Tangerang Selatan – Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menerima kunjungan resmi tim Universiti Teknologi Petronas (UTP) Malaysia dalam penyampaian laporan dan presentasi proyek kerja sama riset Logam Tanah Jarang (LTJ), bertajuk “Research on The Development of Processing Technology of Rare Earth Elements Carbonate for Non Radioactive Rare Earth Oxide”.
Acara yang berlangsung pada Rabu (09/07) di KST BJ Habibie Serpong ini merupakan bagian dari agenda evaluasi serta koordinasi teknis, atas pelaksanaan riset bersama antara BRIN dan UTP.
Kepala Pusat Riset Teknologi Pertambangan (PRTPb) BRIN Anggoro Tri Mursito, menyampaikan perkembangan kerja sama ini dengan Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara serta Pusat Sumber Daya Mineral, Panas Bumi, dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral terkait perizinan lokasi untuk uji lapangan.
“Saat ini di Indonesia belum ada izin usaha pengolahan (IUP) untuk eksplorasi dan pengolahan pertambangan logam tanah jarang. Selain itu, perlu juga perizinan dari Kementerian Lingkungan Hidup karena adanya kemungkinan kontaminan di lingkungan,” ungkapnya.
Tim periset dari BRIN memaparkan hasil sementara dan capaian pada tahap optimasi dan validasi proses Pekerjaan Uji Metalurgi. Hal yang menjadi bagian penting dalam pengembangan teknologi pengolahan karbonat LTJ menjadi oksida tanah jarang non-radioaktif.
LTJ merupakan bahan baku penting dalam industri modern, material, dan teknologi canggih. LTJ adalah mineral penting dan strategis yang saat ini sangat dibutuhkan dunia karena adanya unsur logam yang banyak digunakan untuk industri teknologi informasi, energi, kesehatan, dan pertahanan.
Sementara itu, Assoc Prof Dr Syahrir Ridha, Director Institute of Sustainable Energy and Resources dari UTP menuturkan optimisasi pengolahan sektor tanah jarang skala laboratorium ini dapat dikembangkan lebih lanjut ketahap pilot study. “Kami berharap dapat terus bermitra dengan BRIN, karena riset tanah jarang ini sangat strategis dan memerlukan kolaborasi,” ucapnya.
Ia juga mengungkapkan optimisasi pengolahan sektor tanah jarang skala laboratorium ini dapat dikembangkan lebih luas, meskipun ada kendala dari segi administrasi. “Kami berharap dapat terus bermitra dengan BRIN, karena riset tanah jarang ini strategis dan masih panjang ke depannya,” ucapnya.
Sementara itu, peneliti Ahli Madya dari Pusat Riset Teknologi Bahan Nuklir dan Limbah Radioaktif (PRTBNLR) BRIN Hendra Adhi Pratama menjelaskan, kerja sama riset LTJ ini menghasilkan luaran Kekayaan Intelektual (KI) dan purwarupa.
Pada kegiatan tersebut, selain buku laporan kegiatan, beberapa unsur LTJ yang diserahkan dari BRIN ke UTP yakni unsur neodimium (Nd) dan praseodimium (Pr) 56 persen, cerium (Ce) 47 persen, itrium (Y) 63 persen, serta lantanum (La) 88 persen. (adl/ed. ns)
Tautan:
https://brin.go.id/news/123913/brin-dan-utp-malaysia-jalin-kerja-sama-riset-logam-tanah-jarang