BRIN Dorong Ekosistem Riset Terpadu dan Inovasi Berbasis Kebutuhan Bangsa

Tangerang Selatan-Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyelenggarakan Temu Periset di Auditorium Graha Widya Bhakti, Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie, Serpong (06/08). Acara ini menjadi momentum penting bagi sivitas BRIN untuk memperkuat sinergi, membangun ekosistem riset terpadu, dan menyelaraskan arah inovasi nasional agar semakin menjawab kebutuhan riil masyarakat.

Dalam sambutannya, Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko, memaparkan struktur integratif organisasi riset yang tersebar di berbagai kawasan: Serpong, Cibinong, Gatot Subroto, dan Bandung. Ia menjelaskan bahwa KST Serpong memainkan peran penting dalam riset hulu, khususnya di bidang nanoteknologi, material, kebudayaan, dan maritim. Sementara itu, riset hilir mencakup bidang nuklir, penerbangan, dan antariksa.

“Dengan keterkaitan antarorganisasi riset BRIN, kita membangun ekosistem inovasi dari hulu hingga hilir secara menyeluruh. Ini penting untuk memastikan riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar menciptakan nilai dan solusi bagi bangsa,” ujar Handoko. Ia juga menyampaikan bahwa KST B.J. Habibie Serpong menjadi kawasan riset terakhir yang sedang ditata, dengan target penyelesaian akhir tahun ini. Penataan ini diharapkan mempercepat rencana investasi dan program baru pada tahun mendatang.

Arahan Ketua Dewan Pengarah: Riset Harus Membumi dan Visioner
Ketua Dewan Pengarah BRIN, Megawati Soekarnoputri, yang hadir secara langsung dalam acara Temu Periset, memberikan arahan strategis terkait masa depan riset Indonesia. Ia menegaskan bahwa riset harus menghasilkan sesuatu yang nyata dan bisa dinikmati oleh manusia, baik dalam bidang kesehatan, pangan, energi, maupun pengelolaan limbah.

Menurutnya, riset tidak boleh semata-mata disipliner atau terbatas pada satu bidang ilmu. Justru sebaliknya, riset harus memiliki pandangan visioner dan lintas bidang. Ia menyayangkan bahwa riset di Indonesia masih belum cukup maju, bukan karena kekurangan sumber daya, tetapi karena kurangnya kesadaran dari bangsa itu sendiri terhadap pentingnya riset.

Megawati mencontohkan negara seperti Thailand, di mana periset pertanian secara khusus untuk merekayasa varietas buah dan sayuran demi kemandirian pangan nasional. “Kita punya potensi yang besar, tapi kalau tidak digunakan secara strategis, ya akan tertinggal,” ujarnya.

Ia mendorong periset BRIN agar memiliki kreativitas tinggi, berani mendobrak batas-batas keilmuan, serta aktif menjalin dialog dengan masyarakat. “Periset harus duduk bersama rakyat, bukan hanya di laboratorium. Temukan masalahnya, lalu selesaikan melalui riset. Hanya dengan begitu, hasilnya benar-benar akan berguna,” tambahnya.

Ia juga menekankan pentingnya hilirisasi hasil riset melalui paten dan produk nyata. “Menulis jurnal itu bagus, tapi paten lebih penting. Dari situ teknologi bisa dipakai, dan periset bisa dapat royalti. Itu kebermanfaatan nyata,” tegasnya. Selain itu, ia memberikan perhatian khusus pada potensi riset maritim sebagai keunggulan strategis Indonesia, yang menurutnya masih belum tergarap maksimal.

Suara Periset: Semangat Bung Karno dan Harapan Generasi Muda
Dalam sesi diskusi, Kepala Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material, Ratno Nuriyadi, menyampaikan aspirasi agar semangat proklamator Bung Karno dalam membangun kedaulatan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat diwariskan kepada generasi periset muda BRIN, yang sebagian besar berasal dari generasi 1970-an hingga 1990-an. Ia berharap nilai-nilai kemandirian dan keberanian mengambil posisi strategis di panggung iptek dunia bisa terus ditanamkan.

Sementara itu, I Gde Sukadana, Peneliti Ahli Madya dari Pusat Riset Teknologi Bahan Nuklir dan Limbah Radioaktif, menyoroti tantangan yang dihadapi periset di bidang nuklir. Ia menyebut bahwa meskipun jumlah periset menyusut dan risiko kerja tinggi, mereka tetap berkomitmen untuk mendukung pembangunan PLTN 2032. Ia berharap ada perhatian dan dukungan yang lebih besar agar kompetensi yang telah dikuasai tidak hilang, dan semangat generasi baru tetap terjaga.

Kunjungan ke Laboratorium: Menyerap Aspirasi dari Lapangan
Sebelum berlangsungnya acara Temu Periset, Ketua Dewan Pengarah BRIN melakukan kunjungan ke sejumlah laboratorium unggulan di KST B.J. Habibie. Didampingi lima Kepala Organisasi Riset, ia meninjau langsung fasilitas dan aktivitas riset di Laboratorium Kimia dan Bioproses, Laboratorium Fisika dan Instrumen Pencitraan Maju, Pilot Plant Pengelolaan Sampah, Laboratorium Teknologi Radiasi, serta Laboratorium Mekanika Material dan Struktur.

Kunjungan ini menjadi kesempatan bagi Dewan Pengarah untuk melihat secara langsung bagaimana periset bekerja serta menyerap aspirasi dari mereka yang berada di garis depan pengembangan iptek. Dalam kunjungan tersebut, Ketua Dewan Pengarah memberi perhatian khusus terhadap peralatan canggih seperti NMR dan mikroskop beresolusi nanometer yang mendukung riset material maju.

Cuk Supriyadi Ali Nandar, Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur, menilai bahwa kunjungan ini memberi pesan kuat bahwa riset harus bersentuhan langsung dengan kondisi di lapangan. “Periset harus tahu apa yang dibutuhkan masyarakat. Kita juga harus mengembangkan teknologi yang sesuai dengan kondisi sumber daya dan lingkungan Indonesia, bukan sekadar mendatangkan teknologi dari luar,” ujarnya.

Kunjungan laboratorium ini sekaligus memperkuat pesan utama dalam Temu Periset: bahwa riset bukan sekadar aktivitas akademik, tetapi fondasi untuk membangun kedaulatan bangsa, dengan kreativitas, keberanian, dan kebermanfaatan sebagai inti utamanya. (jh/ed: aj, mfs)

Tautan:

https://brin.go.id/news/124258/brin-dorong-ekosistem-riset-terpadu-dan-inovasi-berbasis-kebutuhan-bangsa