentuk menyerupai bola rajut atau wool ball. Dengan melakukan rekayasa dari ZnO dengan menggunakan metode hidrotermal dengan bantuan glycerol sebagai capping agent.

Ketika tanpa gliserol maka ZnO terbentuk seperti brokoli, dan ketika ada gliserol sebesar 4 mL maka ZnO mulai tumbuh plat-plat berukuran 2 µm yang bergabung untuk membentuk suatu bola.

Ketika gliserol ditambah sebesar 8 mL maka ZnO sudah terlihat cukup baik strukturnya, dan ketika ditambah lagi hingga 10 mL menghasilkan bola rajut yang sangat besar berukuran sekitar 5 mikrometer. 

Untuk mekanismenya sendiri, ada dua hal yang penting yaitu propanol dan gliserol. Di mana gliserol merupakan capping agent yang menghambat pertumbuhan dari ZnO ke arah-arah tertentu. Sehingga pada dua jam pertama sudah terlihat adanya pembentukan wool ball, dan ketika diperlama partikel-partikel kecil akan bergabung dengan partikel-partikel dua dimensi (2D) dan pada delapan jam dia sudah relatif sempurna pembentukankannya. 

“Untuk bentuk bolanya sendiri dipengaruhi oleh propanol dan juga tekanan dari segala arah pada proses hidrotermal dan untuk gliserolnya sendiri dia berkontribusi dalam pembentukan partikel 2D,” jelas Wulan.

Setelah pembentukan wool ball ini, dilakukan kalsinasi untuk menghilangkan zat-zat yang tidak dibutuhkan karena setelah proses hidrotermal produknya belum ZnO tetapi zinc glycerolate yaitu produk hasil reaksi antara zinc dengan glycerol. “Setelah dikalsinasi ternyata terlihat adanya permukaan yang kasar dan ketika diperbesar ternyata partikel-partikel 2D itu tersusun dari partikel-partikel kecil yaitu berbentuk segi enam (heksagonal) dengan ukuran sekitar 30 nanometer,” jelasnya.

“Ketika diuji sebagai sensor gas SO2, wool ball memiliki respon yang sangat tinggi pada temperatur 3500C, sedangkan pada temperatur suhu 3000C wool ball memiliki respon sebesar 70,” imbuhnya.

“Dan itu 35 kali lebih tinggi dibandingkan dengan ZnO Multilayer. Di mana pada temperatur 3000C itu sekitar 99% atau hampir dua kali lipatnya. Sedangkan berbasis ZnO Wool Ball-like  pada temperatur 3000C responnya adalah 70 kali lipat,” sambungnya.

Ketika diuji bagaimana selektifitasnya sebagai sensor gas SO2, Wulan dan tim mencoba dari beberapa gas antara lain metanol, toluen, heksan, xylena, CO, CO2, dan SO2

“ZnO memiliki kecendrungan untuk menyukai SO2 dibanding gas yang lain, tetapi di sini memang masih relatif tinggi responnya terhadap CO dan CO2. Hal ini menunjukkan perlu modifikasi lebih lanjut untuk meningkatkan selektifitas dari ZnO dengan sturktur ini,” ulasnya.

Modifikasi ZnO Wool ball like dengan MWCNT 

Wulan dan tim mencoba gabungkan ZnO dengan Multiwalled Carbon Nanotubes (MWCNT) dan ketika ditambah dengan MWCNT terjadi perubahan struktur. “Modifikasi ZnO Wool ball like dengan MWCNT merusak dari struktur bolanya sendiri dan di sini terlihat ada beberapa nanotube yang masuk dan penetrasi ke dalam bola,” kata Wulan.

Semakin banyak MWCNT yang ditambahkan ini, tentu akan semakin banyak juga MWCNT yang masuk ke dalam ZnO, dan terdapat beberapa partikel minirod ZnO yang tumbuh di atas permukaan MWCNT.

Ketika diuji sebagai sensor gas SO2 terlihat kurva respon terhadap temperatur, terjadi pergeseran temperatur optimal dari 350 ke 3000C, dan juga adanya peningkatan respon dari 70 ke 2210C.

“Ketika diuji selektifitasnya dia meningkat dengan sangat pesat ketika ada MWCNT. Kehadiran MWCNT ini tidak hanya menurunkan temperatur optimalnya, tetapi juga meningkatkan selektifitas dari ZnO itu sendiri,” ungkap Wulan.

Sensor Gas SOBerbasis ZnO Hollow Sphere

Kemudian yang ketiga, Wulan dan tim mengembangkan Sensor Gas SO2 Berbasis ZnO Hollow Sphere. Metode Hollow Sphere sama dengan metode Wool Ball-like yaitu menggunakan metode hidrotermal, tetapi tidak dengan bantuan gliserol, tetapi menggunakan antosianin sebagai soft template pembentukan ZnO.

Anthocyanin diperoleh dari proses ekstraksi beras hitam, lalu dilakukan variasi konsentrasi antosianin, sehingga terlihat ketika ditambahkan sebesar 0,0103 gram antosianin terbentuk bola dengan ruang kosong di dalamnya, dan ketika di tambah lebih jauh ternyata struktur yang dihasilkan mengalami kerusakan 

“Di sini yang kami dapatkan adalah sebesar 0,01 gram antosianin yang merupakan konsentrasi atau jumlah antosianin paling optimal untuk mendapatkan hollow sphere,” terangnya.

Modifikasi ZnO Hollow sphere dengan MWCNT

Sebetulnya untuk ZnO hollow sphere sendiri ketika diuji hasilnya mirip dengan metode Wool Ball-like, namun pada temperatur 3500C bahwa temperatur utamanya memiliki respon yang relatif lebih rendah yaitu sekitar 75.

MWCNT dapat merusak struktur dari ZnO Hollow sphere karena penetrasi ke dalam dan membuat ZnO nya itu terbelah. Semakin banyak MWCNT ditambahkan, semakin rusak strukturnya dan di beberapa partikel bermigrasi ke permukaan MWCNT, sehingga tumbuh di atas MWCNT

Dengan penambahan MWCNT juga ternyata dapat menggeser temperatur optimal dari 350 ke 3000C dan di sini sekitar 150 responnya pada temperatur 3000C.

Menurutnya Wulan, untuk selektifitanya sendiri untuk ZnO Hollow sphere memang relatif buruk. Metode ZnO Hollow sphere lebih respon terhadap metanol dibandingkan dengan SO2 itu sendiri, tetapi ketika adanya MWCNT respon meningkat secara signifikan.

“CNT dapat meningkatkan selektifitas juga menurunkan temperatur kerja dan ZnO,” terang Wulan.

Mekanisme Sensor ZnO Hollow sphere dengan MWCNT

MWCNT merupakan material sensor juga, tetapi reaksi antara MWCNT dengan gas pada umumnya reaksi fisisorpsi dan interaksi fisis itu sangat lemah, sehingga responnya jauh lebih rendah dibandingkan dengan ZnO. 

Jika digabungkan, MWCNT yang memiliki temperatur kerja yang relatif lebih rendah karena konduktifitasnya lebih tinggi, dapat menurunkan temperature kerja ZnO.

Selain itu MWCNT ketika digabungkan dengan ZnO maka akan terjadi pn junction pada pada antar mukanya dan potensial barir pada antarmuka tersebut berkontribusi dengan sangat baik atau untuk mendeteksi gas SO2.

“Ketika ada gas berinteraksi pada antarmuka MWCNT-ZnO, maka potensial barir ini akan berubah dan menyebabkan adanya perubahan sifat elektronik atau perubahan resistansi dari sistem ZnO dan MWCNT,” urai Wulan.

“Tetapi konsentrasi antara CNT dan ZnO sangat perlu dipertimbangkan karena saat lebih banyak CNT dbandingkan dengan ZnO, maka CNT menjadi mendominasi sebagai sensor gas sehingga responnya menjadi lebih rendah walau pun temperatur kerjanya menjadi lebih rendah juga,” lanjutnya.

“Sinergi antara CNT dan ZnO, sangat ingin dicapai untuk mendapatkan sensor gas dengan temperatur kerja rendah tetapi memiliki respon yang relatif tinggi,” pungkasnya. (hrd/ ed. adl)