Inisiasi Asosiasi MOF, BRIN Perkuat Kolaborasi Riset Material Maju

Tangerang Selatan – Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menginisiasi pembentukan Asosiasi Metal Organic Framework (MOF), di Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie Serpong, Tangerang Selatan, Rabu (4/2).  Hal ini dilakukan sebagai upaya memperkuat kolaborasi riset nasional dan internasional di bidang material maju.

Acara forum diskusi ini merupakan rangkaian dari Nobel Laurate Lecture, Prof. Susumu Kitagawa, yang melibatkan periset BRIN, perguruan tinggi, serta mitra internasional.

Kepala Pusat Riset Teknologi Polimer BRIN, Joddy Arya Laksmono, menyampaikan pembentukan Asosiasi MOF diharapkan menjadi wadah strategis untuk mengonsolidasikan riset MOF yang saat ini tersebar di berbagai institusi.

“MOF memiliki potensi besar dan aplikatif di berbagai sektor, seperti energi, kesehatan, dan lingkungan. Melalui asosiasi ini, kami ingin membangun ekosistem kolaborasi yang terstruktur, berkelanjutan, dan berdampak,” ujar Joddy.

Salah satu langkah konkret yang tengah diinisiasi adalah pembentukan sister laboratory bersama Kyoto University. Skema sister lab memungkinkan kolaborasi riset yang lebih intensif melalui pemanfaatan fasilitas bersama, mobilitas periset, serta pengembangan program riset kolaboratif lintas institusi.

Joddy menjelaskan model sister lab ini akan membuka peluang bagi periset Indonesia untuk terlibat langsung dalam riset bersama mitra internasional, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam jaringan riset global. Selain itu, kolaborasi ini juga diarahkan untuk melibatkan industri agar hasil riset MOF dapat lebih cepat dihilirkan.

Sementara itu, dari sisi pendanaan, Direktur Pendanaan Riset dan Inovasi BRIN, Raden Arthur Ario Lelono, menjelaskan pengembangan Pusat Kolaborasi Riset (PKR), baik nasional maupun internasional, memiliki karakteristik pendanaan yang berbeda dengan riset reguler.

“PKR tidak membiayai kegiatan riset secara langsung, tetapi mendukung percepatan kolaborasi, seperti pertemuan ilmiah, koordinasi dengan mitra, mobilitas periset, dan penguatan jejaring,” jelas Arthur.

Ia menekankan pendanaan riset yang menjadi basis PKR harus sudah diamankan melalui skema lain, seperti riset kompetitif, riset kolaborasi internasional, maupun riset inovasi strategis. Pendekatan ini penting mengingat PKR dirancang sebagai skema multi-years dengan durasi tiga hingga tujuh tahun.

Arthur juga menyampaikan riset MOF berpeluang besar untuk masuk dalam skema Riset Inovasi Strategis, terutama pada tema energi, termasuk pengembangan material penyerap dan penyimpanan gas. Skema ini memungkinkan dukungan terhadap kebutuhan infrastruktur riset, termasuk pembiayaan biaya modal dengan justifikasi yang kuat.

Dalam sesi diskusi, perwakilan perguruan tinggi, Ratna dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember menekankan pentingnya arah riset MOF yang berorientasi pada dampak nyata bagi industri dan masyarakat. Kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi kunci agar riset tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi berlanjut hingga menghasilkan produk dan solusi aplikatif.

Sebagai penutup, Prof. Susumu Kitagawa sebagai mitra internasional dari Kyoto University juga menyoroti pentingnya membangun komunitas riset yang heterogen, melibatkan universitas, lembaga riset, industri, dan masyarakat. Menurutnya, kolaborasi yang inklusif akan mempercepat penyelesaian permasalahan nyata dan memperkuat inovasi berbasis riset.

Melalui inisiasi pembentukan Asosiasi MOF ini, BRIN berharap dapat memperkuat sinergi antarperiset, menyelaraskan roadmap riset MOF nasional, serta mendorong lahirnya inovasi berbasis material maju yang berdampak bagi pembangunan Indonesia. (adl/ed: aj, tnt)

Tautan:

https://brin.go.id/news/126620/inisiasi-asosiasi-mof-brin-perkuat-kolaborasi-riset-material-maju