Tangerang Selatan – Humas BRIN. Peneliti Ahli Utama Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material (ORNM) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Sukma Surya Kusumah menyampaikan bahwa riset berdampak perlu dimulai dari pemahaman terhadap kebutuhan masyarakat, industri, dan bangsa. Hal tersebut disampaikan dalam acara ORNM Talk & Expo 2026 melalui Dialog Kebangsaan bertajuk “Dari Laboratorium ke Dampak Negara” di Graha Widya Bhakti, KST B.J. Habibie, Serpong, Rabu (19/8).
Dalam kesempatan tersebut, Sukma mengatakan bahwa tantangan riset bukan hanya menghasilkan teknologi dengan tingkat kesiapterapan teknologi (TRL) tinggi, tetapi juga memastikan teknologi tersebut dapat digunakan. “Menghasilkan publikasi itu penting, tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana hasil inovasi itu digunakan. Jembatan ini perlu dibangun melalui regulasi, industri yang berani berinvestasi, serta dukungan pemerintah,” ujarnya.
Ia menilai kolaborasi antara universitas, lembaga riset, pemerintah, regulator, dan industri menjadi kunci untuk mempercepat hilirisasi. Terlebih, teknologi material memiliki peran strategis dalam berbagai sektor, mulai dari kesehatan, struktur, perangkat, energi, hingga keamanan.
Sementara itu, dari perspektif akademisi, Prof. drg. Ika Dewi Ana menekankan pentingnya menjalankan riset secara benar, metodologis, dan etis. Menurutnya, periset tidak selalu dapat menentukan sejak awal apakah sebuah riset akan memberikan dampak, tetapi dapat memastikan proses penelitian dilakukan dengan baik dan memiliki arah yang jelas.
“Kita tidak bisa menilai apakah riset itu berdampak atau tidak. Tetapi kita harus mengerjakan riset itu dengan benar, secara metodologis dan etis,” ungkapnya.
Ia juga mengajak periset menerapkan prinsip starting from the end, yaitu menentukan sejak awal hasil akhir yang ingin dicapai sehingga tahapan penelitian dapat dirancang secara lebih terarah. Menurutnya, riset dasar dan riset terapan sama-sama memiliki peran karena riset dasar dapat menjadi fondasi bagi inovasi di masa mendatang.
Dialog ini mempertemukan tiga perspektif, yakni akademisi, periset, dan global outlook, untuk membahas bagaimana riset dapat diterjemahkan menjadi inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat dan mendukung kemajuan bangsa. Hadir dalam acara tersebut, sebagai narasumber Prof. drg. Ika Dewi Ana, Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada (UGM) dan peraih Habibie Awards 2022; serta Yanuar Nugroho, University of Manchester Scholar, Deputi II Kantor Staf Presiden RI periode 2014–2019, dan Koordinator Tim SDGs Bappenas RI periode 2022–2025.
Prof. Ika turut menekankan pentingnya kolaborasi dan berbagi pengetahuan. Pengalaman kelompok risetnya yang telah menghasilkan sejumlah produk yang digunakan masyarakat menunjukkan bahwa kerja sama lintas keahlian dapat mempercepat pengembangan dan hilirisasi hasil penelitian.
Dari perspektif global, Yanuar Nugroho menyoroti pentingnya membangun ekosistem yang memungkinkan riset berkembang dan memberikan dampak. Menurutnya, kolaborasi antara lembaga riset, perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia usaha perlu didukung oleh kebijakan serta sumber daya yang memadai.
Ia menjelaskan bahwa Pemerintah memiliki peran penting dalam menciptakan enabling environment agar riset dapat berkembang dan terhubung dengan kebutuhan industri serta pembangunan.
Yanuar juga menekankan posisi strategis BRIN dalam menyediakan basis pengetahuan bagi pengambilan kebijakan pemerintah. “Kita butuh komunikasi publik yang baik. Peneliti perlu diberi ruang untuk menulis di media dan bercerita tentang risetnya,” tuturnya.
Menurutnya, hasil riset perlu dikomunikasikan secara konsisten agar masyarakat memahami kontribusi ilmu pengetahuan dan teknologi terhadap kehidupan sehari-hari sekaligus melihat peluang Indonesia untuk menjadi negara maju.
Lebih lanjut, Yanuar mengingatkan bahwa dampak riset pada akhirnya perlu diarahkan pada konversi ekonomi yang lebih berkelanjutan. Indonesia tidak dapat selamanya mengandalkan ekonomi berbasis komoditas. Penguatan knowledge-based economy dan information-based economy menjadi penting untuk meningkatkan daya saing nasional.
Dalam konteks tersebut, pengetahuan tidak hanya dihasilkan oleh perguruan tinggi. Pemerintah, dunia usaha, petani, nelayan, komunitas, dan masyarakat juga merupakan bagian dari ekosistem pengetahuan. “Pengetahuan untuk perkembangan ekonomi tidak hanya diproduksi oleh kampus, tetapi juga oleh pemerintah dan bisnis,” jelasnya.
Ketiga narasumber sepakat bahwa perjalanan riset dari laboratorium menuju dampak negara membutuhkan lebih dari sekadar hasil penelitian. Diperlukan kolaborasi lintas sektor, kebijakan yang mendukung, investasi, komunikasi publik, serta orientasi yang kuat pada kebutuhan masyarakat.
Dialog Kebangsaan tersebut sekaligus menegaskan bahwa riset material dan nanoteknologi memiliki peluang besar untuk menjadi penggerak berbagai perubahan, termasuk di bidang kesehatan, energi, industri, dan sektor strategis lainnya. Karena itu, hasil riset perlu terus didorong agar tidak berhenti pada publikasi atau paten, tetapi dapat digunakan dan memberikan nilai tambah bagi Indonesia. (adl/ ed: aj,jml)
Tautan:
