angerang Selatan – Humas BRIN. Penguatan kompetensi periset tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menghasilkan riset yang berdampak, tetapi juga oleh keteguhan dalam menjaga fondasi basic science dan scientific excellence. Perspektif tersebut mengemuka dalam ORNM Talk & Expo 2026 melalui paparan Prof. Stefano Luzzatto dari Abdus Salam International Centre for Theoretical Physics (ICTP) Italia, di Graha Widya Bhakti, KST B.J. Habibie, Serpong, Rabu (19/8).
Kehadiran Luzzatto sebagai matematikawan dan basic scientist, menjadi bagian dari upaya Pusat Riset Material Energi BRIN selaku steering committee ORNM Talk & Expo 2026 untuk memperkaya perspektif ilmiah para periset.
Ia mengajak peserta melihat kembali bagaimana matematika dan ilmu dasar dapat digunakan untuk memahami fenomena yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sekaligus menunjukkan pentingnya membedakan proses yang bersifat deterministik dengan fenomena yang secara statistik tampak acak.
Melalui contoh lemparan koin, Luzzatto menjelaskan bahwa sesuatu yang sulit diprediksi tidak selalu berarti terjadi secara acak. Secara fisika, gerakan koin dipengaruhi oleh sejumlah kondisi awal, seperti gaya lemparan, posisi, dan gerakan koin. Apabila seluruh kondisi tersebut diketahui secara sempurna, hasilnya pada prinsipnya dapat ditentukan.
Hal serupa dapat ditemukan pada sistem cuaca. Meskipun mengikuti hukum-hukum fisika, perubahan kecil pada kondisi awal dapat berkembang menjadi perbedaan yang besar. Fenomena tersebut dikenal sebagai sensitivitas terhadap kondisi awal atau butterfly effect.
“Bukan karena sistemnya acak, sistemnya benar-benar deterministik. Masalahnya adalah kita tidak memiliki informasi awal yang sempurna,” jelas Luzzatto.
Menurutnya, perbedaan antara deterministik dan acak juga dapat dipahami melalui perilaku statistik. Hasil setiap lemparan koin mungkin sulit ditentukan sebelumnya, tetapi jika dilakukan dalam jumlah besar, pola statistik tertentu dapat muncul. “Dengan demikian, mekanisme suatu proses dan karakteristik hasil yang diamati perlu dipahami sebagai dua hal yang berbeda,” ujanrya.
Luzzatto juga memperkenalkan konsep non-statistik, yaitu kondisi ketika suatu sistem tidak menunjukkan pola statistik jangka panjang yang menetap. Dalam kondisi tersebut, rata-rata atau frekuensi suatu kejadian dapat terus berubah tanpa mencapai nilai yang stabil.
Pembahasan tersebut menunjukkan bagaimana ilmu dasar memberikan kerangka untuk memahami fenomena kompleks, termasuk persoalan prediktabilitas, ketidakpastian, dan pola statistik. “Bagi lingkungan riset, pemahaman semacam ini menjadi bagian penting. Dalam membangun kemampuan analitis dan menjaga ketelitian ilmiah ketika mengembangkan pengetahuan maupun teknologi,” terangnya.
Kepala Pusat Riset Material Energi BRIN sekaligus Penyelenggara ORNM Talk & Expo 2026, Gerald Ensang Timuda mengatakan, paparan Luzzatto memberikan perspektif penting bagi periset BRIN di tengah tuntutan untuk menghasilkan riset yang semakin berdampak.
Menurut Gerald, rangkaian ORNM Talk & Expo 2026 dirancang sebagai bagian dari capacity building sivitas BRIN dengan menghadirkan berbagai perspektif mengenai perkembangan dunia riset. Kehadiran seorang basic scientist pada rangkaian kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa orientasi terhadap dampak dan pemanfaatan hasil riset perlu berjalan bersama dengan penguatan kompetensi dasar keilmuan.
“Kita ingin meningkatkan kompetensi para periset BRIN. Kita juga ingin melihat tantangan dunia global terhadap dunia riset. Namun, kegiatan ini diakhiri dengan paparan dari seorang basic scientist, seorang matematikawan, untuk mengingatkan kita agar tetap menjaga core competence sebagai periset dan ilmuwan,” ujar Gerald.
Ia menegaskan, dorongan untuk menghasilkan riset yang aplikatif tidak semestinya mengesampingkan kualitas ilmiah. Riset yang diarahkan pada pemanfaatan tetap membutuhkan fondasi keilmuan yang kuat agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
“Kita harus tetap menjaga kualitas. Tidak hanya melihat apa yang kelihatan aplikatif, tetapi juga tetap menjaga scientific excellence kita sebagai periset. Hasil-hasil riset juga harus tetap kita jaga kualitasnya,” ungkapnya.
Dalam konteks tersebut, penguatan basic science menjadi bagian penting dari ekosistem riset BRIN. Fondasi keilmuan yang kuat memungkinkan periset tidak hanya menghasilkan solusi untuk kebutuhan saat ini, tetapi juga mengembangkan pengetahuan baru yang dapat menjadi dasar bagi inovasi pada masa mendatang.
Kegiatan tersebut sekaligus memperkuat hubungan BRIN dengan ICTP yang telah berlangsung dalam waktu cukup panjang. Luzzatto menyampaikan bahwa lebih dari 1.000 peserta dari Indonesia telah mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakan ICTP.
Menurut Gerald, hubungan tersebut membuka peluang pengembangan kerja sama yang lebih luas, termasuk melalui pertukaran peneliti dan mahasiswa. Kolaborasi yang telah berjalan, antara lain dengan Pusat Riset Fisika Kuantum BRIN, dapat menjadi pijakan untuk memperluas jejaring ilmiah antara BRIN dan ICTP.
“Setelah kegiatan ini, Prof. Luzzatto juga menyampaikan ketertarikannya untuk mengembangkan kerja sama riset dan membawa mahasiswa untuk melakukan kegiatan riset di BRIN. Sebaliknya, ada peluang bagi periset BRIN untuk melakukan kegiatan ilmiah di ICTP,” jelas Gerald.
Kolaborasi tersebut diharapkan tidak hanya memperluas jejaring internasional BRIN, tetapi juga membuka ruang bagi pertukaran pengetahuan, pengembangan kapasitas sumber daya manusia, dan penguatan kualitas riset. Dengan demikian, pengembangan riset yang berdampak dapat tetap bertumpu pada fondasi keilmuan yang kuat sekaligus terhubung dengan komunitas ilmiah internasional. (adl/ed: aj, ns)
Tautan:
