BRIN Gelar Pertemuan dengan The Network of ASEAN Chemical, Biological, Radiological (CBR) Defence Experts: Keamanan Pangan Menjadi Salah Satu Isu yang Dibahas

Tangerang Selatan – Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyelenggarakan pertemuan strategis bertajuk “A Meeting to Introduce the Network of ASEAN CBR Defence Experts” yang dilaksanakan di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie Serpong, Rabu (23/7).

Kegiatan ini menjadi tonggak awal keterlibatan BRIN dalam jaringan The Network of ASEAN CBR Defence Experts terhadap ancaman CBR (Chemical, Biological, Radiological) di kawasan ASEAN. Pertemuan ini dihadiri oleh Head of Secretariat Network of ASEAN CBR Defence Experts, Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) – BRIN, dan perwakilan dari pusat riset serta direktorat terkait di lingkungan BRIN.

Tujuan utama kegiatan ini adalah untuk memperkuat kolaborasi regional dalam menghadapi potensi ancaman CBR yang semakin kompleks dan lintas batas negara.

Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN), Syaiful Bakhri mengatakan BRIN memiliki tiga program nasional terkait ketenaganukliran seperti nuklir untuk energi, nuklir untuk kesehatan dan nuklir untuk ketahanan pangan. Ketiga program tersebut memiliki keterkaitan yang erat dengan aspek keselamatan dan keamanan nuklir. 

“Selain untuk pertahanan, forensik nuklir dapat digunakan untuk sistem deteksi dini, dan respons cepat terhadap kontaminasi radioaktif bahan pangan mengingat kondisi geopolitik saat ini” ungkap Syaiful

Syaiful menekankan pentingnya memanfaatkan kemampuan teknologi nuklir yang dimiliki untuk mendukung terwujudnya ketahanan pangan nasional.

“Kami ingin berkontribusi dalam mewujudkan ketahanan pangan melalui teknologi nuklir, seperti mencegah kehilangan pangan akibat kontaminasi, serta menjaga kesegaran dan kualitas makanan,” ujar Syaiful.

Ia berharap bidang forensik nuklir dapat berkontribusi dalam mendukung program ketahanan pangan.

“Saya melihat faktor keselamatan dan keamanan nuklir punya peran penting dalam ketahanan pangan. Karena itu, kami sangat mengharapkan masukan dari para ahli, bagaimana kita bisa menjaga keamanan pangan dari risiko kontaminasi radioaktif maupun kontaminan lainnya,” ujar Syaiful.

Head of Secretariat Network of ASEAN CBR Defence Experts, Loke Weng Keong menyatakan pertemuan ini bertujuan untuk menjangkau para ahli di BRIN guna memperkenalkan kegiatan jejaring ini serta mendorong partisipasi mereka untuk bergabung dalamThe Network of ASEAN CBR Defence Experts.

Loke menjelaskan bahwa forensik nuklir adalah kemampuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis sifat-sifat material nuklir dan radioaktif berdasarkan karakteristiknya.

“Melalui forensik nuklir, kita bisa mengetahui siapa pemilik atau pembuat material tersebut. Jika karakteristiknya dapat ditelusuri, maka asal-usul material tersebut bisa dilacak, bahkan mencari tahu pihak yang bertanggung jawab atas hilangnya material tersebut,” ungkap Loke.

Loke juga menjelaskan bahwa forensik nuklir bisa dimanfaatkan di sektor pangan dan industri untuk melacak asal-usul suatu produk

“Terkait peran forensik nuklir di sektor pangan dan industry, kita harus melihat bahwa ini bukan hanya tentang bahan nuklir yang ada di dalamnya. Jika bahan tersebut secara tidak sengaja masuk ke dalam siklus makanan, kita juga harus memahami dari mana bahan ini berasal,” ungkap Loke.

Loke menegaskan pelacakan terhadap bahan yang ditemukan di luar kendali regulasi, misalnya karena pencurian dapat dilakukan menggunakan teknik yang sama dengan sedikit penyesuaian untuk melacak kembali asal usul sumber radioaktif industri yang telah hilang.

“ Jadi teknik yang sama tidak hanya berguna untuk bahan nuklir tapi juga untuk sumber-sumber industri,” pungkas Loke.

 Kegiatan ini menjadi tonggak penting dalam upaya pengembangan sistem pertahanan sipil non-konvensional, khususnya di bidang ketahanan pangan berbasis sains dan teknologi. Selain itu, kegiatan ini juga turut diisi dengan diskusi teknis, pembahasan studi kasus regional, serta rencana pelatihan bersama lintas negara. 

KST BJ Habibie dipilih sebagai lokasi pertemuan karena perannya sebagai pusat unggulan riset teknologi strategis BRIN, termasuk fasilitas pengujian radiasi dan laboratorium pengawasan mutu bahan pangan. (ARF, RA)