Categories
Nanoteknologi & Material Riset & Inovasi

Komitmen BRIN bersama KLHK dan UNDP untuk Pertambangan Emas Rakyat Bebas Merkuri

Jakarta – Humas BRIN. Sejalan dengan komitmen pemerintah untuk pengurangan dan penghapusan penggunaan merkuri di lokasi Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan United Nations Development Program (UNDP) dalam pelaksanaan “Global Opportunities for Long-term Development of Artisanal and Small-scale Gold Mining (ASGM) Sector (GEF-GOLD): Integrated Sound Management of Mercury in Indonesia’s ASGM (ISMIA) Project” atau proyek GOLD-ISMIA.

Proyek GOLD-ISMIA bertujuan mengurangi dan menghapus penggunaan merkuri di sektor PESK di Indonesia, melalui penyediaan bantuan teknis, alih teknologi, dan akses terhadap pembiayaan untuk peralatan pengolahan emas bebas merkuri. Dalam rangka sosialisasi produk GOLD-ISMIA sebagai acuan para pihak untuk menjadikan sektor PESK yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan, maka diselenggarakan rapat persiapan ‘Workshop dan Pameran Diseminasi Hasil Proyek GOLD-ISMIA’, pada Selasa (29/11).

Dadan M. Nurjaman selaku Perekayasa Ahli Utama BRIN dan DNPD GOLD-ISMIA Project, menyampaikan sekilas bahwa tahun 2013 disahkan Konvensi Minamata mengenai merkuri dalam sebuah konferensi Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) di Provinsi Kumamoto, Jepang. Konvensi tersebut memutuskan seluruh negara PBB menyepakati rencana pengurangan dan penghapusan merkuri dari berbagai sektor.

Hingga kini, Dadan dan tim sudah meneliti sekitar 13 sektor yang menghasilkan merkuri di Indonesia dan yang paling besar adalah di sektor Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK). “Sampai setahun, PESK menghasilkan kurang lebih 140 ton yang dirilis ke lingkungan. Sedangkan sektor lainnya antara lain PLTU batubara, migas, dan juga dari sektor kesehatan,” jelasnya.

Pemerintah menuangkan dalam Perpres Nomor 21 Tahun 2019 yang mengatur tentang Rencana Aksi Nasional Pengurangan dan Penghapusan Merkuri (RAN PPM). Pada peraturan ini juga mewajibkan daerah untuk membuat Rencana Aksi Daerah (RAD) di tiap daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota sebagai tindaklanjut pelaksanaan RAN PPM.

“Sebagaimana diatur dalam RAN PPM pada bidang prioritas PESK ditargetkan zero merkuri sebelum adanya kebijakan RAN PPM di tahun 2025,” sebut Dadan. 

Proyek Gold-ISMIA kerja sama antara UNDP, KLHK, dan BRIN bertujuan mengurangi dan menghilangkan penggunaan merkuri di PESK dengan cara memberikan bantuan teknis, transfer teknologi, pembentukan kemitraan antara swasta – publik dan akses pendanaan untuk pembelian peralatan pengolahan emas tanpa merkuri. “Program ini tidak dilaksanakan sendiri, tapi dilaksanakan oleh 8 negara yang dianggap menghasilkan merkuri dalam jumlah yang signifikan, khususnya di pengolahan emas oleh penambang rakyat,” urai Dadan.

Proyek GOLD-ISMIA ini difokuskan pada enam lokasi, yaitu di Pulau Obi (Sulawesi Utara), Minahasa Utara (Sulawesi utara), Kulon Progo (Yogyakarta), Kuantan Singingi (Riau), Lombok (NTB), dan Gorontalo Utara (Gorontalo). 

“Dalam kegiatan lima tahun ini, ada enam lokasi proyek dalam upaya memberikan pelatihan, percontohan, pendampingan, dan sebagainya, agar mereka beralih dan berkesinambungan berkelanjutan programnya,” tuturnya.

Teknologi BRIN dalam Proyek GOLD-ISMIA

Dadan mengatakan, dengan pelarangan merkuri bukan berarti mata pencahariannya putus. Salah satu keberhasilan adalah bisa beralihnya teknologi yang awalnya menggunakan merkuri menjadi non merkuri. 

“Peran BRIN sebagai lembaga riset mengintervensi teknologi supaya mereka beralih ke teknologi yang bukan merkuri. Dengan enam lokasi proyek, kami memberikan pelatihan, percontohan, pendampingan, dan sebagainya, agar mereka beralih dan berkesinambungan berkelanjutan programnya,” ulas Dadan.

Ditambahkan olehnya bahwa dari sisi teknologi, ada beberapa kunci keberhasilan dengan pendampingan yang tidak hanya semata-mata pada pengetahuan akademis yang dibawa, tetapi memahami bagaimana kearifan lokal dari pertambagan emas rakyat itu.

“Menggabungkan antara pengetahuan teknis dengan kearifan lokal, itulah kunci keberhasilan sehingga bisa berkelanjutan, karena sebenarnya sudah 30 tahun upaya ini dilakukan di dunia dan banyak yang gagal juga karena tidak memperhatikan pengetahuan teknis dengan kearifan lokal,” jelasnya.

Dari sisi formalisasi, yang akan dilakukan pembinaan adalah pertambangan emas rakyat yang berada di Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) dan mempunyai Izin Pertambangan Rakyat (IPR). Pendampingan formalisasi dilakukan terhadap proses kebijakannya yang terdapat rencana aksi nasional (RAN) juga rencana aksi daerah (RAD). 

Selain itu, termasuk upaya agar rakyat bisa secara kelompok membangun usahanya, maka dibentuk koperasi juga. ”Di dalam koperasi diberikan pelatihan bagaimana administrasinya, manajemennya, keuangannya, termasuk ada yang disebut mendapatkan semacam hibah kecil untuk koperasi yang digunakan untuk membeli modal peralatan unit pengolahan, ada yang dibangun infrastruktur kantor, dan lain-lain. Itu sudah berjalan juga. Jadi dari berbagai aspek ini, diimplementasikan di dalam project GOLD-ISMIA,” jabarnya.

“Proyek ini tidak hanya berorientasi pada proses penambangan tanpa merkuri, namun juga pendekatan formalisasi dan kesejahteraan bagi para penambang, dan tidak lupa juga melibatkan kesetaraan gender,” tegasnya.

Senada dengan Dadan, perekayasa BRIN Haswi Purwandanu Soewoto mengatakan bahwa BRIN menyiapkan teknologi sebagai pengganti merkuri. “Jadi pada dasarnya kami mempunyai proyek tentang bagaimana mengkaji pengolahan emas yang tidak menggunakan merkuri, peralatan lab kami juga komplit, dan setelah itu kami kaji untuk tipe emas,” ungkapnya.

“Ada dua tipe emas, yaitu primer dan sekunder. Untuk emas primer, bisa menggunakan teknologi bleaching atau pengikisan yang murah dengan beberapa bahan kimia yang lebih aman, antara lain sianida, yang dapat didestruksi secara cepat dan limbahnya bisa dikelola, sehingga tidak berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan, sementara untuk tipe emas sekunder bisa dengan teknik gravitasi,” lanjut Haswi.

Terkait hal tersebut, hasil proyek GOLD ISMIA telah dirasakan manfaatnya oleh para penambang PESK, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah di Indonesia, sekaligus mendukung pencapaian Aksi Nasional Pengurangan dan Penghapusan Merkuri. Dadan dan tim berharap dengan pelaksanaan diseminasi ini dapat diinformasikan ke seluruh pemangku kepentingan, sehingga manajemen pengetahuan GOLD-ISMIA Project bisa dijadikan acuan atau model di tempat lain. (hrd/ ed: adl)

Categories
Nanoteknologi & Material Riset & Inovasi

Perbarui Data Pemanfaatan Pertambagan, Kemenperin Jajaki Kolaborasi dengan BRIN

Tangerang Selatan, Humas BRIN. Direktorat Industri Semen, Keramik, dan Pengolahan Bahan Galian Non Logam, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melakukan kunjungan ke Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material (ORNM) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam rangka penjajakan memperbarui progres pemanfaatan penambangan, Rabu (26/10). 

Dalam pertemuan ini, Kepala ORNM diwakili oleh Kepala Pusat Riset Teknologi Pertambangan (PRTPb), Anggoro Tri Mursito. Sementara dari Direktorat Industri, Semen, Kermaik dan Pengolahan Bahan Galian Non Logam, Kemenperin diwakili Mayzaky serta didampingi oleh konsultan dari PT Pasade Utama.

Pada sesi diskusi, Anggoro Tri Mursito menjelaskan pusat riset ORNM yang berada di kawasan sains dan teknologi (KST) BJ Habibie. “Kami di sini ada beberapa pusat riset yang hadir luring, ada dari perwakilan kelompok riset Pusat Riset Teknologi Pertambangan, Metalurgi, Kimia Maju, dan Material Maju berlokasi di KST BJ Habibie, Tangerang Selatan. Ada pula peserta yang hadir secara daring dari beberapa lokasi, diantaranya Babarsari Yogyakarta, Tanjung Bintang Lampung, dan Cisitu Bandung,” terangnya.

Selain itu, Anggoro menyampaikan profil riset pertambangan ORNM setelah satu tahun keberadaan BRIN. Mulai dari proses bisnis, perkembangan progres dari fundamental riset, sampai ke ekonomi di bidang spesial pasir kuarsa maupun untuk kuarsit. “Kami akan perbarui lagi, sehingga kita dapatkan gambaran, kajian, penelitian, maupun ekonomi yang terkini,” tambahnya

“Kami berkunjung ke BRIN untuk mengetahui adanya kajian mengenai proses pengolahan Nano Silika menjadi Sel Surya,” ujar Mayzaky. “Selain itu, kami mengharapkan adanya ouputnya lebih dulu, pertama adanya komunitas dari Nano Silika, yaitu hilirisasi industri dan teknologi pengolahannya yang berkaitan saat ini, sehinga kami datang ke BRIN, kemudian data-data dan entitas silika menjadi tersedia,” jelasnya.

Ditambahkan oleh Mayzaky, kajian bersama BRIN merupakan salah satu rangkaian kegiatan dari kajian Kemenperin, dan PT Pasade membutuhkan beberapa data dalam menyusun kajian.

Senada dengan Mayzaky, Agung Nugroho dari PT Pasade menjelaskan bahwa perusahannya ditunjuk oleh Kemenperin, untuk melakukan kajian tentang silika, terutama pengolahannya untuk sel surya. 

PT Pasade mengambil sampel di empat provinsi yaitu provinsi Banten, Medan, Bangka Belitung, dan Kalimantan Tengah. “Kami dapatkan bahwa pasir silika tidak efesien sebagai bahan baku sel surya. Kandungan pasir kita luar biasa sudah diekplorasi dan sudah diolah, tetapi kami menemukan bahwa pasir silika tidak efesien digunakan sebagai bahan baku sel surya, menurut versi yang kami pelajari dari Balai Pengujian Mineral,” ungkapnya.

“Pasir silika ini akan terbentuk fume silika sehingga tidak efisien, sedangkan yang efsien adalah kuarsit,” tambahnya.

PT Pasade belum menemukan cukup informasi atau data tentang kuarsit walaupun ada di Sumatra Barat dan Aceh, tetapi sebatas sumber daya yang belum menjadi cadangan dan perekonomiannya. PT Pasade ingin menggali lebih lanjut ke BRIN terkait pengujian-pengujian kuarsit tersebut. 

“Sebagai informasi pasir silika tidak efesien, tetapi tetap saja pasir silika menurut Telnologi Mineral dan Batubara (Tekmira) bisa digunakan sebagai Metallurgical Grade Silicon (MGSI) yang berguna untuk bahan kimia, paduan, dan sebagainya. 

“Menjadi pekerjaan rumah bagi Kemenperin adalah pasir silika apakah layak diolah menjadi MGSI atau beralih ke kuarsit seperti versinya Tekmira. Untuk itu, diharapkan di lingkungan BRIN, sudah ada penelitian-penelitian lain tentang pasir silika dan sebagainya,” tuturnya.Di akhir diskusi Anggoro mengatakan bahwa BRIN akan mengidentifikasi pemanfaatan nano silika bersama stakeholder yang lain. “Setelah BRIN mengindetifikasikan seluruh badan litbang, periset-periset Kementerian dan Lembaga, termasuk dari Tekmira dan Balitbang, Kementerian EDSM yang telah bergabung, kami akan paham betul untuk kajian ini,” ucapnya. (hrd/ ed. ls, adl)

Categories
Nanoteknologi & Material Riset & Inovasi

Identifikasi Akuifer dengan Interpretasi Model 3D Data Resistivitas

Tangerang Selatan, Humas BRIN. Hilmi El Hafidz Fatahilah, periset Pusat Riset Teknologi Pertambangan – Badan Riset dan Inovasi Nasional, pada Selasa (31/5) memaparkan risetnya yang berjudul ‘Identifikasi Persebaran Formasi Breksi Vulkanik untuk Mengetahui Potensi Air Tanah di Sekitar Area Pertambangan Menggunakan Pemodelan 3D Data Resistivitas’. Topik riset tersebut dipresentasikan pada webinar ORNAMAT seri #3 tahun 2022 di lingkungan  Organisasi Riset Nano Teknologi dan Material BRIN.

Hilmi menjabarkan proses identifikasi formasi batuan breksia vulkanik dalam kaitannya terhadap potensi sebagai akuifer air tanah di area pertambangan. Dalam riset ini digunakan pemodelan tiga dimensi dari data resistivitas bawah permukaan. “Riset yang kami lakukan ini adalah bagian dari riset terpadu hidrogeologi di area pertambangan,” kata Hilmi. 

Riset ini didasari dari kebutuhan untuk menemukan potensi akuifer dalam di area pertambangan untuk kegiatan pendukung dari pertambangan dan kegiatan pemprosesan dari hasil-hasil tambang. “Penelitian ini dilakukan dengan cara mengidentifikasi geometri dan mengestimasi volume dari potensi akuifer area studi, mengimplementasikan pemodelan 3D, serta inversi metode robust untuk studi hidrogeologi ini,” ujar Hilmi.

Penelitian diawali dari studi literatur yang selanjutnya diteruskan dengan pengamatan geologi observasi yang hasilnya diketahui bahwa area studi ini memiliki litologi berupa breksia vulkanik, aglomerat, lava, tuff, dan alluvium. Selain itu tim riset geologi juga melakukan infiltration test, untuk mengetahui batuan mana yang memiliki potensi akuifer. Hasilnya didapatkan bahwa vulkanik memiliki potensi paling kuat untuk menjadi akuifer di area studi ini.

Metode Resistivitas

Pada dasarnya metode resistivitas merupakan metode untuk mengukur tahanan jenis bawah permukaan atau resistivitas bawah permukaan dengan cara menginjeksikan arus melalui elektroda arus lalu mengukur nilai tegangannya melalui elektroda potensial. Setelah diketahui nilai arus yang diinjeksikan dan nilai potensialnya yang terukur, lalu nilai tahanan dan resistansi dihitung. Selanjutnya, nilai resistansi dikalikan dengan nilai faktor geometri untuk mendapatkan nilai tahanan jenis semu (app) bawah permukaan.

Faktor geometri bergantung dengan konfigurasi elektroda yang digunakan. “Elektroda ini dapat diletakkan dalam berbagai macam posisi yang segaris dan dalam penelitian ini kita menggunakan konfigurasi Wenner-Schlumberger. Pada konfigurasi ini terdapat dua elektroda arus yang mengapit dua elektroda potensial,” jelas Hilmi.

Dalam pengukuran resistivitas tersebut, digunakan alat berupa Ares resistivity meter G4, external switchbox, elektroda, kabel multicores  48 channels, dan baterai.

Di PR Teknologi Pertambangan sendiri telah mampu memproduksi kabel multicores 48 channels yang disesuaikan dengan spasi antar elektroda yang dibutuhkan.

Desain Survei

Setelah memahami metode resistivitas, selanjutnya membuat desain survei. “Dari hasil survei geologi, kami tim geofisika membuat rencana lintasan survei di daerah target yang telah ditentukan dan menentukan spasi elektroda sesuai target yang diinginkan. Pada arah northwest-southeast menggunakan spasi elektroda sebesar 15 meter, dan arah northeast-southwest sebesar 20 meter,” papar Hilmi.

Akusisi Data

Setelah desain dan rencana survei terbentuk, kegiatan akusisi data dilakukan. Dalam akusisi data resistivitas, tahapan kegiatan diawali dengan membuat lintasan pengukuran dan memberikan tanda sesuai spasi elektroda yang telah ditentukan. Selanjutnya, kabel dan elektroda dipasang sesuai desain survei dan sesuai tanda yang telah dibuat, lalu kabel dihubungkan dengan switchbox dan konsol resistivitimeter untuk melakukan pengukuran resistivitas bawah permukaan dengan menggunakan konfigurasi elektroda yang telah ditentukan, yaitu menggunakan Wenner-Schumberger.

“Untuk memperoleh keakuratan dalam perhitungan estimasi volume akuiferserta geometri yang tepat dalam pemodelan 3D, kita merekam koordinat setiap elektroda menggunakan GPS Geodetik. Jadi dengan ini kita mendapatkan posisi koodinat X, Y, dan Z secara akurat seningga pemodelan dapat dilakukan dengan baik,” terangnya.

Proses Data Resistivitas

Setelah mengukur resistivitas di semua lintasan, dan merekam posisi elektroda di setiap titik. Selanjutnya dilakukan pemrosesan data resistivitas tersebut.

Kemudian dilakukan interpretasi nilai resistivitas ke dalam litologi berdasarkan literatur yang sudah ada. “Di dalam dunia geofisika kita memiliki literatur tentang nilai tahanan jenis (nilai resitivitas) masing-masing batuan dan kita jadikan acuan. Selain itu, kita juga menggunakan pedoman dari hasil pengamatan geologi(data-data litologi yang ada di area pengukuran) dan dari pengamatan tersebut, breksia vulkanik yang diketahui memiliki nilai resistivitas 0-20 Ωm, agglomerate 21-73 Ωm, dan lava > 73 Ωm,”ungkapnya.

Pemodelan 3D

Pemodelan 3D data resistivitas dilakukan setelah pemrosesan data resistivitas secara 2D pada semua profil lintasan pengukuran. “Dari data 2D persebaran resistivitas yang didapat kemudian kita ekstrak nilai resistivitas sebenarnya (true reisistivity value) dan nilai kedalaman datumnya. Selanjutnya, kami gabungkan dengan koordinat X dan Y dari masing-masing elektroda, lalu kami dapatkan persebaran nilai resistivitas secara 3D,” jelas Hilmi.

Hasil dari pemodelan 3D persebaran nilai resistivitas bawah permukaan selanjutnya diklasifikasikan berdasarkan nilai resistivitas setiap litologi yang telah diinterpretasikan. Interpretasi nilai resistivitas pada model 3D ini memberikan informasi mengenai persebaran litologi bawah permukaan dan geometri litologi bawah permukaan. Model 3D yang telah diinterpretasi ini juga dapat digunakan sebagai acuan dalam pemilihan lokasi lubang sumur.

Selain itu, dari interpretasi data 3D ini, Volume dari batuan breksi vulkanik yang diketahui memiliki potensi besar sebagai akuifer juga dapat dihitung dan didapatkan estimasi volumenya sebesar 122,392,828 m3 m3.

“Selanjutnya dalam penelitian ini, kita berharap dapat melakukan implementasi metode resistivitas dengan beberapa penyesuaian untuk melakukan eksplorasi, tidak terbatas pada hidrologi, tetapi juga pada tipe-tipe deposit dari mineral berharga seperti nikel laterit, endapan sulfida yang memuat banyak mineral berharga, dan tipe deposit mineral berharga lainnya,” harap periset Kelompok Riset Eksplorasi Pertambangan. (hrd/ed:adl)