Serpong-Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjajaki peluang kerja sama strategis di bidang forensik nuklir dengan The Network of ASEAN Chemical, Biological, Radiological (CBR) Defence Experts. Pertemuan ini digelar dalam kegiatan bertajuk A Meeting to Introduce the Network of ASEAN CBR Defence Experts, di Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong, Rabu (23/7).
Pada kesempatan tersebut, Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) BRIN, Syaiful Bakhri, menyampaikan bahwa BRIN saat ini mengembangkan tiga program nasional terkait ketenaganukliran, yaitu nuklir untuk energi, kesehatan, dan ketahanan pangan. Ketiganya memiliki keterkaitan erat dengan aspek keselamatan dan keamanan nuklir.
“Kami berharap program-program ini ke depannya dapat menjadi bagian dari perluasan kerja sama antara kedua belah pihak. Meskipun kami memahami bahwa The Network of ASEAN CBR Defence Experts sangat berfokus pada aspek keselamatan dan keamanan, namun kami meyakini bahwa program-program yang sedang dikembangkan di Indonesia juga memiliki keterkaitan yang erat dengan isu-isu tersebut,” jelas Syaiful.
Syaiful menjelaskan di bidang energi, BRIN berperan sebagai Technical Support Organization (TSO) yang memberikan rekomendasi kepada pemerintah terkait pilihan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang paling sesuai untuk kebutuhan Indonesia. Sementara di bidang kesehatan, BRIN menargetkan produksi radiofarmaka dalam skala besar guna memenuhi kebutuhan terapi kanker di dalam negeri serta membuka peluang ekspor ke negara lain.
Syaiful berharap pertemuan ini dapat menjadi langkah awal yang membuka peluang bagi implementasi kerja sama yang lebih konkret di masa mendatang.
Sementara itu, Head of Secretariat Network of ASEAN CBR Defence Experts, Loke Weng Keong, menjelaskan bahwa jaringan ini dibentuk pada November 2019 sebagai wadah yang mempertemukan para ahli di bidang Chemical, Biological dan Radiological dari negara anggota ASEAN.
Tujuan jaringan ini adalah mempererat hubungan profesional di antara para ahli pertahanan ASEAN melalui kerja sama dan berbagi informasi, keahlian, serta pengalaman terkait ancaman CBR yang umum. Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan keselamatan, keamanan, dan kapasitas penanggulangan terorisme melalui koordinasi multilateral demi kepentingan perdamaian dan keamanan kawasan.
“The Network of ASEAN CBR Defence Experts dibentuk untuk membangun kepercayaan di antara negara-negara ASEAN sehingga kita dapat saling mendukung. Jadi, jika kita membutuhkan bantuan, kita cukup menerima satu panggilan telepon dan saling membantu. Dan kedua, adalah memastikan bahwa kesepuluh negara ASEAN akan memiliki proses kerja sama yang harmonis,” ungkap Loke.
“Kami sangat mengapresiasi kompetensi yang dimiliki BRIN. Kami meyakini bahwa kita memiliki kepentingan bersama dalam meningkatkan keamanan dalam pencegahan penyalahgunaan bahan kimia, biologi, dan radiologi” tambah Loke.
Loke juga menyampaikan, dengan bergabung pada The Network of ASEAN CBR Defence Experts, para ahli terkait di BRIN akan memperoleh akses terhadap Recommended Operating Protocols (ROPs). Selain itu, akan terbuka peluang kolaborasi dalam upaya peningkatan kompetensi SDM, baik melalui pelatihan maupun studi terkait forensik nuklir.
“Kami berharap pertemuan hari ini menjadi langkah awal untuk mengajak para ahli dari BRIN terlibat aktif dalam berbagai aktivitas yang diinisiasi oleh jaringan kami serta bersama-sama menghadapi serta mencegah segala bentuk penyalahgunaan material CBR secara ilegal,” jelas Loke.
“Kami juga membuka peluang kolaborasi dengan BRIN untuk membawa para ahli dalam pelaksanaan pelatihan bagi para ahli di kawasan ASEAN serta dapat terus bekerja sama untuk memperkuat kapasitas dalam studi forensik nuklir di masa depan,” kata Loke.
Sementara itu, Peneliti Ahli Muda dari Pusat Riset Teknologi Reaktor Nuklir (PRTRN) BRIN, Arief Sasongko Adhi menyampaikan pemangku kebijakan terkait forensik nuklir di Indonesia meliputi BAPETEN sebagai badan regulasi, POLRI sebagai penegak hukum, dan BRIN sebagai lembaga riset yang akan terlibat dalam investigasi forensik nuklir jika diminta oleh POLRI.
“POLRI akan meminta bantuan kepada BRIN apabila berkaitan dengan forensik nuklir, meskipun mereka sendiri telah memiliki laboratorium yang sangat baik,” ujar Adhi.
Adhi juga menyampaikan BRIN saat ini memiliki sumber daya manusia maupun sarana yang mendukung perkembangan forensik nuklir di Indonesia.
“Di BRIN, kami memiliki para pakar yang ahli dalam penanganan bahan nuklir dan bahan radioaktif. Kami juga didukung oleh fasilitas yang memadai, dan saat ini tengah mengembangkan perpustakaan nuklir forensik,” pungkas Adhi. (ra, arf/ ed: mfs)
Tautan: