Categories
Nanoteknologi & Material Riset & Inovasi

Identifikasi Akuifer dengan Interpretasi Model 3D Data Resistivitas

Tangerang Selatan, Humas BRIN. Hilmi El Hafidz Fatahilah, periset Pusat Riset Teknologi Pertambangan – Badan Riset dan Inovasi Nasional, pada Selasa (31/5) memaparkan risetnya yang berjudul ‘Identifikasi Persebaran Formasi Breksi Vulkanik untuk Mengetahui Potensi Air Tanah di Sekitar Area Pertambangan Menggunakan Pemodelan 3D Data Resistivitas’. Topik riset tersebut dipresentasikan pada webinar ORNAMAT seri #3 tahun 2022 di lingkungan  Organisasi Riset Nano Teknologi dan Material BRIN.

Hilmi menjabarkan proses identifikasi formasi batuan breksia vulkanik dalam kaitannya terhadap potensi sebagai akuifer air tanah di area pertambangan. Dalam riset ini digunakan pemodelan tiga dimensi dari data resistivitas bawah permukaan. “Riset yang kami lakukan ini adalah bagian dari riset terpadu hidrogeologi di area pertambangan,” kata Hilmi. 

Riset ini didasari dari kebutuhan untuk menemukan potensi akuifer dalam di area pertambangan untuk kegiatan pendukung dari pertambangan dan kegiatan pemprosesan dari hasil-hasil tambang. “Penelitian ini dilakukan dengan cara mengidentifikasi geometri dan mengestimasi volume dari potensi akuifer area studi, mengimplementasikan pemodelan 3D, serta inversi metode robust untuk studi hidrogeologi ini,” ujar Hilmi.

Penelitian diawali dari studi literatur yang selanjutnya diteruskan dengan pengamatan geologi observasi yang hasilnya diketahui bahwa area studi ini memiliki litologi berupa breksia vulkanik, aglomerat, lava, tuff, dan alluvium. Selain itu tim riset geologi juga melakukan infiltration test, untuk mengetahui batuan mana yang memiliki potensi akuifer. Hasilnya didapatkan bahwa vulkanik memiliki potensi paling kuat untuk menjadi akuifer di area studi ini.

Metode Resistivitas

Pada dasarnya metode resistivitas merupakan metode untuk mengukur tahanan jenis bawah permukaan atau resistivitas bawah permukaan dengan cara menginjeksikan arus melalui elektroda arus lalu mengukur nilai tegangannya melalui elektroda potensial. Setelah diketahui nilai arus yang diinjeksikan dan nilai potensialnya yang terukur, lalu nilai tahanan dan resistansi dihitung. Selanjutnya, nilai resistansi dikalikan dengan nilai faktor geometri untuk mendapatkan nilai tahanan jenis semu (app) bawah permukaan.

Faktor geometri bergantung dengan konfigurasi elektroda yang digunakan. “Elektroda ini dapat diletakkan dalam berbagai macam posisi yang segaris dan dalam penelitian ini kita menggunakan konfigurasi Wenner-Schlumberger. Pada konfigurasi ini terdapat dua elektroda arus yang mengapit dua elektroda potensial,” jelas Hilmi.

Dalam pengukuran resistivitas tersebut, digunakan alat berupa Ares resistivity meter G4, external switchbox, elektroda, kabel multicores  48 channels, dan baterai.

Di PR Teknologi Pertambangan sendiri telah mampu memproduksi kabel multicores 48 channels yang disesuaikan dengan spasi antar elektroda yang dibutuhkan.

Desain Survei

Setelah memahami metode resistivitas, selanjutnya membuat desain survei. “Dari hasil survei geologi, kami tim geofisika membuat rencana lintasan survei di daerah target yang telah ditentukan dan menentukan spasi elektroda sesuai target yang diinginkan. Pada arah northwest-southeast menggunakan spasi elektroda sebesar 15 meter, dan arah northeast-southwest sebesar 20 meter,” papar Hilmi.

Akusisi Data

Setelah desain dan rencana survei terbentuk, kegiatan akusisi data dilakukan. Dalam akusisi data resistivitas, tahapan kegiatan diawali dengan membuat lintasan pengukuran dan memberikan tanda sesuai spasi elektroda yang telah ditentukan. Selanjutnya, kabel dan elektroda dipasang sesuai desain survei dan sesuai tanda yang telah dibuat, lalu kabel dihubungkan dengan switchbox dan konsol resistivitimeter untuk melakukan pengukuran resistivitas bawah permukaan dengan menggunakan konfigurasi elektroda yang telah ditentukan, yaitu menggunakan Wenner-Schumberger.

“Untuk memperoleh keakuratan dalam perhitungan estimasi volume akuiferserta geometri yang tepat dalam pemodelan 3D, kita merekam koordinat setiap elektroda menggunakan GPS Geodetik. Jadi dengan ini kita mendapatkan posisi koodinat X, Y, dan Z secara akurat seningga pemodelan dapat dilakukan dengan baik,” terangnya.

Proses Data Resistivitas

Setelah mengukur resistivitas di semua lintasan, dan merekam posisi elektroda di setiap titik. Selanjutnya dilakukan pemrosesan data resistivitas tersebut.

Kemudian dilakukan interpretasi nilai resistivitas ke dalam litologi berdasarkan literatur yang sudah ada. “Di dalam dunia geofisika kita memiliki literatur tentang nilai tahanan jenis (nilai resitivitas) masing-masing batuan dan kita jadikan acuan. Selain itu, kita juga menggunakan pedoman dari hasil pengamatan geologi(data-data litologi yang ada di area pengukuran) dan dari pengamatan tersebut, breksia vulkanik yang diketahui memiliki nilai resistivitas 0-20 Ωm, agglomerate 21-73 Ωm, dan lava > 73 Ωm,”ungkapnya.

Pemodelan 3D

Pemodelan 3D data resistivitas dilakukan setelah pemrosesan data resistivitas secara 2D pada semua profil lintasan pengukuran. “Dari data 2D persebaran resistivitas yang didapat kemudian kita ekstrak nilai resistivitas sebenarnya (true reisistivity value) dan nilai kedalaman datumnya. Selanjutnya, kami gabungkan dengan koordinat X dan Y dari masing-masing elektroda, lalu kami dapatkan persebaran nilai resistivitas secara 3D,” jelas Hilmi.

Hasil dari pemodelan 3D persebaran nilai resistivitas bawah permukaan selanjutnya diklasifikasikan berdasarkan nilai resistivitas setiap litologi yang telah diinterpretasikan. Interpretasi nilai resistivitas pada model 3D ini memberikan informasi mengenai persebaran litologi bawah permukaan dan geometri litologi bawah permukaan. Model 3D yang telah diinterpretasi ini juga dapat digunakan sebagai acuan dalam pemilihan lokasi lubang sumur.

Selain itu, dari interpretasi data 3D ini, Volume dari batuan breksi vulkanik yang diketahui memiliki potensi besar sebagai akuifer juga dapat dihitung dan didapatkan estimasi volumenya sebesar 122,392,828 m3 m3.

“Selanjutnya dalam penelitian ini, kita berharap dapat melakukan implementasi metode resistivitas dengan beberapa penyesuaian untuk melakukan eksplorasi, tidak terbatas pada hidrologi, tetapi juga pada tipe-tipe deposit dari mineral berharga seperti nikel laterit, endapan sulfida yang memuat banyak mineral berharga, dan tipe deposit mineral berharga lainnya,” harap periset Kelompok Riset Eksplorasi Pertambangan. (hrd/ed:adl)

Categories
Nanoteknologi & Material Riset & Inovasi

Pemanfaatan Terak Feronikel melalui Ekstraksi Piro-Hidro

Tangerang Selatan, Humas BRIN. Agus Budi Prasetyo, periset Pusat Riset Metalurgi – Badan Riset dan Inovasi Nasional, pada Selasa (31/5) menyampaikan penelitiannya yang berjudul ‘Terak Feronikel sebagai Secondary Resources Mineral Berharga melalui Ekstraksi Piro-Hidrometalurgi’. Topik riset tersebut dipresentasikan pada webinar ORNAMAT seri #3 tahun 2022 di lingkungan  Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material BRIN.

Agus Budi membagikan pengalamannya terutama di bidang ekstraksi metalurgi khusus untuk sumber daya sekunder. Terak Feronikel merupakan limbah buangan (by product) dari pengolahan feronikel dari nikel laterit yang ada di Indonesia.  “Kami menggunakan proses Ekstraksi Piro-Hidro ini dengan harapan bisa memanfaatkan dari terak tersebut untuk dimanfaatkan bahan-bahan yang masih berharga atau unsur-unsur yang ada di dalam Terak Feronikel,” ujar Agus.

Indonesia merupakan negara yang diberikan suatu cadangan yang melimpah terutama untuk nikel laterit. Menurut sumber USGS tahun 2020, bahwa 24% cadangan nikel di dunia yaitu dari Indonesia.

Salah satu pengolahan yang dilakukan terhadap nikel laterit yaitu proses pembuatan Feronikel dengan proses RKEF (rotary kiln electric furnace) yang dari hasil proses tersebut menghasilkan produk samping berupa terak feronikel.

“Untuk produk 1 juta ton feronikel dapat menghasilkan sekitar 6 – 8 juta ton Terak Feronikel, jadi untuk menghasilkan 1 ton produk samping dari terak ini bisa mencapai 6- 8 juta ton, sehingga ini merupakan suatu hasil/limbah buangan yang begitu banyak,” jelasnya.

Dari beberpa literatur dan pengalaman, bahwa kandungan di terak feronikel ini masih banyak unsur berharga, seperti magnesium, silika, nikel, kobalt, kromium, besi, dan logam tanah jarang ( LTJ).

Sementara untuk pemanfaatan Terak Feronikel selama ini banyak digunakan sebagai bahan uruk, bahan konstruksi, untuk campuran semen, pemanfaatan pupuk, bahan baku batako, dan genteng yang berasa dari terak. 

Potensi Terak Feronikel (TFN)

Dari beberapa literatur menyebutkan masih bisa mengekstrak logam-logam yang ada di dalam TFN, seperti untuk ekstraksi nikel, magnesium, silika, dan sebagaimya. “Tim kami mencoba untuk pemanfaatkan TFN juga dengan beberapa metode atau proses yang dimodifikasi,” terang Agus.

Dari beberapa literatur potensi yang paling tinggi adalah silika dan magnesium. Silika manfaatnya sangat banyak pada industri keramik, cat, industri karet, ban, gelas, kosmetik, konstruksi, dan sebagai campuran untuk aspal.

Menurut sumber Indonesian.alibaba.com bahwa harga untuk silika presipitat, silika amorf, dan nano silika sangat tinggi dengan per-kg bisa mencapai US$ 100/kg.

Kemudian manfaat magnesium sendiri dalam bentuk oksida sebagai bahan baku refraktori, bahan baku pembuat pasta gigi, industri cat dan tinta, industri farmasi dan kosmetik, bahan baku pupuk tanaman, dan sebagai paduan logam. Dengan harga pasar yang sangat tinggi seperti magnesium oksida bubuk, baik yang murni atau pun masih 60 – 95%, bahkan food grade bisa mencapai US$ 1000/ton.

Kemudian potensi yang lain seperti potensi LTJ yang ada di Terak Feronikel, bahwa sekarang pangsa pasar dan produsen dikuasai oleh Cina, USA, Australia, Malaysia, dan India. Beberapa aplikasi yang bisa dimanfaatkan dari LTJ, diantaranya untuk magnet, baterai, katalis, dan sebagai dengan harga yang sangat tinggi. Seperti untuk cerium dan lantanum dalam bentuk oksida bervariasi harganya. Kebutuhan dunia pada tahun 2020, menurut Dutta et al. mencapai 200.000 ton. 

Alur Penelitian

Dari itu semua, kelompok penelitian tim Agus mencoba untuk memanfaatkan atau mengekstrak beberapa logam yang berharga, antara lain:

  1. Kita coba untuk roasting fusi alkali dengan memanfaatkan natrium karbonat sampai 10000C memberikan efek peningkatan intensitas fsa SiO2 dan terbentuknya sodium silikat (Na2SiO3).
  2. Kemudian kita coba proses dengan water leaching dengan air terhadap sampel hasil fusi alkali, menghasilkan pelarutan SiO2 dengan persen ekstraksi paling tinggi sebesar 45,33%, dan dapat menghasilkan silika presipitat.
  3. Dan dari residu dcoba diiolah lagi dengan proses penindian secara asam dengan menggunakan asam klorida (HCl) terhadap magnesium sebesar 82,67%, cerium 92,63% dan lanthanum 86,82%.

“Jadi ekstraksi logam-logam berharga dari TFN bisa dilakukan dengan proses bertahap piro-hidrometalurgi, dan ini bukan suatu proses akhir konsentrasi, tetapi awal dari pemanfaatan ini karena masih ada tahapan lain untuk memisahkan magnesium, lantanum, sebagai oksida yang bisa dimanfaatkan untuk industri-industri yang membutuhkan,” tutup periset Kelompok Riset Ekstraksi Metalurgi dari Ekstraksi Sumber Daya Sekunder. (hrd/ ed: adl)

Categories
Kawan Alam

Kampung Teuweul, Destinasi Wisata Edukatif Lebah Madu

Kota Bogor yang terletak tak jauh dari ibu kota Jakarta, sudah lama menjadi destinasi wisata bagi para pelancong. Terdapat sejumlah lokasi yang menawarkan wisata kuliner, wisata alam, wisata pendidikan, dan wisata belanja. Namun selain itu, kota Bogor mempunyai potensi wisata alternatif berupa aneka Kampung Tematik dengan keunikan masing-masing. 

Salah satu destinasi Kampung Tematik yang dapat dijadikan pilihan bagi wisatawan adalah Kampung Teuweul. Di tempat ini dikembangkan budidaya lebah madu tanpa sengat yang disebut lebah Trigona. Kampung Teuweul berada di RT1/ RW 05, Kelurahan Sindang Barang, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor.  Cukup mudah untuk mengunjungi Kampung Teuweul ini. Jarak dari pusat kota sekitar 4,5 km, dari Stasiun Bogor 4 km, dan terminal Merdeka 3,5 km.

Dalam rangka penjajakan untuk pengembangan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat, penulis dan staf yang berasal dari Departemen Arsitektur Lanskap, Faperta, IPB, staf Bappeda, serta staf dari beberapa Dinas Kota Bogor berkunjung ke Kampung Teuweul pada Selasa (17/5). Kami diterima dengan sangat ramah oleh Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Gunadi, juga timnya yang berseragam hijau cerah.  

Gunadi menyampaikan bahwa nama Kampung Teuweul diberikan oleh pihak Kelurahan Sindang Barang, pada Februari 2022, dengan diterbitkannya SK Kepala Desa Sindang Barang pada area kavling Panorama. Area ini merupakan komplek perumahan asri yang terdiri dari 115 kepala keluarga (KK).

Menurutnya, kualitas madu yang dihasilkan di Kampung Teuweul tidak kalah dengan jenis madu lainnya. “Arti teuweul adalah lebah madu yang tidak menyengat, dan madu Trigona ini mempunyai kualitas yang lebih baik dibandingkan madu Aphis,” ujar Gunadi.

Dalam beberapa bulan terakhir ini, Tim Pokdarwis menata lingkungan, mempersiapkan warga, serta menyiapkan program wisata edukatif.   Salah satu kegiatan penting yang dilakukan adalah menanam.

“Kavling-kavling yang belum dibangun, yang semula semak atau kebun kurang terawat, ditanami  dengan beragam tanaman yang diperlukan dalam budidaya lebah madu. Dari berbagai jenis tanaman berbunga dan tanaman penghasil getah,” tuturnya.   

Kondisi lingkungan Kampung Teuweul cukup asri, yaitu diapit oleh Sungai Cisadane dengan sempadan sungai berupa vegetasi  yang menghijau. Di sini terdapat juga kebun Kelompok Wanita Tani (KWT) dengan budidaya  sayuran organik. Pepohonan bambu serta pohon lain yang tumbuh di daerah lereng yang membatasi kampung ini. 

Beberapa kebun yang semula tidak rapi telah berubah menjadi kebun asri dengan beragam jenis tanaman bunga. Pada jam siang hari, terlihat lebah Trigona yang kecil-kecil menghampiri bunga-bunga yang bermekaran.

Lebih lanjut Gunadi menerangkan beberapa jenis tanaman berbunga yang utama dan jenis tanaman penunjang, yang bermanfaat untuk mendukung keberhasilan produksi madu.

“Sebelum dikembangkan Kampung Teuweul, di kavling Panorama telah ada produsen madu yang sudah cukup lama dikenal, yaitu Bapak Mahani. Beliau telah dikenal sebagai pakar madu yang tidak saja dikenal di tingkat nasional, juga di negara-negala lain,” ucapnya. 

Berikutnya beberapa orang turut mengembangkan budidaya madu, selain Gunadi dengan kebunnya yang cukup luas, 1300 m2, ada pula bapak-bapak lainnya. Produk yang telah dihasilkan beberapa pengusaha madu antara lain madu dan propolis.

Pengembangan budidaya lebah madu yang dilakukan di Kampung Teuweul adalah menempatkan 20 stuff, yakni koloni lebah dalam kandung kayu. Stuff diletakkan di pekarangan warga yang berminat dan berkomitmen untuk melakukan budidaya lebah madu. 

Sistem stuff atau koloni lebah tersebut adalah dipinjamkan kepada warga. Setelah panen dua kali yang  dilakukan oleh Tim Pengelola Kampung Wisata Teuweul, koloni lebah akan menjadi milik warga.  Melalui sistem ini, diharapkan semakin banyak warga kampung Teuweul yang ikut berpartisipasi memelihara lebah Trigona.

Pada saat kunjungan, peserta diajak melihat beberapa lokasi produsen madu dan melihat kologi yang ada di pekarangan warga.  Pada salah satu area lebah madu, dijelaskan oleh pemiliknya, Agus, bahwa selain jenis tanaman yang diperlukan lebah Trigona, ia menanam lemon. 

“Tanaman lemon berbuah lebat dengan hasil buah yang sangat baik, karena lebah-lebah mungil tersebut  membantu penyerbukan pada tanaman lemon,” ungkap Agus. 

Pada kesempatan tersebut, di kampung Teuweul tampak beberapa ibu yang sedang berjemur menghangatkan badan di sekitar kebun dengan aneka tanaman bunga. Menurut mereka, warga juga bersemangat mendukung kampung wisata dan mulai menanam beragam jenis bunga. Maka tak heran lingkungan di Kampung Teuweul begitu asri.

Bagi Gunadi yang berpengalaman bekerja di sektor pariwisata, sebenarnya sudah cukup lama menginginkan pengembangan kampung wisata di Kavling Panorama. Pada saat pandemi covid-19, kesibukan dirinya menurun, sehingga bisa fokus merencanakan pengembangan kampung tematik ini.

“Beberapa alasan perlu dikembangkan Wisata Edukatif Lebah Madu antara lain karena ada potensi di kavling Panorama, yaitu telah ada beberapa produsen madu.  Terdapat cukup banyak lahan, sekitar 8000 m2, yang dapat ditanami bunga-bungaan dan jenis tanaman lain,” urainya.

Demi menyiapkan Kampung Teuweul sebagai destinasi wisata alternatif yang banyak manfaat, Gunadi dan tim terus bekerja tanpa lelah. Melalui sosialisasi ke pimpinan tingkat kelurahan hingga tingkat kota dan bekerja sama dengan komunitas yang mendukung seperti KWT.

Secara bertahap,  berbagai  kegiatan  terus dilakukan untuk  terwujudnya Kampung Teuweul yang diidam-idamkan. “Hal ini sebagai upaya kami meningkatkan ekonomi masyarakat, serta memberikan edukasi yang bermanfaat untuk berbagai kalangan,” pungkasnya. (tb/ ed: adl)

Categories
Nanoteknologi & Material

Sinergi KST BRIN dan UNHAN RI Fasilitasi Platform Infrastruktur Riset Terbuka

Serpong, Humas BRIN. Dalam rangka memfasilitasi keperluan para kadet mahasiswa, mengembangkan wawasan akan riset penelitian, Universitas Pertahanan Republik Indonesia (UNHAN RI) dan Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Serpong melakukan kunjungan kuliah lapangan, pada Kamis, (19/5), di Puspiptek, Serpong.

Kedatangan UNHAN tersebut diikuti 50 orang peserta terdiri dari Kadet Mahasiswa Program Studi Fisika dan didamping dosen Program Srangka, dan Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Militer.

“Kami berharap kunjungan ini bisa mendapat gambaran kondisi iptek di Indonesia khususnya terkait fisika. Dengan begitu mereka terinspirasi bagaimana ke depannya terkait yang kembangkan, itu yang paling utamanya,” ucap Ence Darmo Jaya Supena, Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Militer.

Kemudian Ence mengatakan yang masih menjadi kendala adalah di UNHAN belum mempunyai fasilitas riset lengkap. Untuk menambah wawasan, tidak ada jalan lain harus melalui magang atau riset.

“Mudah-mudahan setelah kunjungan ini selesai, ada tindak lanjut dengan bisa dibuatkan kerjasamanya, sehingga dengan kerja sama  bukan hanya kami yang menggunakan yang ada di sini tetapi kami harap saling timbal balik,” pesannya.

Kepala Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material (OR NM) BRIN, Ratno Nuryadi mengatakan bahwa untuk mencapai tugas pemerintahan di bidang penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan, serta invensi dan inovasi, BRIN mempunyai strategi-strategi yang dapat dilakukan. Diantaranya adalah Manajemen Talenta Nasional BRIN untuk memotivasi, memacu, agar talenta-talenta nasional khususnya yang muda-muda, sudah tumbuh dari sejak awal,” papar Ratno.

Saat ini BRIN memiliki kebijakan platform infrastruktur riset terbuka dan alat-alat laboratorium. “Jadi infrastruktur boleh digunakan secara gratis kepada mitra seperti akademisi, dosen, mahasiswa, pelaku usaha, industri dalam maupun luar negeri tetapi dengan syarat kolaborasi dengan kami. Ketika nanti di dengan kolaborasi dengan para periset BRIN,  maka open platform bisa kita maksimalkan dengan sebaik mungkin,” kata Ratno.

“Berikutnya ada skema kolaborasi terkait dengan adik-adik mahasiswa yang disebut mobilitas periset. Bahwa para mahasiswa saat ini bisa terlibat dalam program-program yang ada di BRIN seperti S1, S2, S3, dan seterusnya,” imbuhnya.

Selain itu, BRIN mempunyai skema Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) seperti melakukan magang riset selama enam bulan dengan bisa bereksperimen. Mahasiswa bisa praktik bagaimana memegang alat, sintesa, karakterisasi, pegang alat ukur, mengambil data, bahkan menulis karya tulis ilmiah.

“Tidak hanya MBKM saja, termasuk program tugas akhir S1, S2, S3 bisa dikerjakan dengan berkolaborasi dengan kami dengan masuk di salah satu kelompok riset. Kemudian ada program degree by research yang tidak hanya diperuntukkan pegawai BRIN saja tetapi juga eksternal yang tertarik untuk S2 dan S3,” harap Ratno.

“Termasuk juga ketika sudah selesai S3 pun, bila masih berkeinginan riset di BRIN, bisa datang menjadi post doctoral, periset tamu, dosen tamu atau visiting professor dalam maupun luar negeri,” lanjutnya.

Menurut Ratno, BRIN hadir untuk lebih memberikan semangat ekosistem riset dan inovasi di Indonesia. Dirinya sangat menyambut baik agar kunjungan ini bisa ditindaklanjuti dengan kerja sama dan kolaborasi.

Pada kesempatan terpisah, Sesprodi Fisika UNHAN , M. Zuhnir P.  mengatakan bahwa dirinya sangat mengapresiasi penerimaan dari BRIN. “Setelah menerima paparan BRIN tadi, kami sangat antusias, karena memang kadet mahasiswa UNHAN dari program S1 itu adalah diprogramkan Pak Menhan Prabowo untuk menguasai STEM (science, teknology, engineering, and mathematics),” ujarnya.

“Upaya-upaya kita untuk menuju ke STEM itu harus dimulai dari mengenalkan kepada mereka apa itu ilmuwan. Alhamdulillah, Kawasan Sains dan Teknologi (KST) ini memiliki banyak fasilitas,” ungkap Zuhnir.

Zuhnir berharap nanti dengan fasilitas yang ada di BRIN, akan bisa berkolaborasi dengan S1 di UNHAN yang baru berjalan dua tahun. Oleh karena itu, masih terbatas fasilitas laboratorium, begitu juga untuk dosennya.

“Ada dua yang ingin kami capai, yaitu pertama untuk memfasilitasi keperluan para kader mahasiswa, yang kedua untuk mengembangkan riset penelitian dari para dosen. Kami di prodi fisika ini sudah memiliki beberapa fokus bidang  diantaranya material maju, energi, instrumen, komputansi, dan lain-lain,” jelas Zuhnir.

“Inilah yang kami harapkan, dua target ini bisa ditindaklanjuti, setelah ini ada kerja sama dengan organisasi riset. Baik dari sisi kepentingan mahasiswa dan kepentingan untuk dosen,” pungkasnya.

Para peserta kemudian diajak untuk berkunjung ke fasilitas Pusat Riset Teknoologi Pengujian dan Standar, Pusat Riset Fisika Kuantum, dan Pusat Riset Elektronika. (hrd/ ed: adl)

Categories
Kawan Alam

Selamat Lebaran!

Assalamualaikum..

Haloo..

Bulbul atas nama Kawan Alam ingin mengucapkan Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1443 H. Mohon maaf lahir dan batin.. ^w^

Categories
Nanoteknologi & Material

Mengembangkan Potensi Riset Inovasi Nanoteknologi dan Material di Indonesia

Potensi nanoteknologi dan material di Indonesia sangat besar. Hal tersebut didukung oleh kekayaan negeri ini akan sumber daya alam mineral maupun hayati. Pemanfaatan sumber daya alam tersebut perlu mendapatkan sentuhan teknologi, termasuk riset dan inovasi nanoteknologi dan material, untuk memberikan nilai tambah tinggi dan menaikkan nilai ekonomi.

“Penguasaan nanoteknologi juga dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia di  dalam negeri, sehingga Indonesia dapat menjadi bangsa mandiri dan berdaya saing,” ujar Ratno Nuryadi, Kepala Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material – Badan Riset dan Inovasi Nasional (OR NM – BRIN), saat ditemui humas pada Rabu (23/3).

Menurut Ratno, cakupan riset  yang  ada  di OR NM melingkupi riset dari hulu hingga hilir. “Di hulu dari teknologi eksplorasi pertambangan termasuk penambangan ramah lingkungan, dilanjutkan teknologi metalurgi ekstraksi primer dan sekunder hingga desain dan rekayasa paduan logam, pengembangan material maju, kimia maju, teknologi polimer, hingga potensi aplikasi material dengan berbagai studi terkait teori, komputasi, dan berbagai aplikasi untuk industri,” ungkapnya.

Cakupan riset tersebut masuk dalam tujuh pusat riset (PR) di bawah OR NM, yaitu PR Teknologi Pertambangan, PR Metalurgi, PR Material Maju, PR Kimia Maju, PR Teknologi Polimer, PR Fisika Kuantum, dan PR Fotonik.

“Yang menjadi tantangan ke depan dalam koordinasi riset adalah lokasi satuan kerja periset tersebar di berbagai lokasi, seperti PR Teknologi Pertambangan yang berada di Lampung, Serpong, Bogor, dan Bandung,” terang Kepala OR NM yang memiliki home base di Kawasan Puspiptek Serpong.

Sejak dilantik sebagai Kepala OR pada 4 Maret 2022, Ratno memasang target untuk menjadikan OR NM sebagai world class research institute. “Untuk mencapai target yang diinginkan, di internal kami berupaya meningkatkan kualitas riset OR. Sementara bagi para periset akan dilakukan internalisasi budaya riset, dan peremajaan peralatan laboratorium yang bertujuan meningkatkan kuantitas dan kualitas publikasi global,” jelasnya.

Sementara secara eksternal, ia mengupayakan adanya program kolaborasi riset dengan pihak universitas dan industri di dalam dan luar negeri. “Program dalam satu Kelompok Riset minimal ada satu kolaborasi riset dan sister laboratory,” sebut  penerima penghargaan Periset Muda Berprestasi dari Achmad Bakrie tahun 2010.

Dirinya mendukung program peningkatan SDM periset yang ada di BRIN. “Rekrutmen talenta terbaik melalui skema non-permanen di Deputi Sumber Daya Manusia dan IPTEK, menjadi profesor tamu, sebagai periset tamu, pasca-doktoral, asisten riset, maupun dengan mengundang mahasiswa yang sedang studi tingkat doktoral di luar negeri, untuk menjadi pegawai Badan Riset dan Inovasi Nasional,” urainya.

Alumni Universitas Shizuoka, Jepang ini berharap sivitas periset OR NM dapat cepat beradaptasi dengan reorganisasi BRIN, bergerak lentur mengikuti ritme kegiatan riset yang sudah direncanakan untuk mendapatkan output riset.  

“Baik itu ouput riset yang memberikan kontribusi positif kepada komunitas saintifik, juga output riset yang bisa dimanfaatkan oleh industri dan masyarakat. Hal itu dapat terlaksana jika sivitas di OR bisa memaksimalkan skema dukungan riset yang sudah ada di program-program Kedeputian BRIN,” ucap Perekayasa Berprestasi Bidang Teknologi Nano tahun 2011.

Pria kelahiran Bantul ini menjabarkan rencana ke depan untuk mengupayakan pendanaan dari eksternal, sehingga tidak bergantung kepada anggaran DIPA. “Hal ini dalam rangka untuk mewujudkan mimpi BRIN, agar ke depannya dana riset tidak didominasi lagi oleh pemerintah. Inilah pentingnya pelibatan kolaborasi eksternal dalam pendanaan riset, baik dari universitas maupun industri di dalam dan luar negeri,” terangnya.

Secara persuasif, Ratno melakukan supervisi untuk pengawasan, pendampingan, dan pembimbingan bagi periset di OR NM. “Baik supervisi secara terencana melalui monitoring dan evaluasi, juga supervisi langsung melalui pengelolaan anggaran dan menyukseskan Rumah Program OR NM,” tegasnya.

Riset Aplikatif Nanoteknologi dan Material

Sebagai profesor riset yang mendalami riset material elektronik, ia mengembangkan material fungsional termasuk instrumentasinya untuk sensor lingkungan berupa gas dan biosensor kesehatan. Material fungsional sensor dan instrumentasi yang dikembangkan merupakan perangkat yang digunakan untuk mendeteksi adanya perubahan parameter lingkungan fisik, kimia, dan biologi. “Penerapan nanoteknologi untuk sensor membuka kemungkinan ukuran sensor menjadi jauh lebih kecil,” kata Ratno.

Berbekal ilmu nanosains di bidang semikonduktor silikon berstruktur nano yang diperoleh selama studi di Shizuoka University Jepang. Dia mengembangkan material fungsional lapisan tipis ZnO (oksida zinc) untuk mendeteksi gas CO, CO2, O2, dan metana dan konsentrasi rendah.

Proses pendeteksian gas tersebut dilakukan dengan perangkat MEMS (microelectromechanical systems), surface plasmon resonance, dan perangkat perubahan konduktivitas. “Sensor gas merupakan perangkat yang berguna untuk mendeteksi keberadaan gas atau konsentrasi gas, sesuai dengan jenis gas yang diukur, di lingkungan tertentu, seperti kebocoran gas baik pada rumah maupun industri,” ucap doktor bidang teknik ini.

Pengembangan sensor untuk aplikasi kesehatan (biosensor) juga dilakukan oleh Ratno dan tim, seperti mendeteksi keberadaan virus dan sel yang berguna di dunia kedokteran. Kolaborasi riset dilaksanakan dengan Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Swiss-German University (SGU), Institut Teknologi Indonesia (ITI), dan Shizuoka University Jepang.

Baginya, banyak mahasiswa dan periset asal Indonesia yang berjaya di kancah Internasional ketika mendapatkan kesempatan menimba ilmu dan berkarya. “BRIN saat ini membuka banyak peluang bagi mahasiswa dan periset muda untuk bersama-sama berkarya di BRIN atau berkolaborasi dengan BRIN termasuk riset di bidang nanoteknologi dan material,” cakap Young Researcher Award dari Japan Society for Applied Physics tahun 2004.

Sebagai pamungkas, Ratno memberikan pesan untuk memacu semangat generasi muda Indonesia. “Revolusi Industri 4.0 yang merupakan era cyber physical system yang melahirkan Society 5.0, yaitu era integrasi ruang fisik dan dunia maya. Hal tersebut didorong oleh perkembangan nanoteknologi dan material, sehingga riset nanoteknologi dan material sangat berkait dengan teknologi terbaru saat ini dan teknologi masa depan,” pungkasnya. (mf/ ed: adl)

Categories
Kawan Alam

Berkebun Kreatif

Hai #kawanalam.. Apakah suka berkebun? Berkebun banyak manfaatnya, misalnya kita bisa panen sayuran sendiri tanpa harus belanja ke pasar atau supermarket..

Oya, ternyata berkebun itu tidak membutuhkan lahan yang luas loh.. Kita bisa bertanam di lahan yang terbatas secara vertikal.. Pada satu tempat menanam, bisa dicampur beberapa jenis bibit sayuran.

Ini contohnya, dari hasil berkebun vertikal yang dilakukan secara organik, dapat hasil panen yang beraneka ragam.. Ada bayam jepang, bayam brazil, som jawa, sirih air, kangkung, jinten, daun ubi ungu.

Hasil panenannya pun bisa dimasak beberapa kali, seperti menu orak-arik telur dicampur dengan sayuran organik. Enak, mudah, dan sehat pastinya..

Yuk, kita berkebun kreatif..:-)

Categories
-----

Assalamualaikum..

sharing is caring! 🙂

Halo, selamat datang di mariberbagi.info, teman-teman.. Di sini kita akan saling berbagi informasi tentang berbagai hal yang bermanfaat, seperti ilmu pengetahuan dari alam, teknologi yang ramah lingkungan, serta inovasi yang ada di masyarakat.. Yuk, saling berbagi!