Categories
Perhimpunan Periset Indonesia

PPI Kota Tangsel Laksanakan Raker Perdana Tahun 2023

Tangerang Selatan – Humas PPI. Pengurus Perhimpunan Periset Indonesia atau PPI Kota Tangerang Selatan melaksanakan rapat kerja (raker) perdana periode 2023-2025 bersama Ketua PPI Provinsi Banten, di Gedung 80 Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Habibie, Kamis (12/1).

Dalam sambutan, Ketua PPI Kota Tangsel, Agus Sukarto Wismogroho mengungkapkan dengan adanya PPI, kita harus memberikan manfaat bagi anggota. “Menjadi pembawa informasi dalam berbagai macam forum, sehingga memudahkan teman-teman kita untuk menerima informasi yang terbaik,” ujarnya,

“Salah satu kebutuhan mendasar para periset yaitu kompetensi, serta program yang diinginkan para anggota terkait permintaan dasar, fasilitas, komunikasi dengan komunitas, dan sosialisasi aktifitas di sosial media,” kata Agus dalam laporannya.

Agus menyampaikan, bahwa sesuai dengan target awal, PPI Kota Tangsel mendapat amanah untuk menguatkan sebagai periset, bisa bermanfaat, dan sehat sampai pensiun. “Semoga kegiatan kita bisa efektif dan mulai mengeksekusi kegiatan-kegiatan dengan berkolaborasi bersama PPI Provinsi Banten,” harapnya.

Selanjutnya, Ketua Dewan Pakar PPI Kota Tangsel, Anny Sulaswatty mengajak untuk berjuang bersama-sama menunjukkan performa PPI Kota Tangsel yang baik untuk semua.

First performance itu yang paling penting. Percaya deh, kalau kita perform dengan baik, maka orang pasti akan melihat dan menghargai kita,” yakin Anny.

Lebih lanjut, bagaimana memformnya? Mengoptimalkan kinerja seperti kompetensi, dan menjalankan program yang mereka inginkan seperti permintaan dasar, fasilitas, dan seterusnya.

“Kita harus buktikan, entah bagaimana caranya. Mudah-mudahan Agus dan Deni (sinergi PPI Kota Tangsel dan PPI Provinsi Banten), kita bersama dengan teman-teman yang lain, ayo kita hadapi,” tegas Ketua Dewan Pakar.

Dalam raker ini, Ketua PPI Provinsi Banten, Deni Shidqi Khaerudini menyampaikan bahwa banyak juga teman-teman dari eks BATAN, BPPT yang menjadi anggota PPI, supaya dibantu untuk membuat publikasi dan  bisa diakomodir, karena mereka dulu juga melakukan riset  tetapi belum berbentuk jurnal dan itu menjadi pekerjaan rumah PPI.

Deni juga mengatakan, untuk eksternal juga harus eksis karena PPI sebagai organisasi profesi harus berkecimpung di masyarakat. “PPI harus berkontribusi baik internal maupun eksternal. Ke depan, PPI sendiri secara nasional kita juga akan menjadi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP),” terangnya.

Menurutnya, sebagai organisasi profesi independen, PPI dapat mengadakan bermacam kegiatan pelatihan  yang bermanfaat, karena di situlah dirasakan keberadaan dan manfaatnya.

Selanjutnya, Deni berharap ada kerja sama antara PPI Kota Tangsel dan PPI Provinsi Bantern dalam mengurus periset internal maupun eksternal.

“Semoga selama kepemimpinan Pak Agus , PPI Kota Tangsel akan jauh lebih bergairah dan banyak kegiatan yang mensejahterakan pembangunan,” pesan Deni. (hrd/ed: mfn)

Categories
Perhimpunan Periset Indonesia

PPI Kota Tangsel Sampaikan Program di HUT PPI ke-1 dan Rakornas PPI 2022

Tangerang Selatan – Humas PPI. Dalam rangka pelaksanaan program kerja Perhimpunan Periset Indonesia (PPI) serta untuk bahan evaluasi terhadap capaian kerja dan perencanaan pelaksaan program kerja kedepan, PPI menyelenggarakan Peringatan Hari Ulang Tahun Ke-1 dan Rapat Koordinasi Nasional PPI Tahun 2022, secara hybrid, di Gedung Widya Graha, Kampus Gatot Subroto, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Rabu (21/12).

Mengusung Tema “Penguatan Profesionalitas Organisasi Profesi PPI dan Periset untuk Meningkatkan Peran Penting dalam Ekosistem RIset dan Inovasi”, dihadiri oleh pengurus pusat PPI, Majelis Kehormatan Periset, Dewan Pengawas, Dewan Pakar, dan Komisi Profesi Periset

Dalam sambutannya, Ketua Umum PPI, Syahrir Ika, menyampaikan bahwa PPI dibentuk oleh para periset pada 21 Desember 2021, yang merupakan kelanjutan dari Himpunan Peneliti Indonesia (Himpenindo) dan Himpunan Perekayasa Indonesia (Hiperindo). “PPI menaungi 11 jabatan fungsional (jabfung), sehingga menjadi organisasi profesi dari 11 jabfung yang dikelola dan BRIN menjadi instansi pembinanya,” ujar Syahrir.

“Sebagai instansi pembina, BRIN mengoordinasikan 11 jabatan fungsional, yang terdiri dari Peneliti, Perekayasa, Teknisi Penelitian dan Perekayasaan, Analis Pemanfaatan Iptek, Analis Data Ilmiah, Penata Penerbitan Ilmiah, Analis Perkebunrayaan, Teknisi Perkebunrayaan, Kurator Koleksi Hayati, Pengembang Teknologi Nuklir, dan Pranata Nuklir,” jelasnya.

Disebutkan Syahrir, tahun depan PPI menuju digitalisasi manajemen dan proses bisnis PPI secara inklusif serta desentralisasi pelaksanaan program kerja di level wilayah, selanjutnya penguatan manajemen dan tatakelola PPI wilayah.

“Selain itu, PPI juga membangun e-office, e-finance, dan virtual office, serta terus melakukan perbaikan untuk menaikkan nilai guna bagi periset,” terangnya. 

Dalam pertemuan tersebut, mewakili Kepala BRIN, Deputi Bidang Sumber Daya Manajemen Iptek – BRIN, Edy Giri Rachman Putra menyampaikan bahwa PPI adalah mitra strategis di BRIN, untuk sama-sama membangun SDM unggul ke depannya. “Peran dari PPI akan sangat penting bagaimana kita bisa menguatkan, mengembangkan, dan mematangkan talenta-talenta riset dan inovasi melalui program-programnya,” ujar Edy.

Dikatakan Edy, di usia satu tahun, PPI sudah sangat garang dalam memberikan rekomendasi kepada BRIN. PPI memberikan advokasi dengan membantu teman-teman periset lainnya untuk bisa bergabung dengan BRIN atau pun memberikan masalah-masalah yang terkait di daerah. PPI juga melaksanakan uji kompetensi bagi para peserta lainnya yang akan naik jenjang atau pun ahli jenjang

“Minggu lalu, PPI memberikan banyak masukan dalam penyusunan rancangan standar kinerja kerja nasional Indonesia (SKKNI) untuk empat bidang yaitu jabatan pekerja periset ilmiah hayati untuk mikroorganisme, hewan, dan herbarium,” urai Edy.

“PPI bersama-sama BRIN membuat sebuah standar kompetensi dalam membuat platform dasar bagi periset atau pun SDM Iptek kita secara nasional, sehingga ke depannya kita bisa bersaing secara global, sesuai visi misi PPI,” imbuhnya.

Selain itu, PPI memberikan masukan terkait dengan penegakan etika periset. “PPI masih mempunyai tantangan ke depan yaitu bergabungnnya beberapa jabatan fungsional yang memerlukan regulasi baru berkaitan dengan penyetaraan tunjangan, standar terkait dengan manajemen kinerja dan sistem kerja, serta gap kompetensi.

Edy berharap di tahun depan ada kegiatan yang berkaitan dengan pelatihan dan sertifikasi kompetensi dari periset yang ada di BRIN. Utamanya dalam rangka meningkatkan kompetensi dan kapasitas mereka.

“Pekerjaan rumah kita bersama agar PPI bisa menyiapkan lembaga sertifikasi profesi (LSP) dan bentuk pelatihan, guna meningkatkan kompetensi dari periset kita yang ada di BRIN maupun nasional,” tandasnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua PPI Kota Tangerang Selatan, Agus Sukarto Wismogroho, melaporkan kegiatan PPI Kota Tangerang Selatan Tahun 2022. Antara lain pelaksanaan musyawarah wilayah (muswil), pengukuhan, membangun jejaring potensial, dan persiapan kegiatan tahun 2023 pasca pengukuhan 

Agus menyampaikan kegiatan setelah PPI berdiri, yakni webinar, musyawarah wilayah (muswil), serah terima jabatan PPI Kota Tangsel, Pengukuhan PPI Kota Tangsel, dan aktivitas sosial media PPI Kota Tangsel. 

Disamping itu, PPI Kota Tangsel membangun jejaring seperti menjajaki kerja sama dengan pemerintah daerah. “Program organisasi tidak mungkin dilakukan tanpa berkolaborasi untuk mendapatkan hasil yang riil,” tegasnya.

PPI Kota Tangsel juga mecoba mengelaborasi dengan kelompok-kelompok masyarakat, salah satunya adalah Kelompok Sadar Wisata Tangsel (Pokdarwis). Dalam kegiatan tersebut, PPI Kota Tagnsel bersama-sama untuk mengimplementasikan teknologi ke masyarakat di wilayah sekitar KST BJ Habibie.

“Kami juga ikut pada beberapa kegiatan di Pemda dan berharap posisi kami di KST BJ Habibie bisa ikut mewarnai Kota Tangerang Selatan,” harap Ketua PPI Kota Tangsel.

Pada pengembangan Potensi Program Kerja Rencana Strategis Tahun 2023, PPI melakukan program rencana tahun depan. “Dari harapan anggota terhadap PPI Kota Tangsel adalah intinya satu yaitu apa sih yang dirasakan oleh anggota?,” ungkap Agus.

“Seperti tahun-tahun lalu, yang banyak diminta yaitu tentang fungsional dengan animonya sekitar 500-1.000 orang, tetapi masalah sains, langsung di bawah 100 orang,” ulasnya

Di dalam visi misinya, Agus menyatakan bahwa bagi yang ikut PPI Kota Tangsel maka SKP aman. “Mari bekerja bersama-sama dengan PPI (Kota Tangerang Selatan) maka SKP akan aman,” ajak Agus.

Untuk mengamankan SKP, salah satu permasalahannya adalah publikasi. “Kami sedang mengkreasikan suatu klub publikasi bersama yaitu Global Publication Club (GPC).  Bagaimana teman-teman yang sulit publikasi bisa dibantu oleh teman-teman yang ahli publikasi,” ucap Agus.

Selain itu, ia ingin PPI menjadi sahabat industri dan pemda, melakukan lingkungan hijau, serta sehat selalu. Di dalam Gerakan Kesehatan Masyarakat (germas), PPI Kota Tangsel juga ikut di dalam kegiatan senam bersama BRIN. Dirinya pun mengajak untuk menyukseskan program durian tahun 2024 dengan menanam durian di KST BJ Habibie. (hrd/ ed: adl)

Categories
Perhimpunan Periset Indonesia

Pengurus PPI Tangsel Periode 2022-2025 Resmi Dikukuhkan

Tangerang Selatan – Humas PPI. Pengurus Perhimpunan Periset Indonesia atau PPI Kota Tangerang Selatan periode 2022-2025 dilantik oleh Ketua PPI Provinsi Banten, Deni Shidqi Khaerudini di Graha Widya Bhakti, KST BJ Habibie, Selasa (20/12). Secara simbolis pengukuhan ditandai dengan pembacaan naskah pengukuhan Pengurus PPI Kota Tangsel, serta penandatanganan pakta integritas yang disaksikan oleh pengurus PPI Provinsi Banten, PPI Pusat, dan Dewan Pengawas PPI Pusat.  

Dalam sambutannya, Ketua PPI Kota Tangsel, Agus Sukarto mengatakan bahwa dirinya dan jajaran pengurus diberi amanah untuk mengolah perhimpunan periset di wilayah Tangsel. “Terutama untuk mengembangkan lingkungan riset yang lebih baik,” ujarnya.

Lebih lanjut, dijabarkan Agus, PPI Tangsel akan melaksanakan tiga tema kegiatan yang ingin dikembangkan. “Pertama, kegiatan internal yaitu penguatan sebagai periset yaitu penguatan sainsnya, publikasi, dan sejenisnya,” ujarnya. 

“Kedua adalah kegiatan eksternal, agar PPI Kota Tangsel bisa bekerja sama dengan seluruh stakeholder di wilayah Tangsel terutama dengan Pemda, universitas-universitas, dan perhimpunan-perhimpunan UMKM, dan swasta, sehingga bisa bersama-sama mengimplementasikan hasil sains dari para periset  ke masyarakat,” imbuhnya.

“Ketiga yaitu kesejahteraan dan kesehatan dengan bersama-sama mengajak teman-teman untuk selalu sehat hingga akhir hayat agar selalu sehat bersama-sama dengan PPI Kota Tangsel,” sebutnya.

Dalam tiga program tersebut, ketua PPI Kota Tangsel Periode 2022-2025 mengharapkan arahan, bimbingan, dukungan dari para dewan pakar, dewan Pembina, dan lainnya. 

Kemudian Agus berharap bersama pemda, bisa bekerja bersama-sama untuk membangun wilayah Tangsel yang lebih cerdas di masa mendatang. Berkunjung ke universitas untuk lebih lanjut mengembangkan kolaborasi bersama-sama

Dalam kegiatan tersebut, Ketua PPI Provinsi Banten, Deni Shidqi Khaerudini, menyampaikan harapannya kepada PPI Kota Tangsel untuk dapat berpartisipasi pada kegiatan PPI Pusat dan PPI Provinsi. “Semoga sering berkomunikasi dengan PPI Pusat dan terus bersinergi antara PPI Prov Banten dan PPI Kota Tangsel akan semakin memperkuat,” ucap Deni.

“Amanah kita sangat berat untuk Indonesia maju, Indonesia jaya, dan menyejahterakan rakyat Indonesia itu amanah kita” sambungnya.

Deni juga mengatakan harapannya agar PPI akan bergerak bersama dengan stakeholder yang lain. “Saya berharap teman-teman tetap solid, tetap kompak, dan semoga kepengurusan kita selama tiga tahun ke depan terutama PPI Kota Tangsel bergerak dengan baik,” harapnya.

Selanjutnya, Ketua Umum PPI Pusat yang diwakili Sekjen PPI Pusat, Sumbogo, menyampaikan visi misi PPI yang salah satunya mendorong para periset untuk dapat membantu pemerintah untuk dapat membangun ekonomi yang mana sedang mengalami penurunan ekonomi. 

“Kita bertanggung jawab dalam urusan invensi dan inovasi untuk membantu pemerintah bertahan dari ancaman krisis,  bahkan bila perlu kita tumbuh dalam ancaman krisis,” terangnya.

Sumbogo juga menyampaikan agar pengurus PPI dapat melayani anggotanya, serta memanfaatkan fasilitas yang tersedia di PPI. “Sebagi pengurus PPI, kita harus melayani anggota kita, karena menjadi pengurus PPI itu merupakan tugas mulia memiliki nilai amal dunia akhirat,” katanya.

Mewakili manajemen BRIN, Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, Haznan Abimanyu mengharapkan PPI dapat memberikan kegiatan-kegiatan yang memberikan manfaat bagi para anggotanya. “Semoga pengurus PPI Kota Tangsel yang baru ini bisa melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi anggotanya dan warga kota Tangsel,” harap Haznan.

Haznan juga mengharapkan Pemda Kota Tangsel dapat memanfaatkan keberadaan PPI di Kota Tangsel. “Keberadaan anggota PPI di Kota Tangsel merupakan para periset yang andal dan bagus, sehingga kota Tangsel dalam melakukan kegiatan atau kebijakan bisa berbasis sains dan berbasis teknologi,” terangnya.

Kemudian perwakilan Dewan Pakar PPI Kota Tangsel, Anny Sulaswatty, mengucapkan selamat kepada ketua yang baru saja dikukuhkan serta menyemangati untuk pengurus PPI Kota Tangsel dalam menjalankan kegiatan kegiatannya. “Insya Allah di bawah bimbingan anak muda, kita sama-sama dalam membangun semangat berbasis iptek,” ajak Anny. 

Profesor riset tersebut juga berharap pengurus PPI Kota Tangsel untuk dapat se-iya, seirama, walau berbeda gaya namun mempunyai tujuan yang sama.

Dalam pertemuan tersebut, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Wisata Keranggan, Alwani menyampaikan ucapan terima kasih dan berharap sebagai masyarakat PPI Kota Tangsel dapat seirama dan satu tujuan tanpa ada ego sentris. 

“Semoga PPI Kota Tangsel dapat bersama sama membangun Kota Tangsel. Kolaborasi antara pemerintah, PPI Kota Tangsel, dan Pokdarwis, untuk dapat membangun ekonomi kemasyarakatan, pengembangan SDM dan SDA yang terintegrasi. Semoga dengan adanya kolaborasi yang dapat menyelesaikan Permasalahan Kemiskinan di Kota Tangsel,” urai Alwani.

Senada dengan hal tersebut, perwakilan STKIP Sinar Cendekia, Yanto, mengucapkan selamat dan berharap dapat bersinergi dengan PPI Kota Tangsel “Mudah-mudahan PPI Kota Tangsel bermanfaat dan turut berkonribusi untuk membangun Kota Tangsel, bangsa dan negara,” harap Yanto yang kampusnya merupakan institusi non profit dan tidak berbayar.

Menutup acara pengukuhan PPI Kota Tangsel, Agus Fanar Syukri, selaku Dewan Pengawas PPI Pusat, turut menyampaikan pesan untuk pengurus. 

“Pertama, untuk dapat memahami dan melaksanakan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) dan aturan organisasi PPI. Kedua, untuk dapat memberikan manfaat kepada anggota PPI, dan juga kepada masyarakat dan seterusnya. Ketiga, semoga PPI Kota Tangsel dapat berkolaborasi aktif dengan mitra-mitra,” urai Agus Fanar.

“Selamat berjuang dan berkinerja terbaik, dan berkolaborasi dengan baik,” pungkasnya.

Sebagai informasi, dalam acara pengukuhan yang digelar secara hybrid tersebut, turut diisi dengan talkshow yang dipandu oleh Rike Yudianti selaku moderator. Hadir sebagai narasumber pertama, Tonny Soewandi, selaku kepala bidang Bappelitbangda Kota Tangerang Selatan menyampaikan gambaran umum kota Tangerang Selatan, indikator makro daerah dibandingkan dengan provinsi dan nasional, indikator makro  daerah tahun 2021 dan 2022, serta permasalahan daerah kota Tangerang Selatan. 

Sementara narasumber kedua, Lukman Shalahuddin menyampaikan materi dengan topik “Peran PPI dan BRIDA dalam Mendukung Pembangunan Daerah” dengan sub judul Penguatan dan Ekosistem Inovasi Riset Daerah. Hubungan kerja BRIN dengan pemda yaitu membangun ekosistem riset dan inovasi daerah berbasis bukti. Target BRIN dan BRIDA adalah menjadi sumber pengambilan kebijakan berbasis sains nasional dan daerah. Di dalamnya mengandung pembangunan manusia serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. (hrd/ ed: adl)

Categories
Riset & Inovasi

Cerita Peserta Kegiatan 5 Hari BRIN-LDE Academy

Tangerang Selatan – Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan tiga univesitas Belanda LDE (Leiden, Delft, dan Erasmus) mengadakan acara yang dilaksanakan selama lima hari (31 Oktober – 4 November 2022), yang terdiri dari kuliah, workshop, field trip, pertemuan, dan diskusi.

Sebagai peserta yang mempunyai ambisi yang tinggi, tentu mempunyai masukan maupun harapan besar ke depannya pada BRIN-LDE Academy. Bagaimana pengalaman mereka, ilmu apa yang didapat, apa yang bisa membantu mereka, apakah ada potensi kerja sama baik dari BRIN atau pun dari akademisi universitas di Indonesia? Berku

Pada kelas Smart Cities and Digital Transitions, peserta Rahman Priyatmoko, Pusat Riset (PR) Kewilayahan – BRIN mengatakan pelaksanaan BRIN-LDE Academy 2022 sudah berjalan dengan baik dengan dijalankan secara mandiri oleh PR Kependudukan. Waktu diskusi dengan para pengajar karena ada beberapa acara yang sifatnya seremonial yang menurutnya kurang perlu. 

“Misalnya di hari ketiga ada audiensi dengan LDE yang memanfaatkan program IPSH, yang waktunya bisa lebih digunakan untuk memaksimalkan diskusi mengenai paper yang kita tulis. Atau ouput yang ingin dicapai harus lebih jelas,” jelasnya. 

“Manajemen waktunya harus perlu diperhatikan, seperti dikurangi acara-acara seremonial pada program Academy lima hari ini,” ujar Priyatmoko atau Moko.

Moko mengungkapkan bahwa ada beberapa peserta yang ingin belajar di luar negeri, baik di Belanda maupun di negara Eropa lainnya. “Untuk itu sangat perlu untuk berlatih bagaimana cara berkomunikasi dengan pengajar dari luar negeri, sehingga jadi mengetahui gaya mereka seperti apa,” kata Moko. 

“Kemudian kita berlatih juga berbicara dalam Bahasa Inggris dan mungkin bahasa asing lainnya. Hal ini menjadi feedback bagi BRIN sendiri untuk program Bahasa Inggris bagi penelitinya,” imbuhnya.

“Kalau kita bekerja sama dengan peneliti dari luar maka proposal dari bisa jadi contoh karena kita belum mempunyai kemampuan yang sama dan kita berbeda tingkatannya antar para peneliti,” tambahnya.

Moko berharap agar program ini terus dilaksanakan secara rutin maka akan lebih bagus. 

Menurutnya, untuk riset tergantung dengan metode yang digunakan, tidak masalah digunakan di Indonesia atau pun di luar negeri. “Metode itu sifatnya universal, mau menggunakan metode A di tempat di mana saja tidak masalah, untuk perbedaan riset tidak ada masalah antara periset Indonesia dengan luar negeri,” ujarnya.

Ia mengatakan bahwa para peserta ikut ke acara Academy dengan membawa paper dan selama di sini peserta harus membentuk tim untuk menyusun proposal. “Dari proposal yang kita susun ini, kerja kelompok itu, berkaitan dengan komunitas atau kelompok khusus dan teknologi selama pandemi kemarin,” jelas Moko.

Sementara pada kelas Health in the City, peserta Nur Aliyah, PR Pendidikan mengatakan BRIN-LDE Academy 2022 menyenangkan. “Karena kita dapat pengetahuan baru dari fasilitator dalam negeri dan luar negeri. Kita bisa menambah jejaring dengan bertemu banyak peneliti dari luar BRIN. selain itu untuk lokasinya dan penjajar sudah bagus,” terangnya.

Baginya, acara selama lima hari untuk proposal writing dirasa kurang, tetapi untuk program pertama kali sudah bagus. “Untuk ke depannya bisa ditingkatkan lagi dan pendalaman yang lebih dalam lagi karena di sini kita diberikan banyak ilmu,” ucap Nur. 

“Di kelas, kami mengerjakan topik tentang Health in the City. Saat ini kami diminta untuk membuat proposal yang rencanakan untuk diajukan ke Rumah Program IPSH (Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora) – BRIN. Untuk kerja samanya kita bertemu dengan teman baru dari luar BRIN seperti dari Kementerian, Universitas, dan Universitas dari luar negeri,” tuturnya

Fitri Arlinkasari, Dosen Fakultas Psikologi, Universitas YARSI Jakarta, memiliki kesan sangat positif dengan program Academy karena sekarang trennya di Indonesia sedang sangat berkembang dan juga sedang menggalakkan kolaborasi dengan lintas institusi, lintas disiplin ilmu, sehingga ia merasa kegiatan ini bisa memfasilitasi semua kebutuhan kolaborasi tersebut.

“Menurut saya dalam penyelenggaraan bisa lebih fokus. Panitia bisa lebih membuat pemetaan pada minat-minat yang berpartisipasi di sini, sehingga ketika dikelompokkan dalan satu diskusi sudah bisa lebih jelas dan terarah mau ke mana ide-ide tersebut bisa diartikulasikan dalam bentuk proposal atau pun artikel,” terang Fitri. 

“Dalam riset, kita sama-sama mempunyai target yang kurang lebih mirip, peneliti dari luar pun termotivasi untuk bisa terpublikasi di jurnal-jurnal terindeks Scopus. Kita punya satu goal yang sama untuk bekerja sama berarti goal kita satu. Itu hal yang positif dalam berkolaborasi,” lanjutnya.

Lebih lanjut Fitri menjelaskan bahwa kita sudah pada tahap yang sama baik peneliti dalam negeri maupun penelit luar negeri sama-sama mengapresiasi keunikan lokal masing-masing. “Kita tidak lagi berbicara bahwa good practice dari luar bisa juga diterapkan di Indonesia, tetapi kita juga mempunyai keunikan atau kelebihan masig-masing yng bisa menunjang pengembangan dalam negeri sendiri juga,” ucap Fitri.

“Penelitian tidak ada lagi bahwa negara ini lebih baik dari negara lain, tetapi sudah pada sikap bisa  mengembangkan dengan cara kita sendiri,” tambahnya. 

Kemudian dari segi akses database, menurut Fitri pemerintah masih perlu memberikan kemudahan akses bagi para penelitinya untuk akses jurnal berbayar. “Saya sendiri merasakan waktu kuliah di luar ngeri untuk aksesnya luar biasa banyak dan sangat mudah, sehingga kita mau menulis artikel pun juga sangat terfasilitasi dengan akses tersebut,” cakapnya.

Ia pun berpesan mudah-mudahan kedepannya baik BRIN maupun pemerintah secara umum dapat menyediakan akses yang lebih baik.

Pada kelas Urban Diversity, peserta Tatang Rusata, PR Masyarakat dan Budaya – BRIN mengatakan acara ini sangat menarik karena  di acara ini kita terbuka kolaborasi yang tidak hanya peneliti dari BRIN baik berbeda pusat riset, berbeda organisasi riset, kemudian dengan universitas, tetapi juga peneliti-peneliti dari luar negeri, terutama dari negara-negara Eropa karena di LDE Academy ini tidak hanya dari Belanda juga dari negara Eropa lainnya.

Tatang berharap agar acara ini bisa dijadikan suatu acara yang rutin baik satu tahun atau dua tahun sekali. “Acara ini terjadi kolaborasi, juga menambah skill kita dalam hal penelitian, termasuk tema-tema kontemporer yang bisa kita dapatkan dengan adanya interaksi dengan para peneliti Indonesia, dan terutama foreign researcher,” ujarnya.

“Kita bisa berperan di penelitian tingkat global, acara ini terbuka membuat jejaring selain dari dalam negeri juga dengan peneliti-peneliti dari luar negeri,” imbuhnya. 

Dalam acara BRIN-LDE Academy  2022, ada program membuat artikel, sehingga semakin terbuka untuk diterbitkan artikel di jurnal internasional 

Tatang mengusulkan bagaimana keberlanjutan acara ini, karena sudah membuat proposal. “Untuk acara BRIN-LDE Academy 2022, kita tidak diwajibkan untuk membuat proposal, karena untuk membuat proposal masih membutuhkan waktu yang lama,” ungkapnya. 

Tatang pun berharap pelaksanaan BRIN-LDE Academy 2022, terbuka kemungkinan proposal ini akan membuka kesempatan untuk bekerja sama dengan peneliti lain.

Peserta Hastangka, PR Pendidikan – BRIN mengatakan kegiatan ini penting sekali khususnya karena: Pertama, untuk mengembangkan kapasitas peneliti (SDM Iptek) di Indonesia baik peneliti internal BRIN, di luar BRIN seperti Universitas, peneliti yang sifatnya independen, menjadi proses-proses penting penguatan kapasitas peneliti di Indonesia karena kita belajar atau saling memahami konteks tema-tema riset yang berkembang di negara atau kawasan kita-kita, dan tiga universitas di Belanda: Leiden, Delft, dan Erasmus.

“Kita bisa mempelajari para peneliti Eropa itu seperti apa dalam membangun ide, gagasan, kemudian tema-tema yang dirumuskan, current issue yang diangkat sehingga kita saling belajar dan memahami ,” ungkap Hastangka atau Has.

Kedua adalah kita belajar bagaimana cara menulis artikel akademik yang dapat diterima oleh konsumsi internasional. “Hal ini selalu – terus menerus kita mencoba mempelajari dan melihat tren-tren dan perkembangan penulisan dan karya tulis akademik yang dapat diterima di komunitas internasional itu seperti apa dalam konteks isi, tema, judul, kemudian cara menulisnya,” tegasnya.

Ditambahkan olehnya ada poin bisa mengenal dengan peneliti satu dengan yang lain dari berbagai pusat riset maupun dari berbagai perguruan tinggi, termasuk peneliti dari luar negeri. 

“Nah, ini yang menjadi proses-proses penting bagaimana membangun kolaborasi, tetapi kolaborasi kita tidak hanya nasional juga internasional. Ini menjadi peran penting SDM Iptek kita untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas untuk memajukan pengetahuan dan kualitas riset di Indonesia,” jabarnya. 

“Kami mendapatkan interaksi secara intensif tidak secara umum, tetapi kami bisa mendapatkan diskusi satu per satu dari para peneliti dan kami berinterkasi satu dengan yang lain,” kesan Has.

“Keberlanjutan dari program ini akan seperti apa dan bagaimana kebijakan-kebijakan akan diterapkan, dan interaksi antar peneliti internasional dan nasional itu akan seperti apa model dan formatnya,” pesannya.

Dirinya berharap apa yang peserta tulis harusnya bisa diterbitkan dan dipublikasikan dengan pendampingan tuntas. “Tidak sekedar kami dapat masukan dan komentar yang pernah kami ajukan dan kami tulis, tetapi harus sampai produk akhir publikasi apakah itu dalam bentuk buku, prosiding, artikel jurnal. Ini harus dapat kepastian dari penyelenggara bahwa kita bicara product knowledge harus ada wujud kongkrit dari kegiatan ini, yakni produksi pengetahuan lewat publikasi agar menjadi angkah awal menjadi contoh kepada program-program berikutnya,” urai Has. 

“Tidak sekedar interaksi, tetapi  ada produk yang kongkrit yang nanti para peserta bawa pulang untuk dibaca kembali,” jelasnya.

Pada kelas Sustainable Cities and Energy, peserta Priya Alfarizki Baskara, Arsitektur Universitas Indonesia mengatakan program ini merupakan hal yang menarik dan bukan berangkat dari akademisi karena ini suatu hal yang baru serta peluag yang luar biasa karena untuk biayanya hampir tidak ada. “Mungkin ini suatu langkah dari negara untuk mencoba membuat kolaborasi dari dari tiga universitas di Belanda, yaitu Leiden University, Delft University of Technology, dan Erasmus University Rotterdam,” ujarnya.

Bagi Priya ini menarik bisa ada kerja sama mendapat perspektif lain dari orang-orang Eropa dalam akademis itu sendiri. 

“BRIN-LDE Academic 2022 merupakan program akademik awal, jadi program ini sudah baik dari segi waktu dan penyelenggaraan,” ujarnya.

“Untuk perwujudan dari hasil kerja sama mungkin tidak hanya berhenti di atas kertas, mungkin bisa diaplikasikan, bisa menjadi saran pemerintah, dan bentuk penyampaian aspirasi ke industri, dan sebagainya,” saran Priya.

Dalam program ini Priya melakukan riset tentang ‘Material Berkelanjutan’ yaitu mencoba menginvestigasi terkait karbon pada material beton itu dengan pendekatan biomimetik. Ia melakukan diskusi dengan meminta feedback atau dari kasusnya. (hrd/ ed. adl)