PlungDAT, Pelampung Cerdas Pantau Kualitas Air Secara Real-Time

Tangerang Selatan – Humas BRINMenurunnya kualitas sumber daya air dan meningkatnya ancaman pencemaran sungai menjadi tantangan besar dalam pengelolaan lingkungan di Indonesia. Selama ini, pemantauan kualitas air umumnya masih dilakukan secara manual pada titik-titik tertentu sehingga belum mampu menggambarkan kondisi sungai secara menyeluruh dari hulu hingga hilir.

Menjawab tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan PlungDAT (Pelampung dengan Penggerak Otomatis dan Terkontrol Secara Online), sebuah purwarupa pelampung cerdas yang mampu memantau kualitas air secara real-time (waktu nyata), sambil bergerak mengikuti aliran sungai maupun dikendalikan dari jarak jauh. Inovasi ini telah didaftarkan sebagai paten dengan nomor P00202512585.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Fotonika BRIN, Bambang Widiyatmoko, yang menjadi koordinator penelitian, menjelaskan PlungDAT dikembangkan untuk mengatasi keterbatasan metode pemantauan kualitas air yang selama ini bersifat stasioner.

“Selama ini, pemantauan kualitas air umumnya dilakukan secara stasioner sehingga informasi yang diperoleh sangat terbatas. Padahal, kondisi sungai dapat berubah hanya dalam beberapa ratus meter,” ujarnya, dalam keterangan tertulis kepada Tim Humas BRIN, Senin (27/7).

“Kami ingin menghadirkan sistem yang mampu memetakan perubahan kualitas air secara menyeluruh. Sehingga, sumber pencemaran dapat diidentifikasi dengan lebih cepat,” tambahnya.

Berbeda dengan alat ukur konvensional yang hanya ditempatkan pada satu lokasi, PlungDAT dirancang untuk bergerak sepanjang aliran sungai sehingga mampu menghasilkan profil kualitas air dari hulu hingga hilir. Sistem ini mengintegrasikan berbagai sensor lingkungan, GPS, modul komunikasi nirkabel, mikrokontroler, dan sistem penggerak otomatis dalam satu perangkat yang ringkas.

Bambang mengibaratkan teknologi tersebut sebagai laboratorium yang bergerak di atas permukaan air. “Konsep yang kami kembangkan adalah laboratorium berjalan di atas air. Pelampung ini dapat mengukur berbagai parameter kualitas air sekaligus mengetahui posisi pengukurannya secara akurat melalui GPS,” jelasnya.

PlungDAT dilengkapi sejumlah sensor yang berfungsi mengukur empat parameter utama kualitas air, yaitu pH, kekeruhan, dissolved oxygen (DO) atau oksigen terlarut, dan salinitas. Keempat parameter tersebut merupakan indikator penting untuk menilai kondisi badan air sekaligus mendeteksi potensi pencemaran.

Menurut Bambang, kombinasi sensor tersebut mampu memberikan gambaran yang cukup komprehensif mengenai kondisi perairan. “Ketika salah satu parameter berubah secara signifikan, kita dapat segera mengetahui lokasi terjadinya perubahan tersebut. Informasi ini sangat penting untuk penelusuran sumber pencemaran maupun evaluasi kondisi lingkungan sungai,” katanya.

Hasil pengukuran kemudian dikirimkan secara langsung ke pusat pemantauan melalui jaringan WiFi. Operator dapat memantau kondisi sungai menggunakan komputer maupun telepon pintar tanpa harus selalu berada di lokasi pengukuran.

Selain itu, tim peneliti juga mengembangkan perangkat lunak yang menampilkan berbagai informasi penting dalam satu antarmuka, mulai dari koordinat GPS, nilai pH, tingkat kekeruhan, suhu air, status kemiringan perangkat, hingga kecepatan gerak pelampung. “Kami ingin pengguna memperoleh seluruh informasi penting dalam satu tampilan. Sehingga, proses pengambilan keputusan dapat dilakukan dengan cepat ketika ditemukan indikasi penurunan kualitas air,” tutur Bambang.

Spesifikasi PlungDAT

Lebih lanjut, ia menjabarkan PlungDAT memiliki dimensi sekitar 30 sentimeter dengan tinggi 25 sentimeter. Perangkat ini menggunakan baterai 12 volt sebagai sumber daya, dengan sensor pH yang mampu mengukur rentang pH 3–12, sensor kekeruhan hingga 2.000 NTU, serta sensor dissolved oxygen hingga 20 mg/L.

“Salah satu keunggulan sistem ini adalah kemampuannya menyimpan data secara lokal ketika koneksi WiFi terputus. Dengan demikian, seluruh hasil pengukuran tetap aman dan dapat diunduh kembali setelah komunikasi tersambung,” katanya.

Berdasarkan hasil pengujian, PlungDAT mampu beroperasi secara terus-menerus selama sekitar 10 jam, sehingga dinilai memadai untuk mendukung kegiatan survei lapangan dalam satu hari. Meski demikian, ia dan tim masih terus melakukan penyempurnaan, terutama pada sistem propulsi agar pelampung dapat bergerak lebih cepat tanpa mengurangi stabilitas maupun akurasi pengukuran.

Selain memiliki kemampuan teknis yang baik, PlungDAT juga menawarkan nilai ekonomis yang kompetitif. Berdasarkan hasil evaluasi, biaya pembuatan purwarupa diperkirakan sekitar 50 persen lebih rendah dibandingkan produk sejenis dengan spesifikasi yang setara.

Teknologi ini juga telah mencapai Technology Readiness Level (TRL) 7, yang menunjukkan bahwa sistem telah memasuki tahap demonstrasi pada lingkungan operasional. Oleh karena itu, menurutnya, PlungDAT berpeluang besar untuk dimanfaatkan oleh berbagai instansi yang bergerak di bidang pengelolaan lingkungan, sumber daya air, hingga mitigasi bencana.

“Kami berharap PlungDAT tidak berhenti sebagai prototipe penelitian. Teknologi ini berpotensi digunakan dalam pemantauan sungai, waduk, danau, kawasan pesisir, bahkan mendukung mitigasi pencemaran dan pengelolaan sumber daya air secara nasional,” ujarnya.

Ke depan, pihaknya merekomendasikan pengembangan lebih lanjut melalui pembuatan lebih banyak unit purwarupa untuk mendukung uji lapangan di berbagai lokasi. Pengujian tersebut diharapkan dapat mempercepat penyempurnaan teknologi menuju tahap produksi dan komersialisasi.

“Harapan kami sederhana, teknologi ini dapat membantu pengelola lingkungan memperoleh data kualitas air secara cepat, akurat, dan berkesinambungan. Dengan data yang baik, pengambilan kebijakan juga akan menjadi lebih tepat sasaran,” pungkasnya. (is, bw, adl/ed: aj, tnt)

Tautan:

https://brin.go.id/news/129639/plungdat-pelampung-cerdas-pantau-kualitas-air-secara-real-time