Categories
Perhimpunan Periset Indonesia

PPI Kota Tangsel Sampaikan Program di HUT PPI ke-1 dan Rakornas PPI 2022

Tangerang Selatan – Humas PPI. Dalam rangka pelaksanaan program kerja Perhimpunan Periset Indonesia (PPI) serta untuk bahan evaluasi terhadap capaian kerja dan perencanaan pelaksaan program kerja kedepan, PPI menyelenggarakan Peringatan Hari Ulang Tahun Ke-1 dan Rapat Koordinasi Nasional PPI Tahun 2022, secara hybrid, di Gedung Widya Graha, Kampus Gatot Subroto, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Rabu (21/12).

Mengusung Tema “Penguatan Profesionalitas Organisasi Profesi PPI dan Periset untuk Meningkatkan Peran Penting dalam Ekosistem RIset dan Inovasi”, dihadiri oleh pengurus pusat PPI, Majelis Kehormatan Periset, Dewan Pengawas, Dewan Pakar, dan Komisi Profesi Periset

Dalam sambutannya, Ketua Umum PPI, Syahrir Ika, menyampaikan bahwa PPI dibentuk oleh para periset pada 21 Desember 2021, yang merupakan kelanjutan dari Himpunan Peneliti Indonesia (Himpenindo) dan Himpunan Perekayasa Indonesia (Hiperindo). “PPI menaungi 11 jabatan fungsional (jabfung), sehingga menjadi organisasi profesi dari 11 jabfung yang dikelola dan BRIN menjadi instansi pembinanya,” ujar Syahrir.

“Sebagai instansi pembina, BRIN mengoordinasikan 11 jabatan fungsional, yang terdiri dari Peneliti, Perekayasa, Teknisi Penelitian dan Perekayasaan, Analis Pemanfaatan Iptek, Analis Data Ilmiah, Penata Penerbitan Ilmiah, Analis Perkebunrayaan, Teknisi Perkebunrayaan, Kurator Koleksi Hayati, Pengembang Teknologi Nuklir, dan Pranata Nuklir,” jelasnya.

Disebutkan Syahrir, tahun depan PPI menuju digitalisasi manajemen dan proses bisnis PPI secara inklusif serta desentralisasi pelaksanaan program kerja di level wilayah, selanjutnya penguatan manajemen dan tatakelola PPI wilayah.

“Selain itu, PPI juga membangun e-office, e-finance, dan virtual office, serta terus melakukan perbaikan untuk menaikkan nilai guna bagi periset,” terangnya. 

Dalam pertemuan tersebut, mewakili Kepala BRIN, Deputi Bidang Sumber Daya Manajemen Iptek – BRIN, Edy Giri Rachman Putra menyampaikan bahwa PPI adalah mitra strategis di BRIN, untuk sama-sama membangun SDM unggul ke depannya. “Peran dari PPI akan sangat penting bagaimana kita bisa menguatkan, mengembangkan, dan mematangkan talenta-talenta riset dan inovasi melalui program-programnya,” ujar Edy.

Dikatakan Edy, di usia satu tahun, PPI sudah sangat garang dalam memberikan rekomendasi kepada BRIN. PPI memberikan advokasi dengan membantu teman-teman periset lainnya untuk bisa bergabung dengan BRIN atau pun memberikan masalah-masalah yang terkait di daerah. PPI juga melaksanakan uji kompetensi bagi para peserta lainnya yang akan naik jenjang atau pun ahli jenjang

“Minggu lalu, PPI memberikan banyak masukan dalam penyusunan rancangan standar kinerja kerja nasional Indonesia (SKKNI) untuk empat bidang yaitu jabatan pekerja periset ilmiah hayati untuk mikroorganisme, hewan, dan herbarium,” urai Edy.

“PPI bersama-sama BRIN membuat sebuah standar kompetensi dalam membuat platform dasar bagi periset atau pun SDM Iptek kita secara nasional, sehingga ke depannya kita bisa bersaing secara global, sesuai visi misi PPI,” imbuhnya.

Selain itu, PPI memberikan masukan terkait dengan penegakan etika periset. “PPI masih mempunyai tantangan ke depan yaitu bergabungnnya beberapa jabatan fungsional yang memerlukan regulasi baru berkaitan dengan penyetaraan tunjangan, standar terkait dengan manajemen kinerja dan sistem kerja, serta gap kompetensi.

Edy berharap di tahun depan ada kegiatan yang berkaitan dengan pelatihan dan sertifikasi kompetensi dari periset yang ada di BRIN. Utamanya dalam rangka meningkatkan kompetensi dan kapasitas mereka.

“Pekerjaan rumah kita bersama agar PPI bisa menyiapkan lembaga sertifikasi profesi (LSP) dan bentuk pelatihan, guna meningkatkan kompetensi dari periset kita yang ada di BRIN maupun nasional,” tandasnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua PPI Kota Tangerang Selatan, Agus Sukarto Wismogroho, melaporkan kegiatan PPI Kota Tangerang Selatan Tahun 2022. Antara lain pelaksanaan musyawarah wilayah (muswil), pengukuhan, membangun jejaring potensial, dan persiapan kegiatan tahun 2023 pasca pengukuhan 

Agus menyampaikan kegiatan setelah PPI berdiri, yakni webinar, musyawarah wilayah (muswil), serah terima jabatan PPI Kota Tangsel, Pengukuhan PPI Kota Tangsel, dan aktivitas sosial media PPI Kota Tangsel. 

Disamping itu, PPI Kota Tangsel membangun jejaring seperti menjajaki kerja sama dengan pemerintah daerah. “Program organisasi tidak mungkin dilakukan tanpa berkolaborasi untuk mendapatkan hasil yang riil,” tegasnya.

PPI Kota Tangsel juga mecoba mengelaborasi dengan kelompok-kelompok masyarakat, salah satunya adalah Kelompok Sadar Wisata Tangsel (Pokdarwis). Dalam kegiatan tersebut, PPI Kota Tagnsel bersama-sama untuk mengimplementasikan teknologi ke masyarakat di wilayah sekitar KST BJ Habibie.

“Kami juga ikut pada beberapa kegiatan di Pemda dan berharap posisi kami di KST BJ Habibie bisa ikut mewarnai Kota Tangerang Selatan,” harap Ketua PPI Kota Tangsel.

Pada pengembangan Potensi Program Kerja Rencana Strategis Tahun 2023, PPI melakukan program rencana tahun depan. “Dari harapan anggota terhadap PPI Kota Tangsel adalah intinya satu yaitu apa sih yang dirasakan oleh anggota?,” ungkap Agus.

“Seperti tahun-tahun lalu, yang banyak diminta yaitu tentang fungsional dengan animonya sekitar 500-1.000 orang, tetapi masalah sains, langsung di bawah 100 orang,” ulasnya

Di dalam visi misinya, Agus menyatakan bahwa bagi yang ikut PPI Kota Tangsel maka SKP aman. “Mari bekerja bersama-sama dengan PPI (Kota Tangerang Selatan) maka SKP akan aman,” ajak Agus.

Untuk mengamankan SKP, salah satu permasalahannya adalah publikasi. “Kami sedang mengkreasikan suatu klub publikasi bersama yaitu Global Publication Club (GPC).  Bagaimana teman-teman yang sulit publikasi bisa dibantu oleh teman-teman yang ahli publikasi,” ucap Agus.

Selain itu, ia ingin PPI menjadi sahabat industri dan pemda, melakukan lingkungan hijau, serta sehat selalu. Di dalam Gerakan Kesehatan Masyarakat (germas), PPI Kota Tangsel juga ikut di dalam kegiatan senam bersama BRIN. Dirinya pun mengajak untuk menyukseskan program durian tahun 2024 dengan menanam durian di KST BJ Habibie. (hrd/ ed: adl)

Categories
Perhimpunan Periset Indonesia

Pengurus PPI Tangsel Periode 2022-2025 Resmi Dikukuhkan

Tangerang Selatan – Humas PPI. Pengurus Perhimpunan Periset Indonesia atau PPI Kota Tangerang Selatan periode 2022-2025 dilantik oleh Ketua PPI Provinsi Banten, Deni Shidqi Khaerudini di Graha Widya Bhakti, KST BJ Habibie, Selasa (20/12). Secara simbolis pengukuhan ditandai dengan pembacaan naskah pengukuhan Pengurus PPI Kota Tangsel, serta penandatanganan pakta integritas yang disaksikan oleh pengurus PPI Provinsi Banten, PPI Pusat, dan Dewan Pengawas PPI Pusat.  

Dalam sambutannya, Ketua PPI Kota Tangsel, Agus Sukarto mengatakan bahwa dirinya dan jajaran pengurus diberi amanah untuk mengolah perhimpunan periset di wilayah Tangsel. “Terutama untuk mengembangkan lingkungan riset yang lebih baik,” ujarnya.

Lebih lanjut, dijabarkan Agus, PPI Tangsel akan melaksanakan tiga tema kegiatan yang ingin dikembangkan. “Pertama, kegiatan internal yaitu penguatan sebagai periset yaitu penguatan sainsnya, publikasi, dan sejenisnya,” ujarnya. 

“Kedua adalah kegiatan eksternal, agar PPI Kota Tangsel bisa bekerja sama dengan seluruh stakeholder di wilayah Tangsel terutama dengan Pemda, universitas-universitas, dan perhimpunan-perhimpunan UMKM, dan swasta, sehingga bisa bersama-sama mengimplementasikan hasil sains dari para periset  ke masyarakat,” imbuhnya.

“Ketiga yaitu kesejahteraan dan kesehatan dengan bersama-sama mengajak teman-teman untuk selalu sehat hingga akhir hayat agar selalu sehat bersama-sama dengan PPI Kota Tangsel,” sebutnya.

Dalam tiga program tersebut, ketua PPI Kota Tangsel Periode 2022-2025 mengharapkan arahan, bimbingan, dukungan dari para dewan pakar, dewan Pembina, dan lainnya. 

Kemudian Agus berharap bersama pemda, bisa bekerja bersama-sama untuk membangun wilayah Tangsel yang lebih cerdas di masa mendatang. Berkunjung ke universitas untuk lebih lanjut mengembangkan kolaborasi bersama-sama

Dalam kegiatan tersebut, Ketua PPI Provinsi Banten, Deni Shidqi Khaerudini, menyampaikan harapannya kepada PPI Kota Tangsel untuk dapat berpartisipasi pada kegiatan PPI Pusat dan PPI Provinsi. “Semoga sering berkomunikasi dengan PPI Pusat dan terus bersinergi antara PPI Prov Banten dan PPI Kota Tangsel akan semakin memperkuat,” ucap Deni.

“Amanah kita sangat berat untuk Indonesia maju, Indonesia jaya, dan menyejahterakan rakyat Indonesia itu amanah kita” sambungnya.

Deni juga mengatakan harapannya agar PPI akan bergerak bersama dengan stakeholder yang lain. “Saya berharap teman-teman tetap solid, tetap kompak, dan semoga kepengurusan kita selama tiga tahun ke depan terutama PPI Kota Tangsel bergerak dengan baik,” harapnya.

Selanjutnya, Ketua Umum PPI Pusat yang diwakili Sekjen PPI Pusat, Sumbogo, menyampaikan visi misi PPI yang salah satunya mendorong para periset untuk dapat membantu pemerintah untuk dapat membangun ekonomi yang mana sedang mengalami penurunan ekonomi. 

“Kita bertanggung jawab dalam urusan invensi dan inovasi untuk membantu pemerintah bertahan dari ancaman krisis,  bahkan bila perlu kita tumbuh dalam ancaman krisis,” terangnya.

Sumbogo juga menyampaikan agar pengurus PPI dapat melayani anggotanya, serta memanfaatkan fasilitas yang tersedia di PPI. “Sebagi pengurus PPI, kita harus melayani anggota kita, karena menjadi pengurus PPI itu merupakan tugas mulia memiliki nilai amal dunia akhirat,” katanya.

Mewakili manajemen BRIN, Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, Haznan Abimanyu mengharapkan PPI dapat memberikan kegiatan-kegiatan yang memberikan manfaat bagi para anggotanya. “Semoga pengurus PPI Kota Tangsel yang baru ini bisa melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi anggotanya dan warga kota Tangsel,” harap Haznan.

Haznan juga mengharapkan Pemda Kota Tangsel dapat memanfaatkan keberadaan PPI di Kota Tangsel. “Keberadaan anggota PPI di Kota Tangsel merupakan para periset yang andal dan bagus, sehingga kota Tangsel dalam melakukan kegiatan atau kebijakan bisa berbasis sains dan berbasis teknologi,” terangnya.

Kemudian perwakilan Dewan Pakar PPI Kota Tangsel, Anny Sulaswatty, mengucapkan selamat kepada ketua yang baru saja dikukuhkan serta menyemangati untuk pengurus PPI Kota Tangsel dalam menjalankan kegiatan kegiatannya. “Insya Allah di bawah bimbingan anak muda, kita sama-sama dalam membangun semangat berbasis iptek,” ajak Anny. 

Profesor riset tersebut juga berharap pengurus PPI Kota Tangsel untuk dapat se-iya, seirama, walau berbeda gaya namun mempunyai tujuan yang sama.

Dalam pertemuan tersebut, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Wisata Keranggan, Alwani menyampaikan ucapan terima kasih dan berharap sebagai masyarakat PPI Kota Tangsel dapat seirama dan satu tujuan tanpa ada ego sentris. 

“Semoga PPI Kota Tangsel dapat bersama sama membangun Kota Tangsel. Kolaborasi antara pemerintah, PPI Kota Tangsel, dan Pokdarwis, untuk dapat membangun ekonomi kemasyarakatan, pengembangan SDM dan SDA yang terintegrasi. Semoga dengan adanya kolaborasi yang dapat menyelesaikan Permasalahan Kemiskinan di Kota Tangsel,” urai Alwani.

Senada dengan hal tersebut, perwakilan STKIP Sinar Cendekia, Yanto, mengucapkan selamat dan berharap dapat bersinergi dengan PPI Kota Tangsel “Mudah-mudahan PPI Kota Tangsel bermanfaat dan turut berkonribusi untuk membangun Kota Tangsel, bangsa dan negara,” harap Yanto yang kampusnya merupakan institusi non profit dan tidak berbayar.

Menutup acara pengukuhan PPI Kota Tangsel, Agus Fanar Syukri, selaku Dewan Pengawas PPI Pusat, turut menyampaikan pesan untuk pengurus. 

“Pertama, untuk dapat memahami dan melaksanakan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) dan aturan organisasi PPI. Kedua, untuk dapat memberikan manfaat kepada anggota PPI, dan juga kepada masyarakat dan seterusnya. Ketiga, semoga PPI Kota Tangsel dapat berkolaborasi aktif dengan mitra-mitra,” urai Agus Fanar.

“Selamat berjuang dan berkinerja terbaik, dan berkolaborasi dengan baik,” pungkasnya.

Sebagai informasi, dalam acara pengukuhan yang digelar secara hybrid tersebut, turut diisi dengan talkshow yang dipandu oleh Rike Yudianti selaku moderator. Hadir sebagai narasumber pertama, Tonny Soewandi, selaku kepala bidang Bappelitbangda Kota Tangerang Selatan menyampaikan gambaran umum kota Tangerang Selatan, indikator makro daerah dibandingkan dengan provinsi dan nasional, indikator makro  daerah tahun 2021 dan 2022, serta permasalahan daerah kota Tangerang Selatan. 

Sementara narasumber kedua, Lukman Shalahuddin menyampaikan materi dengan topik “Peran PPI dan BRIDA dalam Mendukung Pembangunan Daerah” dengan sub judul Penguatan dan Ekosistem Inovasi Riset Daerah. Hubungan kerja BRIN dengan pemda yaitu membangun ekosistem riset dan inovasi daerah berbasis bukti. Target BRIN dan BRIDA adalah menjadi sumber pengambilan kebijakan berbasis sains nasional dan daerah. Di dalamnya mengandung pembangunan manusia serta penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. (hrd/ ed: adl)

Categories
Nanoteknologi & Material Riset & Inovasi

Komitmen BRIN bersama KLHK dan UNDP untuk Pertambangan Emas Rakyat Bebas Merkuri

Jakarta – Humas BRIN. Sejalan dengan komitmen pemerintah untuk pengurangan dan penghapusan penggunaan merkuri di lokasi Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan United Nations Development Program (UNDP) dalam pelaksanaan “Global Opportunities for Long-term Development of Artisanal and Small-scale Gold Mining (ASGM) Sector (GEF-GOLD): Integrated Sound Management of Mercury in Indonesia’s ASGM (ISMIA) Project” atau proyek GOLD-ISMIA.

Proyek GOLD-ISMIA bertujuan mengurangi dan menghapus penggunaan merkuri di sektor PESK di Indonesia, melalui penyediaan bantuan teknis, alih teknologi, dan akses terhadap pembiayaan untuk peralatan pengolahan emas bebas merkuri. Dalam rangka sosialisasi produk GOLD-ISMIA sebagai acuan para pihak untuk menjadikan sektor PESK yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan, maka diselenggarakan rapat persiapan ‘Workshop dan Pameran Diseminasi Hasil Proyek GOLD-ISMIA’, pada Selasa (29/11).

Dadan M. Nurjaman selaku Perekayasa Ahli Utama BRIN dan DNPD GOLD-ISMIA Project, menyampaikan sekilas bahwa tahun 2013 disahkan Konvensi Minamata mengenai merkuri dalam sebuah konferensi Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) di Provinsi Kumamoto, Jepang. Konvensi tersebut memutuskan seluruh negara PBB menyepakati rencana pengurangan dan penghapusan merkuri dari berbagai sektor.

Hingga kini, Dadan dan tim sudah meneliti sekitar 13 sektor yang menghasilkan merkuri di Indonesia dan yang paling besar adalah di sektor Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK). “Sampai setahun, PESK menghasilkan kurang lebih 140 ton yang dirilis ke lingkungan. Sedangkan sektor lainnya antara lain PLTU batubara, migas, dan juga dari sektor kesehatan,” jelasnya.

Pemerintah menuangkan dalam Perpres Nomor 21 Tahun 2019 yang mengatur tentang Rencana Aksi Nasional Pengurangan dan Penghapusan Merkuri (RAN PPM). Pada peraturan ini juga mewajibkan daerah untuk membuat Rencana Aksi Daerah (RAD) di tiap daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota sebagai tindaklanjut pelaksanaan RAN PPM.

“Sebagaimana diatur dalam RAN PPM pada bidang prioritas PESK ditargetkan zero merkuri sebelum adanya kebijakan RAN PPM di tahun 2025,” sebut Dadan. 

Proyek Gold-ISMIA kerja sama antara UNDP, KLHK, dan BRIN bertujuan mengurangi dan menghilangkan penggunaan merkuri di PESK dengan cara memberikan bantuan teknis, transfer teknologi, pembentukan kemitraan antara swasta – publik dan akses pendanaan untuk pembelian peralatan pengolahan emas tanpa merkuri. “Program ini tidak dilaksanakan sendiri, tapi dilaksanakan oleh 8 negara yang dianggap menghasilkan merkuri dalam jumlah yang signifikan, khususnya di pengolahan emas oleh penambang rakyat,” urai Dadan.

Proyek GOLD-ISMIA ini difokuskan pada enam lokasi, yaitu di Pulau Obi (Sulawesi Utara), Minahasa Utara (Sulawesi utara), Kulon Progo (Yogyakarta), Kuantan Singingi (Riau), Lombok (NTB), dan Gorontalo Utara (Gorontalo). 

“Dalam kegiatan lima tahun ini, ada enam lokasi proyek dalam upaya memberikan pelatihan, percontohan, pendampingan, dan sebagainya, agar mereka beralih dan berkesinambungan berkelanjutan programnya,” tuturnya.

Teknologi BRIN dalam Proyek GOLD-ISMIA

Dadan mengatakan, dengan pelarangan merkuri bukan berarti mata pencahariannya putus. Salah satu keberhasilan adalah bisa beralihnya teknologi yang awalnya menggunakan merkuri menjadi non merkuri. 

“Peran BRIN sebagai lembaga riset mengintervensi teknologi supaya mereka beralih ke teknologi yang bukan merkuri. Dengan enam lokasi proyek, kami memberikan pelatihan, percontohan, pendampingan, dan sebagainya, agar mereka beralih dan berkesinambungan berkelanjutan programnya,” ulas Dadan.

Ditambahkan olehnya bahwa dari sisi teknologi, ada beberapa kunci keberhasilan dengan pendampingan yang tidak hanya semata-mata pada pengetahuan akademis yang dibawa, tetapi memahami bagaimana kearifan lokal dari pertambagan emas rakyat itu.

“Menggabungkan antara pengetahuan teknis dengan kearifan lokal, itulah kunci keberhasilan sehingga bisa berkelanjutan, karena sebenarnya sudah 30 tahun upaya ini dilakukan di dunia dan banyak yang gagal juga karena tidak memperhatikan pengetahuan teknis dengan kearifan lokal,” jelasnya.

Dari sisi formalisasi, yang akan dilakukan pembinaan adalah pertambangan emas rakyat yang berada di Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) dan mempunyai Izin Pertambangan Rakyat (IPR). Pendampingan formalisasi dilakukan terhadap proses kebijakannya yang terdapat rencana aksi nasional (RAN) juga rencana aksi daerah (RAD). 

Selain itu, termasuk upaya agar rakyat bisa secara kelompok membangun usahanya, maka dibentuk koperasi juga. ”Di dalam koperasi diberikan pelatihan bagaimana administrasinya, manajemennya, keuangannya, termasuk ada yang disebut mendapatkan semacam hibah kecil untuk koperasi yang digunakan untuk membeli modal peralatan unit pengolahan, ada yang dibangun infrastruktur kantor, dan lain-lain. Itu sudah berjalan juga. Jadi dari berbagai aspek ini, diimplementasikan di dalam project GOLD-ISMIA,” jabarnya.

“Proyek ini tidak hanya berorientasi pada proses penambangan tanpa merkuri, namun juga pendekatan formalisasi dan kesejahteraan bagi para penambang, dan tidak lupa juga melibatkan kesetaraan gender,” tegasnya.

Senada dengan Dadan, perekayasa BRIN Haswi Purwandanu Soewoto mengatakan bahwa BRIN menyiapkan teknologi sebagai pengganti merkuri. “Jadi pada dasarnya kami mempunyai proyek tentang bagaimana mengkaji pengolahan emas yang tidak menggunakan merkuri, peralatan lab kami juga komplit, dan setelah itu kami kaji untuk tipe emas,” ungkapnya.

“Ada dua tipe emas, yaitu primer dan sekunder. Untuk emas primer, bisa menggunakan teknologi bleaching atau pengikisan yang murah dengan beberapa bahan kimia yang lebih aman, antara lain sianida, yang dapat didestruksi secara cepat dan limbahnya bisa dikelola, sehingga tidak berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan, sementara untuk tipe emas sekunder bisa dengan teknik gravitasi,” lanjut Haswi.

Terkait hal tersebut, hasil proyek GOLD ISMIA telah dirasakan manfaatnya oleh para penambang PESK, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah di Indonesia, sekaligus mendukung pencapaian Aksi Nasional Pengurangan dan Penghapusan Merkuri. Dadan dan tim berharap dengan pelaksanaan diseminasi ini dapat diinformasikan ke seluruh pemangku kepentingan, sehingga manajemen pengetahuan GOLD-ISMIA Project bisa dijadikan acuan atau model di tempat lain. (hrd/ ed: adl)

Categories
Nanoteknologi & Material Riset & Inovasi

Perbarui Data Pemanfaatan Pertambagan, Kemenperin Jajaki Kolaborasi dengan BRIN

Tangerang Selatan, Humas BRIN. Direktorat Industri Semen, Keramik, dan Pengolahan Bahan Galian Non Logam, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melakukan kunjungan ke Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material (ORNM) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam rangka penjajakan memperbarui progres pemanfaatan penambangan, Rabu (26/10). 

Dalam pertemuan ini, Kepala ORNM diwakili oleh Kepala Pusat Riset Teknologi Pertambangan (PRTPb), Anggoro Tri Mursito. Sementara dari Direktorat Industri, Semen, Kermaik dan Pengolahan Bahan Galian Non Logam, Kemenperin diwakili Mayzaky serta didampingi oleh konsultan dari PT Pasade Utama.

Pada sesi diskusi, Anggoro Tri Mursito menjelaskan pusat riset ORNM yang berada di kawasan sains dan teknologi (KST) BJ Habibie. “Kami di sini ada beberapa pusat riset yang hadir luring, ada dari perwakilan kelompok riset Pusat Riset Teknologi Pertambangan, Metalurgi, Kimia Maju, dan Material Maju berlokasi di KST BJ Habibie, Tangerang Selatan. Ada pula peserta yang hadir secara daring dari beberapa lokasi, diantaranya Babarsari Yogyakarta, Tanjung Bintang Lampung, dan Cisitu Bandung,” terangnya.

Selain itu, Anggoro menyampaikan profil riset pertambangan ORNM setelah satu tahun keberadaan BRIN. Mulai dari proses bisnis, perkembangan progres dari fundamental riset, sampai ke ekonomi di bidang spesial pasir kuarsa maupun untuk kuarsit. “Kami akan perbarui lagi, sehingga kita dapatkan gambaran, kajian, penelitian, maupun ekonomi yang terkini,” tambahnya

“Kami berkunjung ke BRIN untuk mengetahui adanya kajian mengenai proses pengolahan Nano Silika menjadi Sel Surya,” ujar Mayzaky. “Selain itu, kami mengharapkan adanya ouputnya lebih dulu, pertama adanya komunitas dari Nano Silika, yaitu hilirisasi industri dan teknologi pengolahannya yang berkaitan saat ini, sehinga kami datang ke BRIN, kemudian data-data dan entitas silika menjadi tersedia,” jelasnya.

Ditambahkan oleh Mayzaky, kajian bersama BRIN merupakan salah satu rangkaian kegiatan dari kajian Kemenperin, dan PT Pasade membutuhkan beberapa data dalam menyusun kajian.

Senada dengan Mayzaky, Agung Nugroho dari PT Pasade menjelaskan bahwa perusahannya ditunjuk oleh Kemenperin, untuk melakukan kajian tentang silika, terutama pengolahannya untuk sel surya. 

PT Pasade mengambil sampel di empat provinsi yaitu provinsi Banten, Medan, Bangka Belitung, dan Kalimantan Tengah. “Kami dapatkan bahwa pasir silika tidak efesien sebagai bahan baku sel surya. Kandungan pasir kita luar biasa sudah diekplorasi dan sudah diolah, tetapi kami menemukan bahwa pasir silika tidak efesien digunakan sebagai bahan baku sel surya, menurut versi yang kami pelajari dari Balai Pengujian Mineral,” ungkapnya.

“Pasir silika ini akan terbentuk fume silika sehingga tidak efisien, sedangkan yang efsien adalah kuarsit,” tambahnya.

PT Pasade belum menemukan cukup informasi atau data tentang kuarsit walaupun ada di Sumatra Barat dan Aceh, tetapi sebatas sumber daya yang belum menjadi cadangan dan perekonomiannya. PT Pasade ingin menggali lebih lanjut ke BRIN terkait pengujian-pengujian kuarsit tersebut. 

“Sebagai informasi pasir silika tidak efesien, tetapi tetap saja pasir silika menurut Telnologi Mineral dan Batubara (Tekmira) bisa digunakan sebagai Metallurgical Grade Silicon (MGSI) yang berguna untuk bahan kimia, paduan, dan sebagainya. 

“Menjadi pekerjaan rumah bagi Kemenperin adalah pasir silika apakah layak diolah menjadi MGSI atau beralih ke kuarsit seperti versinya Tekmira. Untuk itu, diharapkan di lingkungan BRIN, sudah ada penelitian-penelitian lain tentang pasir silika dan sebagainya,” tuturnya.Di akhir diskusi Anggoro mengatakan bahwa BRIN akan mengidentifikasi pemanfaatan nano silika bersama stakeholder yang lain. “Setelah BRIN mengindetifikasikan seluruh badan litbang, periset-periset Kementerian dan Lembaga, termasuk dari Tekmira dan Balitbang, Kementerian EDSM yang telah bergabung, kami akan paham betul untuk kajian ini,” ucapnya. (hrd/ ed. ls, adl)

Categories
Nanoteknologi & Material Riset & Inovasi

Metode SCC-DFTB untuk Komputasi Kerangka Kerja Kimia Kuantum

Tangerang Selatan, Humas BRIN. Pusat Riset Fisika Kuantum – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyelenggarakan Kolokium Fisika Kuantum BRIN, pada Jumat (9/9). Kolokium daring yang diangkat adalah SCC-DFTB Method for Computational Quantum Chemistry Framework oleh Wahyu Dita Saputri dari PR Fisika Kuantum.

Dita mengatakan metode SCC-DFTB (Self Consistent Charge – Density Functional Tight Binding) merupakan metode komputasi yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi sifat struktur dan dinamika dari suatu material atau senyawa kimia. “Metode SCC-DFTB merupakan aproksimasi dari metode DFT sehingga dapat mengakomodir sifat struktur elektronik suatu material/senyawa,” papar alumnus S3 UGM.

Dirinya menjelaskan kelebihan dari metode SCC-DFTB adalah proses perhitungannya yang relatif lebih cepat dibandingkan metode ab initio. “Metode ini dapat diaplikasikan pada beberapa framework, seperti kalkulasi energi, dinamika elektron, transfer elektron, dinamika molekuler, dan lain-lain,” jelas periset kelahiran tahun 1993.

Sebagai informasi, acara Kolokium yang diikuti oleh mahasiswa, dosen, dan peneliti ini diselenggarakan dua kali setiap bulannya, dengan menghadirkan pembicara dari internal  PR Fisika Kuantum BRIN maupun pembicara tamu dari luar BRIN. Topik yang disajikan sangat beragam terkait berbagai fenomena kuantum, baik dari ranah fundamental, hingga aplikasi teknologi dari cabang fisika partikel hingga ke fisika material. (hrd/ ed: adl)

Categories
Nanoteknologi & Material Riset & Inovasi Uncategorized

Aplikasi Material Metal Oksida Nanostruktur untuk Produksi Hidrogen Ramah Lingkungan

Tangerang Selatan, Humas BRIN. Gerald Ensang Timuda, periset Pusat Riset Material Maju – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pada Selasa (16/7) mempresentasikan risetnya berjudul “Aplikasi Material Metal Oksida Nanostruktur untuk Produksi Hidrogen Ramah Lingkungan”. Topik riset tersebut dipresentasikan pada webinar ORNAMAT seri #7 tahun 2022 di lingkungan  Organisasi Riset Nano Teknologi dan Material BRIN

Dalam paparannya, Gerald menyampaikan alasan melakukan riset material nanostruktur untuk produksi hidrogen. Gerald menjelaskan bahwa riset ini merupakan salah satu bagian dari upaya untuk menciptakan Energi Baru dan Terbarukan (EBT). “Penggunaan energi berbasis fosil di Indonesia ketersediaannya semakin menipis dan juga polusi yang dihasilkan, sehingga diperlukan upaya efisiensi dan alternatif sumber energi baru,” ujarnya.

“Kami memilih hidrogen sebagai salah satu solusi bahan bakar, karena kita memiliki teknologi berbasis hidrogen untuk menghasilkan listrik yang kita kenal dengan fuel cell. Teknologi ini hanya menghasilkan produk samping berupa air, uap air dan panas, jadi sangat ramah lingkungan,” tutur Gerald.

Bagaimana Hidrogen Diproduksi?

Hidrogen dapat diperoleh dengan berbagai macam metode. Yang paling umum digunakan disebut Steam Methane Reforming. Prosesnya adalah dengan mereaksikan gas metana dengan uap air (steam)  bersuhu tinggi (700 – 1000 oC) pada tekanan sekitar 3-25 bar. Tetapi permasalahan dari metode ini adalah gas metana berasal dari gas alam yang berarti masih termasuk sumber bahan bakar fosil, dan dalam prosesnya menghasilkan gas-gas rumah kaca seperti CO dan CO2 selain gas hidrogen. 

Metode popular lain adalah elektrolisis air. Molekul air (H2O) dipecah menjadi gas oksigen (O2) dan gas hidrogen (H2) menggunakan energi listrik. Permasalahan utama dari proses ini adalah energi yang dibutuhkan untuk memecah air menjadi gas hidrogen dan oksigen selalu lebih tinggi dibandingkan proses sebaliknya. Sehingga, tidak masuk akal jika hidrogen hasil elektrolisis air dijadikan sumber energi listrik.

“Oleh karena itu, perlu digunakan sumber energi lain untuk memecah molekul air”, ujar Gerald. Metode yang dikembangkan oleh Gerald dan timnya adalah dengan memanfaatkan energi surya sebagai sumber energinya, yang dikenal dengan sistem Photoelectrochemical Water Splitting.

Permasalahan Intermittency

Konversi energi surya umumnya menjadi listrik menggunakan sel surya (solar cell). Tetapi ada permasalahan intermittency. Yaitu, energi matahari bersinar siang hari, tetapi kebutuhan energi yang sangat tinggi itu terjadi di malam hari. Jadi tidak ada ketidakcocokan di sini. 

Ketidakcocokan kebutuhan energi ini membutuhkan adanya teknologi sekunder seperti teknologi baterai untuk menyimpan listrik hasil konversi sel surya. Alternatif lain adalah penyimpanan energi dalam bentuk gas hidrogen. Hidrogen bisa dikonversi kapan saja menjadi listrik kembali menggunakan piranti seperti fuel cell, sehingga bisa mencukupi kebutuhan energi di waktu-waktu ketika pasokan energi matahari tidak ada atau kurang optimal.

Pasokan energi dari matahari cukup melimpah

Penggunaan energi surya untuk produksi hidrogen sangat potensial karena pasokan energi dari matahari sangat berlimpah. Pasokan energi matahari ke permukaan bumi dapat mencapai 10.000 kali konsumsi energi global. Oleh karena itu, secara ideal, jika sumber energi dari matahari ini bisa dikonversi dengan priranti yang memiliki efisiensi 10%, maka perlu menutupi permukaan bumi sebesar 0,1 % saja untuk dapat mencukupi kebutuhan energi global. Dalam skala lokal, menutupi daerah kurang lebih seluas ibu kota baru, cukup untuk memenuhi kebutuhan energi nasional. 

Produksi Hidrogen dengan Energi Surya

Gerald dan tim memproduksi hidrogen sendiri dengan bantuan energi surya yaitu menggunakan energi matahari ini sendiri, untuk mengaktifkan salah satu elektroda dari alat elektrolis air. “Dengan elektroda ini yang menyerap energi dari matahari dan memecah hidrogen atau oksigen yang ada di air secara langsung,” menurut Gerald.

Terknologi ini, Gerald dan tim menamakan sistem Photoelectrochemical (PEC) Water Spliting, yang sedang dikembangkan dalam beberapa tahun terakhir.

Prinsip PEC Water Spliting

Prinsip PEC Water Spliting adalah, saat cahaya matahari yang masuk ke sistem maka cahaya matahari akan diserap oleh suatu material aktif (fotoabsorber). Material fotoabsorber di sini adalah material semikonduktor yang memiliki level energi konduksi dan valensi yang bersesuaian dengan level energi reduksi maupun oksidasi air sehingga mampu menghasilkan gas hidrogen dan oksigen. 

Setelah energi cahaya diserap oleh material absorber sebagai foto-anoda, elektron yang ada di level valensi dari material tersebut akan tereksitasi menuju level konduksi, dan meninggalkan hole di level valensi. Hole ini akan mengoksidasi air sehingga molekul air terpisah menghasilkan gas oksigen dan ion H+. Elektron tereksitasi di level konduksi akan dikeluarkan ke rangkaian eksternal menuju katoda, dan digunakan untuk mereduksi ion H+ dan menghasilkan gas hidrogen.  

Mengapa Perlu Nanostruktur?

Struktur nano sangat dibutuhkan agar bisa diperoleh luas permukaan yang tinggi sehingga semakin banyak lokasi terjadinya reaksi pemecahan air. Oleh karena itu, perlu dipertimbangkan pula sifat listrik material setelah menjadi struktur nano.

Hambatan listrik bisa menjadi lebih tinggi setelah berstruktur nano dibandingkan bulk-nya, misalnya untuk jenis mesoporous nanoparticle. Hal ini mengakibatkan berkurangnya elektron yang tersedia untuk reaksi reduksi air sehingga produksi hidrogen juga menurun.

“Untuk meningkatkan sifat listrik, pengembangan struktur 1D atau 2D seperti nanorod atau nanosheet menjadi pilihan, meskipun dengan trade-off luas permukaan yang semakin kecil,” ujar periset muda ini.

Nanostruktur Metal Oksida di PEC Water Splitting 

Beberapa contoh aplikasi nanostruktur untuk beberapa jenis material metal oksida, antara lain:

Zinc oxide atau seng oksida (ZnO)

Pada paper Electrochemistry Communications 13 (2011) 1383-1386, dijelaskan perbedaan antara dua nanostruktur ZnO untuk PEC Water Splitting, yaitu nanotube dan nanosheet. Nanosheet menghasilkan photocurrent yang lebih tinggi dari nanotube. Respon photocurrent adalah respon arus yang dihasilkan ketika foto-anoda semikonduktor disinari cahaya. Ini adalah salah satu cara mendeteksi sifat foto-anoda yang baik.

Paper Nano Energy 20 (2016) 156-167 juga mempelajari perbedaan berbagai nanostruktur ZnO, dan dalam hal ini orientasi kristal dari permukaan material yang terekspos ke air juga dipelajari: nanosheet dengan orientasi (002), nanorod (100), dan nanopiramida (101). Pada penelitian ini juga didapatkan bahwa struktur nanosheet dengan orientasi (002) menghasilkan photocurrent terbesar.

Dari kedua contoh di atas, telah diperlihatkan pentingnya nanostruktur yang tepat untuk aplikasi PEC Water Splitting. Kami juga melakukan penelitian ke arah ini. Dari paper yang sebelumnya mereka membuat nanosheet dengan posisi lembaran (sheet)-nya sejajar dengan permukaan substrat, sekarang kami mencoba membuat nanosheet yang lembarannya tegak lurus terhadap substrat (berdiri). Harapannya, nanosheet dapat ditumbuhkan ke atas (semakin tinggi) sehingga luas permukaannya juga semakin tinggi. 

“Hasil penelitian kami ini telah kami publikasikan di AIP Conf.Proc.2382 (2021) 020006. Selain itu kami juga mengembangkan metode baru untuk sintesis serbuk ZnO sehingga menghasilkan struktur unik spiked-nanosheet. Aplikasi serbuk ini sebagai PEC Water Splitting telah kami laporkan di ‘The 6th International Symposium on the Frontier of Applied Physics (ISFAP 2021)’, di mana prosidingnya akan dipublikasikan dalam waktu dekat ini,” urai Gerald.

Titanium dioxide (TiO2

Material semikonduktor metal oksida lain yang mirip dengan ZnO dari segi level energi dan bandgap adalah TiO2. Untuk aplikasi sebagai foto-anoda sistem PEC Water Splitting, berbagai jenis nanostruktur telah dilaporkan, antara lain nanoparticle, nanotube, nanorod, nanotube dan nanorod bercabang, dsb. (Small (2019) 1903378). Respon photocurrent yang lebih besar diperoleh untuk struktur dengan luas permukaan tinggi seperti nanotube dan nanorod bercabang.

Bismuth Vanadate (BiVO4

Kedua material yang sudah diterangkan di atas, ZnO dan TiO2, hanya mampu menyerap cahaya ultraviolet (UV) dari sinar matahari. Padahal, cahaya UV hanya bagian kecil dari spektrum cahaya matahari. Spektrum cahaya tampak, yang merupakan porsi terbesar, tidak bisa diserap. Untuk meningkatkan efektivitas penyerapan, perlu dikembangkan material yang mampu menyerap cahaya tampak, seperti Bismuth Vanadate (BiVO4)

Material ini termasuk yang tertinggi efesiensinya di golongan metal oksida untuk aplikasi foto-anoda PEC Water Splitting. Paper Nature Communication 6 (2015) 8769 melaporkan struktur BiVO4 nanoporous nano-coral dan mendapatkan efisiensi yang tertinggi di kelasnya.

Hematit (Fe2O3

Material metal oksida lain yang memiliki spektrum penyerapan cahaya tampak adalah hematit (Fe2O3). Paper Nanoscale Horiz 1 (2016) 243-267 menjelaskan berbagai nanostruktur hematit untuk aplikasi PEC Water Splitting, seperti nanorod, dendrites, nanocone, cauliflower, dan nanosheet. Salah satu permasalahan hematit adalah mudahnya elektron tereksitasi kembali ke level semula (dikenal dengan rekombinasi). Sehingga, sintesis menjadi struktur nano selain untuk meningkatkan luas permukaan juga untuk meningkatkan sifat transportasi elektronnya. Di antara berbagai nanostruktur di atas, struktur nanocone dan cauliflower termasuk yang tertinggi respon photocurrent-nya.

Struktur hybrid 

Selain pengembangan nanostruktur, Gerald dan timnya juga mengembangkan struktur hybrid atau heterostruktur antar metal oksida.

“Hal ini berfungsi untuk melebarkan spektrum cahaya matahari yang bisa diserap oleh material. Material nanostruktur seperti ZnO dan TiO2 memiliki sifat fotoelektrik yang baik, namun hanya mampu menyerap spektrum ultraviolet (UV) dari cahaya matahari. sementara kita ingin penyerapan bisa sampai di visible,” kata Gerald.

“Di sisi lain, Fe2O3 memiliki spektrum penyerapan di cahaya tampak, tetapi sifat transport elektronnya kurang baik sehingga hanya sedikit elektron yang bisa dimanfaatkan untuk mereduksi air. Dengan struktur hybrid diharapkan sifat transportasi elektron meningkat sehingga elektron yang dihasilkan dari penyerapan cahaya tampak bisa lebih banyak tersedia untuk reduksi air,” pungkasnya. (hrd/ ed. adl)

Categories
Nanoteknologi & Material Riset & Inovasi

Rekayasa Nanomaterial untuk Sensor Gas Berkinerja Tinggi

Tangerang Selatan, Humas BRIN. Ni Luh Wulan Septiani, periset Pusat Riset Material Maju – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pada Selasa (12/7) mempresentasikan penelitianya berjudul “Rekayasa Nanomaterial untuk Sensor Gas Berkinerja Tinggi”. Topik penelitian tersebut dipresentasikan pada webinar ORNAMAT seri #6 tahun 2022 di lingkungan  Organisasi Riset Nano Teknologi dan Material BRIN

Ni Luh Wulan membagikan penelitian yang dilakukan dengan topik ‘Rekayasa Nanomaterial untuk Sensor Gas Berkinerja Tinggi’. Dalam penelitian ini, ia berfokus pada sensor gas sulfur dioksida (SO2). 

Berangkat dari bahaya sulfur dioksida (SO2), bahwa sulfur dioksida (SO2) merupakan gas yang sangat berbahaya selain karbon monoksida, nitrogen dioksida, dan particulate mater  khususnya PM 2.5. Gas yang tidak berwarna dan berbau tersebut dapat diemisikan oleh beberapa sektor dari industri, transportasi, dan aktifitas gunung berapi.

Gas SO2 ini jika terhirup oleh manusia dapat menyebabkan gangguan kesehatan terutama pada sistem pernafasan dan peredaran darah (sistem kardiovaskuler). “Jika kita menghirup gas SO2 dengan waktu yang sangat lama maka akan menyebabkan gangguan atau kerusakan sistem pernafasan dan sistem kardiovaskuler,” ucapnya.

“Untuk beberapa grup yang sangat berisiko, dari bahaya gas sulfur dioksida adalah orang tua, orang-orang dengan riwayat penyakit paru-paru, dan juga anak-anak,” ujar Wulan sapaan akrabnya.

Untuk memonitoring konsentrasi pada gas SO2 ini, Wulan dan tim mengembangkan sensor gas berbasis kemoresistif dengan memanfaatkan material aktif di mana beberapa propertis atau sifatnya akan berubah ketika berinteraksi dengan gas SO2 atau gas berbahaya lainnya.

“Sensor gas berbasis kemoresistif harus memiliki beberapa kriteria diantaranya respon tinggi, sensitivitas tinggi, selektivitas tinggi, waktu respon yang cepat, waktu pulih cepat, temperatur kerja rendah, stabil, dan waktu hidup panjang. Di sini penelitian yang kami lakukan adalah penelitian yang berbasis oksida logam,” kata periset Kelompok Riset Fungsional Dimensi Rendah.

Rekayasa Nanomaterial Sensor Gas

Untuk mendapatkan kriteria yang maksimal, Rekayasa Nanomaterial Sensor Gas diperlukan seperti rekayasa Morfologi, rekayasa permukaan dan rekayasa antar muka atau dengan pembuatan komposit. ”Dengan merekayasa morfologi kita dapat merekayasa porositas dan luas permukaannya sehingga situs-situs aktif  menjadi lebih banyak, sehingga dapat berinteraksi dengan baik dan maksimal dengan gas-gas target,” terang Wulan.

“Kemudian dengan Rekayasa permukaan, maka oksida logam atau material lainnya didekorasi dengan material lain seperti logam mulia atau logam lainnya untuk mendapatkan beberapa efek yang dapat meningkatkan sensitifitas respon dan juga mempercepat reaksi permukaan,” lanjutnya.

“Lalu ada rekayasa komposit yang mirip dengan rekayasa antarmuka, jadi Ketika kita membuat komposit itu kita tidak akan lepas dari adanya antarmuka atau singgungan antara fasa material yang satu dengan fasa material yang lainnya. Sinergi dari kedua fasa ini dibutuhkan untuk mencapai kinerja atau performa yang relatif tinggi ,” tambah lulusan S3 Teknik Fisika ITB.

Sensor Gas SO2  Berbasis ZnO Multilayer 

Penelitian petama yang telah dilakukan yaitu kami membuat struktur zink oxide Multilayer (ZnO Multilayer). Sebagai sensor gasnya sendiri, Dr.Wulan dan tim mencoba beberapa temperatur dari 200 hingga 4000C, dan respon ZnO multilayer terhadap SO2 ini sangat baik pada temperatur suhu 300 0C.

“Pada ZnO Sheet Layer yang pertama responnya relatif rendah yaitu di bawah 40%, kemudian ZnO Nanorods dengan dua lapisan atau double layer memiliki respon yaitu sekitar 70%. Jika ditingkatkan menjadi 3 lapisan maka respon akan mencapai 99,9% pada temperatur 3000C,” paparnya.

Pertama, Wulan dan tim melakukan studi mekanisme Sensor Gas SO2  Berbasis ZnO Multilayer yaitu di mana reaksi permukaan sangat bergantung pada kandungan oksigen di udara. 

“Ketika udara di sekitarnya yang belum terpapar gas pada temperatur tertentu, maka oksigen dalam udara akan ter-adsorpsi, kemudian akan terionisasi dengan mengambil elektron pada permukaan ZnO, sehingga menciptakan adanya lapisan depresi. Lapisan depresi meningkatkan resistansi dari ZnO,” jelasnya.

Sensor Gas SO2 Berbasis ZnO Multilayer lebih baik dibandingkan dengan single layer, karena ketika ada multilayer, maka pembauran (diffusion path) semakin panjang sehingga udara dan SO2 dapat berpenetrasi lebih dalam karena situs aktif yang tersedia melimpah.

Kemudia ada singgungan-singgungan antar muka yang menimbulkan potensial barir yang memiliki kontribusi dan berubah ketika terpapar oleh gas target. Dan untuk SO2 sendiri ketika dia berinteraksi dengan ion oksigen dia akan menjadi sulfur trioksida (SO3) dan melepas kembali elektronnya keperrmukaan ZnO sehingga lapisan depresinya akan mengecil dan resistansinya akan turun. 

Sensor Gas SOBerbasis ZnO Wool Ball-like

Kemudian yang kedua, Dr. Wulan dan tim merekayasa morfologi dari ZnO dengan bentuk menyerupai bola rajut atau wool ball. Dengan melakukan rekayasa dari ZnO dengan menggunakan metode hidrotermal dengan bantuan glycerol sebagai capping agent.

Ketika tanpa gliserol maka ZnO terbentuk seperti brokoli, dan ketika ada gliserol sebesar 4 mL maka ZnO mulai tumbuh plat-plat berukuran 2 µm yang bergabung untuk membentuk suatu bola.

Ketika gliserol ditambah sebesar 8 mL maka ZnO sudah terlihat cukup baik strukturnya, dan ketika ditambah lagi hingga 10 mL menghasilkan bola rajut yang sangat besar berukuran sekitar 5 mikrometer. 

Untuk mekanismenya sendiri, ada dua hal yang penting yaitu propanol dan gliserol. Di mana gliserol merupakan capping agent yang menghambat pertumbuhan dari ZnO ke arah-arah tertentu. Sehingga pada dua jam pertama sudah terlihat adanya pembentukan wool ball, dan ketika diperlama partikel-partikel kecil akan bergabung dengan partikel-partikel dua dimensi (2D) dan pada delapan jam dia sudah relatif sempurna pembentukankannya. 

“Untuk bentuk bolanya sendiri dipengaruhi oleh propanol dan juga tekanan dari segala arah pada proses hidrotermal dan untuk gliserolnya sendiri dia berkontribusi dalam pembentukan partikel 2D,” jelas Wulan.

Setelah pembentukan wool ball ini, dilakukan kalsinasi untuk menghilangkan zat-zat yang tidak dibutuhkan karena setelah proses hidrotermal produknya belum ZnO tetapi zinc glycerolate yaitu produk hasil reaksi antara zinc dengan glycerol. “Setelah dikalsinasi ternyata terlihat adanya permukaan yang kasar dan ketika diperbesar ternyata partikel-partikel 2D itu tersusun dari partikel-partikel kecil yaitu berbentuk segi enam (heksagonal) dengan ukuran sekitar 30 nanometer,” jelasnya.

“Ketika diuji sebagai sensor gas SO2, wool ball memiliki respon yang sangat tinggi pada temperatur 3500C, sedangkan pada temperatur suhu 3000C wool ball memiliki respon sebesar 70,” imbuhnya.

“Dan itu 35 kali lebih tinggi dibandingkan dengan ZnO Multilayer. Di mana pada temperatur 3000C itu sekitar 99% atau hampir dua kali lipatnya. Sedangkan berbasis ZnO Wool Ball-like  pada temperatur 3000C responnya adalah 70 kali lipat,” sambungnya.

Ketika diuji bagaimana selektifitasnya sebagai sensor gas SO2, Wulan dan tim mencoba dari beberapa gas antara lain metanol, toluen, heksan, xylena, CO, CO2, dan SO2

“ZnO memiliki kecendrungan untuk menyukai SO2 dibanding gas yang lain, tetapi di sini memang masih relatif tinggi responnya terhadap CO dan CO2. Hal ini menunjukkan perlu modifikasi lebih lanjut untuk meningkatkan selektifitas dari ZnO dengan sturktur ini,” ulasnya.

Modifikasi ZnO Wool ball like dengan MWCNT 

Wulan dan tim mencoba gabungkan ZnO dengan Multiwalled Carbon Nanotubes (MWCNT) dan ketika ditambah dengan MWCNT terjadi perubahan struktur. “Modifikasi ZnO Wool ball like dengan MWCNT merusak dari struktur bolanya sendiri dan di sini terlihat ada beberapa nanotube yang masuk dan penetrasi ke dalam bola,” kata Wulan.

Semakin banyak MWCNT yang ditambahkan ini, tentu akan semakin banyak juga MWCNT yang masuk ke dalam ZnO, dan terdapat beberapa partikel minirod ZnO yang tumbuh di atas permukaan MWCNT.

Ketika diuji sebagai sensor gas SO2 terlihat kurva respon terhadap temperatur, terjadi pergeseran temperatur optimal dari 350 ke 3000C, dan juga adanya peningkatan respon dari 70 ke 2210C.

“Ketika diuji selektifitasnya dia meningkat dengan sangat pesat ketika ada MWCNT. Kehadiran MWCNT ini tidak hanya menurunkan temperatur optimalnya, tetapi juga meningkatkan selektifitas dari ZnO itu sendiri,” ungkap Wulan.

Sensor Gas SOBerbasis ZnO Hollow Sphere

Kemudian yang ketiga, Wulan dan tim mengembangkan Sensor Gas SO2 Berbasis ZnO Hollow Sphere. Metode Hollow Sphere sama dengan metode Wool Ball-like yaitu menggunakan metode hidrotermal, tetapi tidak dengan bantuan gliserol, tetapi menggunakan antosianin sebagai soft template pembentukan ZnO.

Anthocyanin diperoleh dari proses ekstraksi beras hitam, lalu dilakukan variasi konsentrasi antosianin, sehingga terlihat ketika ditambahkan sebesar 0,0103 gram antosianin terbentuk bola dengan ruang kosong di dalamnya, dan ketika di tambah lebih jauh ternyata struktur yang dihasilkan mengalami kerusakan 

“Di sini yang kami dapatkan adalah sebesar 0,01 gram antosianin yang merupakan konsentrasi atau jumlah antosianin paling optimal untuk mendapatkan hollow sphere,” terangnya.

Modifikasi ZnO Hollow sphere dengan MWCNT

Sebetulnya untuk ZnO hollow sphere sendiri ketika diuji hasilnya mirip dengan metode Wool Ball-like, namun pada temperatur 3500C bahwa temperatur utamanya memiliki respon yang relatif lebih rendah yaitu sekitar 75.

MWCNT dapat merusak struktur dari ZnO Hollow sphere karena penetrasi ke dalam dan membuat ZnO nya itu terbelah. Semakin banyak MWCNT ditambahkan, semakin rusak strukturnya dan di beberapa partikel bermigrasi ke permukaan MWCNT, sehingga tumbuh di atas MWCNT

Dengan penambahan MWCNT juga ternyata dapat menggeser temperatur optimal dari 350 ke 3000C dan di sini sekitar 150 responnya pada temperatur 3000C.

Menurutnya Wulan, untuk selektifitanya sendiri untuk ZnO Hollow sphere memang relatif buruk. Metode ZnO Hollow sphere lebih respon terhadap metanol dibandingkan dengan SO2 itu sendiri, tetapi ketika adanya MWCNT respon meningkat secara signifikan.

“CNT dapat meningkatkan selektifitas juga menurunkan temperatur kerja dan ZnO,” terang Wulan.

Mekanisme Sensor ZnO Hollow sphere dengan MWCNT

MWCNT merupakan material sensor juga, tetapi reaksi antara MWCNT dengan gas pada umumnya reaksi fisisorpsi dan interaksi fisis itu sangat lemah, sehingga responnya jauh lebih rendah dibandingkan dengan ZnO. 

Jika digabungkan, MWCNT yang memiliki temperatur kerja yang relatif lebih rendah karena konduktifitasnya lebih tinggi, dapat menurunkan temperature kerja ZnO.

Selain itu MWCNT ketika digabungkan dengan ZnO maka akan terjadi pn junction pada pada antar mukanya dan potensial barir pada antarmuka tersebut berkontribusi dengan sangat baik atau untuk mendeteksi gas SO2.

“Ketika ada gas berinteraksi pada antarmuka MWCNT-ZnO, maka potensial barir ini akan berubah dan menyebabkan adanya perubahan sifat elektronik atau perubahan resistansi dari sistem ZnO dan MWCNT,” urai Wulan.

“Tetapi konsentrasi antara CNT dan ZnO sangat perlu dipertimbangkan karena saat lebih banyak CNT dbandingkan dengan ZnO, maka CNT menjadi mendominasi sebagai sensor gas sehingga responnya menjadi lebih rendah walau pun temperatur kerjanya menjadi lebih rendah juga,” lanjutnya.

“Sinergi antara CNT dan ZnO, sangat ingin dicapai untuk mendapatkan sensor gas dengan temperatur kerja rendah tetapi memiliki respon yang relatif tinggi,” pungkasnya. (hrd/ ed. adl)

Categories
Nanoteknologi & Material Riset & Inovasi

Aktivasi Cahaya pada Sensor Gas

Tangerang Selatan, Humas BRIN. Qomaruddin periset Pusat Riset Fotonik – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pada Selasa (22/6) mempresentasikan risetnya berjudul “Photo-activated Gas Sensor”. Topik tersebut dipresentasikan pada webinar SEKOPI (Seminar Kolaborasi Optoelektronika) volume I.

Qomarudin menyampaikan tentang sensor gas secara umum, prinsip kerja, tren saat ini serta contoh proses pembuatan sensor berbasis ZnO NRs, karakterisasi, dan cara pengukuran hingga pembahasan mekanisme interaksi gas dengan material sensor.

Aktivasi cahaya pada sensor gas (photo-activated gas sensor) digunakan untuk menggantikan pemanas (heater) sebagai aktivasi permukaan material sensor. Oleh karena secara teknologi konvensional pada bidang sensor gas, cahaya tidak bisa digunakan untuk mengaktivasi sensor gas yang berbasis material semikonduktor oksida logam. Akan tetapi hal ini bisa dilakukan dengan beberapa strategi khusus, ytaitu salah satunya adalah memanfaatkan fenomena resonansi plasmon permukaan yang terlokalisasi pada partikel nano emas.

Menurut air quality index (AQI) di kota-kota besar di dunia, salah satunya Jakarta saat ini kondisi lingkungan atau pun udara yang ada di sekitar kurang sehat di outdoor, sehingga disarankan untuk menggunakan masker. 

“Dan ini bisa diakses secara real time. Tidak mungkin keluar angka-angka yang menunjukkan kondisi real time ini tanpa ada piranti atau device yang menunjukkan bahwa kualitas udara di sekitar itu sesuai dengan real-nya,” ujar Qomaruddin.

Qomaruddin menambahkan bahwa pasti ada device yang melaporkan atau memberi data bahwa kondisinya sedang bagus, kurang sehat, dan seterusnya.  Salah satu urgensinya sensor gas adalah untuk hal itu.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa udara yang kita tinggali dan hidup di dalamnya ini, secara umum komposisinya yang paling besar adalah nitrogen (78,09%) dan oksigen (20,94%). Sementara bagian kecilnya terdiri dari beberapa zat kimiawi, gas-gas yang bahkan tidak bisa dilihat, tidak bisa dirasa keberadannya, tetapi menjadi hal yang bisa membahayakan bagi kehidupan. 

Salah satu gas yang membahayakan di sini, Qomaruddin menggarisbawahi adalah Nitrogen Dioksida (NO2) yang merupakan salah satu dari kelompok gas yang sangat berbahaya karena toxic serta reaktif jika kita terpapar dalam waktu tertentu (8 jam) dan jangan sampai lebih dari konsentrasi 0,5 ppm (long-term exposure limit) atau jangan sampai lebih dari 1 ppm dalam waktu yang singkat 15 menit (short-term exposure limit)

“Untuk pengembangannya juga, kami akan mencari sensor gas yang konsumsi dayanya rendah, kemudian bisa bekerja pada suhu ruang. Jadi kalau dipakai di luar ruangan, di lapangan misalnya, bisa menggunakan jenis gas sensor seperti ini,” terang Qomaruddin.

“Kalau di dalam ruangan, itu dicari yang rendah konsumsi dayanya, serta suhu kerjanya. Kemudian yang bisa mengikuti tren teknologi terbaru di dunia saat ini,” tambahnya.

Beberapa tipe sensor gas

Tipe sensor gas digolongkan dalam beberapa tipe bedasarkan prinsip kerja dan material penyusun sensor. Dari sekian banyak jenis sensor gas, yang paling banyak dijumpai di pasaran adalah yang menggunakan prinsip kerja Conductometric Resistive Sensors. Umumnya sensor jenis ini menggunakan material polimer dan semikonduktor oksida logam. 

Secara konvensional, sensor gas menggunakan pemanas (heater) untuk aktivasi agar bisa bekerja optimal, sedangkan yang sedang berkembang saat ini menggunakan cahaya untuk aktivasi sensor untuk mereduksi konsumsi daya dan suhu kerja. Selain itu ada optical sensors, electrochemical sensors, thermometics (calorimeric) dan magnetic sensors. 

Beberapa sensor yang banyak juga ditemui di pasaran yaitu jenis Mechanical (Mass) Sensors, bahkan sensor dengan prinsip kerja jenis ini dipakai untuk menguji kondisi seseorang yang sedang terinfeksi positif COVID-19 atau negatif saat pandemi lalu, dimana salah satunya menggunakan Quartz Crystal Microbalance (QCM). Ada juga yang menggunakan Cantilever-based Devices untuk mendeteksi particulate meters (PM), serta yang menggunakan Surface Accoustic Wave (SAW) dengan memanfaatkan gelombang akustik untuk mendeteksi gas atau partikel polutan. Diantara beberapa jenis sensor gas yang sudah disebutkan tadi, masih ada jenis lain seperti spectroscopics dan lain sebagainya. 

Dalam risetnya, Qomaruddin dan tim mengembangkan Conductometric Resistive Sensors yang berbasis Metal Oxide Semiconductor (MOS) yang diaktivasi menggunakan cahaya pada spektrum cahaya tampak.

Sejarah dan Perkembangan Sensor Gas

Dalam perkembangan sensor gas yang dimulai tahun 1957 oleh Beilanski, dimana dia menggunakan material semikonduktor oksida logam untuk mengetahui adanya hubungan antara konduktivitas listrik pada MOS dengan aktivitas katalis dan dilanjutkan oleh Seiyama tahun 1962 yang memublikasikan adanya proses chemisorption di permukaan MOS pada suhu tinggi, juga dikenalkan untuk pertama kalinya jenis sensor gas komersial oleh Taguchi pada tahun 1972. Prinsip kerja ini masih dipakai hingga saat ini untuk mayoritas sensor gas berbasis MOS. Saura, mengenalkan pertama kali sensor gas yang diaktivasi menggunakan cahaya dengan material SnO2 pada tahun 1994. Pada tahun 2020, Qomaruddin telah berhasil mengembangkan sensor gas dengan material semikonduktor baru dengan bandgap sempit yaitu CaFe2O4 NPs yang diaktivasi menggunakan cahaya pada spektrum cahaya tampak untuk pertama kalinya dengan semikonduktor tipe-p (https://doi.org/10.3390/s20030850).

Hingga saat ini, perkembangan teknologi yang menggunakan cahaya untuk mengaktivasi sensor gas, masih terus berkembang dengan tujuan mengurangi suhu kerja sensor dan konsumsi daya yang digunakan.

“Sensor gas yang mempunyai suhu kerja sangat tinggi itu tidak ramah terhadap jenis-jenis gas yang mudah terbakar dan bisa meledak,” ungkap periset muda ini.

Oleh karenanya, sensor gas yang diaktivasi dengan cahaya pada spektrum cahaya tampak adalah salah satu jawaban untuk mengurangi konsumsi daya (bahkan hingga orde microwatt) dan bisa bekerja pada suhu kamar.

Prinsip kerja sensor gas yang diaktivasi menggukan cahaya

Prinsip kerja sensor gas yang menggunakan cahaya yakni pertama, pada kondisi suhu kamar, udara bebas (oksigen; O2(g)) yang mengalir pada permukaan material sensor akan mengikat elektron menjadi molekul oksigen ion (pre-chemisorbed oxygen ion; O2 (ads)-) dan terikat kuat di permukaan.Kedua, pada saat disinari cahaya dengan energi tertentu ada proses eksitasi elektron dari pita valensi ke pita konduksi. Hal ini akan membentuk pasangan elektron dan hole. Semakin tinggi intesitas penyinaran maka semakin banyak pasangan electron-hole yang terbentuk.

Kedua substansi ini akan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Misalkan elektron akan berinterkasi mengikat oksigen yang ada di udara membentuk oksigen ion pada permukaan sensor, molekul yang terbentuk disebut dengan photo-adsorbed oxygen ion; O2 ads-(hv). Pada saat yang sama hole itu akan berikteraksi dengan pre-chemisorbed oxygen ion dan membentuk molekul oksigen O2(g) serta kembali lagi ke udara bebas.

Proses seperti ini akan terjadi terus menerus hingga pada keadaan setimbang dan sensor siap bekerja mendeteksi gas.

Karakteristik Sensor

Sensor dikatakan mempunyai performa yang handal jika memiliki karakteristik tertentu, diantaranya adalah sensitivitas (tingkat kepekaan dalam mendeteksi gas), selektivitas (kemampuan mendeteksi satu jenis gas tertentu), waktu respon dan recovery (waktu yang dibutuhkan untuk mendeteksi dan membersihkan gas yang yg dideteksi) serta stabilitas. Untuk menghitung sensitivitas sensor (S) dari hasil eksperimen (data pengukuran), digunakan persamaan seperti yang tertulis dibawah ini; yaitu dengan mengukur 90% respon sinyal pada saat mendeteksi gas dibanding pada saat di udara. Hal ini juga digunakan dalam menentukan waktu respon dan recovery.

Contoh aplikasi pembuatan sensor gas berbasis MOS

Qomaruddin dan tim telah berhasil membuat sensor gas berbasis zinc oxide (ZnO) nanorods (NRs) yang didekorasi dengan nanopartikel emas (Au NPs) dan gas ujiyang digunakan adalah Nitrogen Dioxide (NO2). Proses aktivasinya menggunakan cahaya pada spektrum cahaya tampak dengan memanfaatkan fenomena resonansi permukaan yang terlokalisasi (localized surface plasmon resonance; LSPR) pada Au NPs.

Ada beberapa tahapan yang harus dilakukan untuk membuat sensor gas, mulai dari mempersiapkan electrical contact sebagai elektroda untuk mengukur besaran listrik hingga pengujian performa sensor.

“Kami membuat benihnya terlebih dahulu dari zinc oxide (ZnO) ini, dibuat dari zinc acetate dehydrate yang dilarutkan ke dalam ethylene glycol dengan konsentrasi 25 milimolar, lalu mendeposisi benih ini pada electrical contact dengan metode spin-coating, kemudian proses penumbuhannya menggunakan teknik hydrothermal, dan proses dekorasinya kita menggunakan electrophoresis” paparnya.

Kemudian setelah tahapan ini selesai semua, maka dikarakterisasi sifat materialnya. “Kita karakterisasi bagaimana morfologinya, komposisinya, apa benar sudah terbentuk zinc oxide,” urainya. 

Dan yang terakhir adalah pengujian performa sensor dengan melakukan pengukuran gas uji NO2 dengan konsentrasi yang berbeda-beda. Selama pengujian, sensor disinari dengan LED yang mempunyai panjang gelombang berbeda-beda pada spektrum cahaya tampak; yaitu biru (465 nm), hijau (520 nm), kuning (590 nm) dan merah (640 nm) serta menvariasi intensitas penyinaran. Untuk lebih detailnya bisa diakses di https://doi.org/10.3390/chemosensors10010028

Gambar 1. Setup pengukuran gas.

Hasil

Karakterisasi morfologi dan optis menunjukkan hasil yang bagus dan sesuai harapan. Karakterisasi ini menggunakan FE-SEM, AFM, EDS, PL dan UV-vis DRS. Sedangkan uji performa selain menggunakan NO2, juga menggunakan gas CO dan CO2 dengan konsentrasi tinggi sebagai gas uji lain untuk menentukan tingkat selektifitasnya. 

Pengujian performa sensor menjukkan hasil yang sangat baik sehingga material sensor ini menjanjikan peningkatan peforma sensor hingga lebih dari 40x sesnsitifitas dari sebelumnya. Juga bisa mendeteksi NO2 pada konsentrasi rendah hingga orde ppb (500 ppb) dalam eksperimen. Peningkatan sensitifita ini disebabkan jumal oksigen ion yg terbentuk lebih banyak dari sebelumnya karena adanya transfer electron dari Au-NPs memanfaatkan fenomena LSPR sehingga bisa mengikat gas NO2 lebih banyak.

Kesimpulan yang bisa diambil diantaranya: (1) bahwa sensor gas adalah divais yang sangat penting untuk mengukur kualitas udara baik di dalam dan di luar ruangan serta untuk mendeteksi adanya gas berbahaya; (2) penuruan suhu kerja serta konsumsi daya pada teknologi sensor gas masih menyisakan tantangan yang besar terutama untuk aktivasi cahaya pada spektrum cahaya tampak terutama untuk material berbasis MOS; (3) masih banyak cara (metode dan material) untuk meningkatkan performa sensor gas dengan aktivasi cahaya. (hrd/ ed. adl) 

Categories
Riset & Inovasi

Dewan Pengarah BRIN Jelaskan Rekonstruksi Pengembangan Iptek Nasional

Jakarta, Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyelenggarakan BRIN Insight Every Friday (BRIEF), pada Jumat (22/7), menghadirkan I Gede Wenten (Anggota Dewan Pengarah BRIN) sebagai narasumber. Pada edisi ke 35, Ratno Nuryadi Kepala Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material BRIN, memandu paparan terkait Rekonstruksi Pola Pengembangan Iptek Nasional.

Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko, dalam sambutannya berharap pembicara Prof Wenten bisa memberikan pengayaan untuk teman-teman kami tentang bagaimana membawa scientific exploration dan scientific invention. “Itu bisa menjadi inovasi dan paten. Dan itu adalah dua hal yang sebenarnya tidak terpisahkan,” ujarnya.

Handoko menambahkan bahwa kita tidak mungkin hanya mempunyai paten saja tanpa ada scientific proven dan scientific evidence-nya. “Scientific evidence itu bisa menjadi penguat bagi paten kita dan itu yang akan meyakinkan mitra industri. Kemudian bisa melakukan investasi yang betul-betul memproduksi dan menjualnya sebagai sesuatu yang menjadi produk inovatif yang bisa diterima oleh masyarakat,” jelasnya.

Sebagai pembicara, Prof Wenten berbagi terkait hasil riset, dan terkait dengan teknologi membran. Kemudian menunjukkan contoh-contoh hasil baik invensi maupun juga inovasi, paten, serta contoh-contoh produk riset.

Prof Wenten juga menyampaikan ide tentang rekonstruksi pola pengembangan iptek. Oleh karena persoalan iptek nasional seperti benang kusut. “Jangan-jangan mencari ujung benangnya saja belum tentu ketemu, sehingga rekonstruksi diperlukan karena kita betul-betul mau menuju keunggulan ekonomi berbasis kekayaan intelektual,” ujarnya.

“Tetapi untuk menuju ke sana, pertama kita harus betul-betul mengetahui atau mencermati dan menggali potensi, kemudian kita harus berani untuk berubah yaitu jalan perubahan sebagai langkah strategis bertransformasi. Selanjutnya bangsa kita harus membangun budaya ilmiah unggul. Maka untuk dapat mengawal dengan baik, maka kita harus merumuskan politik teknologi nasional,” urainya.

Dirinya menerangkan bahwa Indonesia bisa belajar dari berbagai negara lain, bagaimana melakukan inovasi berbudaya ilmiah. “Selanjutnya adalah langkah konkrit, yaitu mempromosikan hasil penelitian yang benar-benar berkualitas tinggi, unggul, dan kompetitif,” tegasnya.

Prof Wenten turut berpesan agar kita memilih pemimpin yang kompeten dalam teknologi. “Pemerintah jangan selalu berpolitik, ke depannya berusaha juga dengan pemimpin yang mempunyai pengalaman teknologi yahg baik, karena mereka lebih bisa melihat detil-detil dari hulu ke hilir,” pesannya. (hrd/ ed. adl)

Categories
Nanoteknologi & Material Riset & Inovasi

Sintesa Co-Doped Cerium Gadolinium Oxide dengan Metoda Sol Gel Ramah Lingkungan untuk Aplikasi Solid Oxide Fuel Cell

Tangerang Selatan, Humas BRIN. Sri Rahayu, periset Pusat Riset Material Maju – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pada Selasa (14/6) mempresentasikan risetnya berjudul ‘Sintesa Co-Doped Cerium Gadolinium Oxide dengan Metoda Sol Gel Ramah Lingkungan untuk Aplikasi Solid Oxide Fuel Cell’. Topik riset tersebut dipresentasikan pada webinar ORNAMAT seri #4 tahun 2022 di lingkungan Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material BRIN.

Sri Rahayu memaparkan terkait so gel baru yang ramah lingkungan untuk aplikasi SOFC (Solid Oxide Fuel Cell). 

Dalam presentasinya Sri menyampaikan latar belakang melakukan riset fuel cell. “Ini terkait dengan kegundahan banyak orang terhadap dampak lingkungan yang disebabkan oleh pembangkit fosil. Pada pertemuan Konferensi Iklim COP26, negara-negara bersepakat untuk mengganti pembangkit fosil mereka terutama barubara ke pembakit lain yang lebih ramah lingkungan, salah satunya fuel cell,” ujarnya.

Hal tersebut juga disampaikan oleh Kementerian ESDM bahwa hidrogen itu akan didorong menjadi  kontributor transisi energi di Indonesia guna menuju net zero emission di tahun 2060. Sejalan dengan energi terbarukan lainnya seperti pembangkit listrik tenaga surya, pembangkit listrik hidro, dan panas bumi. 

Fuel cell adalah perangkat elektrokimia yang mengubah reaksi kimia menjadi energi listrik. Cara kerjanya mirip dengan cara kerja baterai yang terdiri dari anoda, katoda, dan elektrolit,” jelas Sri.

Fuel cell sebagai perangkat penghasil listrik yang sangat bersih karena keluarannya itu hanya uap air (H2O), juga murah, serta mudah dan cepat  pengoperasiannya,” tambahnya.

Solid Oxide Fuel Cell (SOFC) 

Fuel cell terdiri dari berbagai macam jenis bergantung dari material dan operasi temperaturnya. Sri dan tim sendiri mengembangkan fuel cell pada solid oxide fuel cell (SOFC). 

“SOFC merupakan salah satu jenis fuel cell yang disukai karena dapat beroperasi pada suhu tinggi serta tidak harus menggunakan hidrogen, tetapi bisa mempergunakan gas alam lainnya sebagai bahan bakar (fuel),” jelas Sri.

“Tetapi karena suhu yang tinggi, mengakibatkan biaya operasi menjadi tinggi, mudah terdegradasi, dan maintenance yang tinggi,” lanjutnya.

Sri menyampaikan, bahwa banyak orang yang ingin menurunkan suhu operasi temperatur di bawah 6000C. “Salah satu upaya untuk menurunkan temperatur adalah dengan mendapatkan elektrolit yang padat dan memiliki ion konduktif yang sangat tinggi. Salah satu caranya adalah dengan dua substitusi ion (co-doped),” menurut periset muda ini.

“Jadi kita punya host, dan kita ganti unsurnya dengan dua unsur lainnya yang memiliki ion radius yang mirip,” terangnya lagi.

“Dengan menggunakan dua substitusi ion (co-doped) diharapkan aktifasi energinya turun dan ion  konduktifnya menjadi naik, dengan syarat kita harus mencari mismatch-nya  tidak terlalu jauh sehingga kita bisa mendapat konduktivitas yang optimum,” paparnya.

Cerium Gadolinium Oxide (CGO) 

Diketahui, bahwa metode sintesa powder itu bisa dilakukan dengan dua cara yaitu:

  1. Mekanikal yang sering kita tahu seperti ball mill, mechanical milling, dan itu sangat umum dipergunakan di industri karena murah, mudah, dan proven teknologinya, tetapi produk finalnya terkadang kemurniannya tidak terlalu bagus karena homogenitasnya tidak terlalu baik dan ukuran partikelnya cenderung tidak terlalu halus. 
  2. Dari proses kimiawi memiliki kemurnian yang tinggi dan komposisi kontrol yang baik, dan ukuran partikelnya yang sangat kecil, tetapi komprosifitasi agak sulit karena control pH.

Sri dan tim mengusulkan sintesa co-doped CGO dengan metoda sol gel sodium alginat yang ramah lingkungan, untuk aplikasi SOFC. Sodium alginat merupakan biopolimer yang berasal dari ekstraksi ganggang cokelat di mana terdapat dua gugus yaitu manorolit acid (M) dan glorini acid (G) yang banyak digunakan di industri farmasi, rabeh, maupun makanan. 

“Jadi kami menawarkan metoda sodium alginat ramah lingkungan untuk digunakan pada co-coped cerium gadolinium oxide (CGO) agar dapat menurunkan suhu operasinya di bawah 6000C, serta mengurangi biaya operasi, maintenance, dan degradasi material,” kata Sri.

Metodologi yang diterapkan yaitu sodium alginate powder yang digunakan diletakkan pada rotary fan device dan disemprot oleh deionized water agar menghasilkan sodium granules. Kemudian granules-nya dimasukkan ke dalam metal nitrate yang setelah dilarutkan dalam deionised water, diaduk di stirrer dalam waktu beberapa jam, dan akan mendapatkan wet metal-alginate granules. “Begitu mendapatkan wet metal-alginate granules, setelah itu dioven agar mendapatkan granules yang kering setelah itu kalkinasi,” ungkap periset Kelompok Riset Fuel Cell dan Hidrogen.

Hasil Riset

Untuk proses optimasi kalkinasinya Sri dan tim mempergunakan thermogravimetric analysis (TGA), untuk mendapatkan suhu optimumnya. “Melalui Cerium Gadolinium Oxide (CGO), sementara dengan perbandingan Cerium (Ce)  80, Godolinium (Gd)  20 dan saya co-doped dengan parsial substitusi Godolinium (Gd) dengan disprosium pada komposisi Cerium (Ce) 80, Godolinium (Gd)  10, dan Disprosium (Dy) 10, DCe 80, Gd 10, dan  Ho 10, serta Ce 80, Gd 10, dan  Er 10. Sehingga dapat ditunjukkan bahwa dia itu akan drop di suhu sekitar 4000C,” paparnya.

Dengan teknik analisis XRD (X-Ray Difraction) untuk mengidentifikasi fasa kristalin terlihat bahwa tidak ada fasa lainnya yang terdeteksi bahwa suhu 7000C lebih tajam dan 500 ribu lebih broad karena pengaruh temperatur.

Dari hasil kristalografinya, terkonfirmasi bahwa fasa yang terbentuk adalah cubic fluorit cristal structure dengan Fm3m space group, dengan crystalline size-nya pada suhu 5000C sekitar 12 nanometer sedangkan pada suhu 7000C sekitar 20-30 nanometer.

“Hasil dari Struktur kristal menunjukkan fase tunggal cubic (fluorite). Dengan ukuran kristal akhir nanopartikel pada kalsinasi suhu 5000C lebih kecil dibandingkan suhu 7000C,” ucapnya.

“Jadi dengan metode sol-gel baru ini (sodium alginat) merupakan proses yang menjanjikan untuk menghasilkan nanopartikel senyawa kompleks logam untuk SOFC karena prosesnya beroperasi pada suhu rendah dan menggunakan bahan ramah lingkungan yang dapat menekan biaya produksi,” kata Sri.

Sri berharap dari hasil risetnya, bisa berkolaborasi dengan kelompok riset lainnya dalam pengembangannya. “Bisa mengembangkan dengan bio-polimer lainnya, menghitung tekno ekonomian,” tutup peraih S3 dari University of Leeds di Inggris tahun 2021. (hrd/ ed: adl)