Tangerang Selatan – Humas BRIN. Pusat Riset Teknologi Reaktor Nuklir (PRTRN) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar kegiatan Sharing Knowledge di Auditorium Gedung Tekno 2, Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie, Serpong, pada Selasa (5/8). Kegiatan ini menjadi ajang pertukaran pengetahuan antarperiset untuk mengembangkan riset teknologi reaktor nuklir yang relevan dan berdampak, sekaligus memperkuat ketangguhan sumber daya manusia dari sisi kesehatan mental.
Acara dibuka oleh Kepala PRTRN, Topan Setiadipura, yang menekankan pentingnya membangun kompetensi peneliti melalui perspektif multidisipliner dan kerja kolaboratif. “Kita bisa melihat riset dari berbagai sudut pandang kimia, material, dan lainnya. Mulai saat ini, kompetensi teman-teman harus diperjuangkan agar punya track record yang bagus, baik di BRIN maupun di luar BRIN. Mari kita bikin story yang bagus melalui publikasi,” ungkapnya.
Topan juga mendorong penguatan komunikasi internal dan eksternal sebagai bagian penting dari pengembangan karier peneliti. “Di PRTRN ada orang-orang yang bisa menjembatani komunikasi dengan pihak luar. Gunakan kesempatan seperti ini untuk saling berbagi informasi dan bertumbuh bersama,” tambahnya.
Dalam sesi pemaparan, sejumlah peneliti PRTRN menyampaikan hasil dan rencana riset strategis. Deswandri, peneliti PRTRN, memaparkan rencana revitalisasi Reaktor Serba Guna G.A. Siwabessy (RSGGAS) dengan pendekatan analisis sistem kelistrikan. Ia menjelaskan penggunaan metode Fault Tree Analysis (FTA), Hazard and Operability Study (HAZOP), serta Failure Mode and Effects Analysis (FMEA) dalam identifikasi risiko, dan penerapan Reliability-Centered Maintenance (RCM) Logic Tree untuk strategi perawatan preventif.
Peneliti lainnya, I Wayan Ngarayana, mengangkat riset material FeCrAl (Oxide Dispersion Strengthened/ODS) untuk aplikasi temperatur tinggi pada reaktor nuklir generasi lanjut. Penambahan unsur silikon (Si) sebesar 1,57% diketahui meningkatkan kekerasan dan ketahanan oksidasi material. “Namun, ada kompromi pada sifat getas material. Penambahan Si memang menurunkan fission degradation, tapi perlu diwaspadai dari sisi mekanik,” ujar Wayan sembari memaparkan hasil karakterisasi material.
Sementara itu, peneliti PRTRN Sofia L. Butarbutar mempresentasikan pemanfaatan teknologi heat pipe untuk desalinasi air laut menggunakan energi dari PLTN dalam kerangka peLUit-40 project. Teknologi ini memanfaatkan 15% konsumsi listrik PLTN, sehingga efisiensi menjadi faktor krusial. Ia menjelaskan penggunaan material tembaga dan stainless steel yang dilapisi graphene oxide (GO) untuk meningkatkan konduktivitas termal dan ketahanan terhadap korosi. “Material heat pipe harus tidak korosif dan memiliki konduktivitas tinggi. Karena SS konduktivitasnya rendah, kita cari alternatif yang efisien secara biaya,” terangnya.
Menariknya, dalam kegiatan ini juga disampaikan materi tentang pentingnya menjaga kesehatan mental di lingkungan riset. Sri Idaiani, peneliti dari Pusat Riset Kedokteran Preklinis dan Klinis BRIN, mengangkat isu burnout dan kesehatan jiwa di tempat kerja. Ia mengingatkan bahwa sekitar 15 persen orang dewasa pernah mengalami gangguan jiwa, seperti depresi dan kecemasan.
“Sehat jiwa bukan hanya bebas dari gangguan, tetapi juga mampu menghadapi tekanan hidup, menyadari kemampuan diri, serta bisa belajar dan bekerja secara produktif,” ujar Sri. Ia menekankan bahwa pencegahan burnout memerlukan peran aktif organisasi. “Organisasi perlu membangun komunikasi yang sehat, menciptakan budaya kerja yang suportif, dan menyesuaikan beban kerja secara realistis,” pesannya.
Kegiatan Sharing Knowledge PRTRN ini diharapkan menjadi fondasi kolaborasi riset yang unggul tidak hanya dalam aspek teknis dan ilmiah, tetapi juga memperhatikan ketahanan mental para periset sebagai penggerak utama inovasi nasional. (adl/Ed:trs)
Tautan: