Tangerang Selatan – Humas BRIN. Krisis iklim dan kebutuhan transisi menuju energi terbarukan mendorong pengembangan teknologi material untuk mendukung produksi bahan bakar dan penyimpanan energi. BRIN melalui Pusat Riset Katalisis mengembangkan material fungsional berbasis oksida logam yang dikombinasikan dengan material berbasis karbon. Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Katalisis BRIN, Amalia Kurnia Amin menjelaskan, risetnya berfokus pada desain dan fungsionalisasi material untuk aplikasi katalis maupun energi.
“Penelitian saya yang terkait dengan desain material fungsional ini utamanya dilatarbelakangi oleh adanya krisis iklim, serta upaya transisi energi ke energi terbarukan dan berkelanjutan,” jelas Amalia saat diwawancarai Tim Humas, Kamis (17/9).
Riset tersebut diarahkan untuk mendukung produksi bahan bakar nabati, seperti biodiesel, biogasolin, dan bioavtur. Dalam pengembangannya, Amalia memanfaatkan sumber daya lokal dan limbah biomassa yang melimpah untuk menghasilkan material bernilai tambah.
“Limbah sekam padi dan daun salak, misalnya, dimanfaatkan sebagai sumber silika untuk material pendukung katalis. Sementara kulit pisang dan tempurung kelapa dikembangkan menjadi karbon aktif yang kemudian dimodifikasi dan dikombinasikan dengan oksida logam. Dari sini prinsip ekonomi sirkular akan tercipta dan kita dapat memanfaatkan sumber daya kita untuk berinovasi,” ujarnya.
Material berbasis silika dan kalsium oksida (CaO) telah dikembangkan sebagai katalis produksi biodiesel. Sementara karbon berbasis limbah biomassa dimanfaatkan untuk mendukung produksi hidrogen hijau melalui proses water splitting.
Dalam pengembangan penyimpanan energi, Amalia juga terlibat dalam kolaborasi riset internasional MOST-RIIM yang diketuai Prof. Widya dari Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk untuk mengembangkan material superkapasitor berbasis tempurung kelapa hasil pirolisis.
Saat ini, sebagian besar riset masih berada pada skala laboratorium dengan Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) 3–4. Untuk biodiesel, tim telah melakukan pengujian aktivitas dan selektivitas katalis serta benchmarking dengan katalis komersial. Tim juga mulai menyiapkan scaling up melalui desain reaktor produksi biodiesel.
“Untuk rencana ke depannya diharapkan tetap fokus menuju hilirisasi, untuk pilot plant. Sejauh ini kami juga sudah menginisiasi roadmap scaling up dengan membuat desain reaktor untuk produksi biodiesel,” terangnya.
Salah satu tantangan menuju hilirisasi adalah mengubah material yang masih berbentuk serbuk menjadi granul atau pelet agar lebih siap diaplikasikan di industri.
“Pengembangan superkapasitor masih memerlukan teknologi pembuatan cell untuk mendukung pengujian pada skala lebih besar. Serbuk ini harus diolah sedemikian hingga menjadi granul ataupun pelet sehingga lebih siap untuk dipakai secara industri,” kata Amalia.
Untuk mengatasi kebutuhan tersebut, kolaborasi dengan perguruan tinggi, pusat riset lain, dan mitra internasional menjadi bagian penting dalam pengembangan teknologi. Amalia menyebut kerja sama dengan Universitas Gadjah Mada dan Xiamen University turut mendukung riset di bidang material dan energi.
Menurutnya, hasil kolaborasi penelitian pada akhirnya ditujukan untuk mendukung kebutuhan industri sekaligus mendorong kemandirian energi dalam negeri.
“Secara keseluruhan kami tidak dapat berdiri sendiri. Kita harus berkolaborasi, baik dengan universitas, pemerintah, maupun industri. Dalam menciptakan ekosistem yang berkesinambungan, sehingga mampu sampai hingga tujuan akhir menjadi produk yang bermanfaat bagi Indonesia,” pungkasnya. (adl, sm/ ed: aj, ns)
Tautan:
