Peneliti BRIN Ciptakan Kain Pintar untuk Deteksi Zat Berbahaya pada Makanan

Tangerang Selatan – Humas BRIN. Peneliti Pusat Riset Fotonika Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan kain pintar (smart fabric) berlapis nanopartikel perak yang mampu mendeteksi keberadaan zat pewarna berbahaya secara cepat, sensitif, dan praktis. Inovasi tersebut dikembangkan oleh Prof. Isnaeni, sebagai solusi atas masih ditemukannya penggunaan pewarna sintetis berbahaya pada produk pangan, tekstil, maupun limbah industri. 

Menurut Prof. Isnaeni, kebutuhan akan metode deteksi yang cepat dan mudah digunakan menjadi salah satu alasan utama pengembangan teknologi ini. Zat seperti malachite green dan methylene blue diketahui dapat menimbulkan berbagai risiko kesehatan, mulai dari gangguan organ hingga meningkatkan potensi kanker apabila terpapar dalam jangka panjang.

“Kami ingin menghadirkan teknologi sensor yang tidak hanya memiliki sensitivitas tinggi, tetapi juga mudah digunakan di lapangan dengan biaya yang lebih terjangkau. Dengan demikian, proses deteksi bahan berbahaya dapat dilakukan secara lebih cepat tanpa harus selalu bergantung pada fasilitas laboratorium yang kompleks,” ujarnya berdasarkan keterangan tertulisnya pada Rabu (24/06).

Isnaeni menerangkan bahwa teknologi sensor tersebut dibuat dari lembaran fiberglass fleksibel yang dilapisi nanopartikel perak (AgNPs) menggunakan metode sintesis gelombang mikro. Proses pembuatannya hanya memerlukan waktu sekitar 30 detik untuk menghasilkan lapisan nanopartikel yang optimal.

Lapisan nanopartikel perak berfungsi memperkuat sinyal cahaya pada teknik Surface Enhanced Raman Spectroscopy (SERS) sehingga mampu mendeteksi keberadaan molekul pewarna dalam konsentrasi yang sangat rendah. Pendekatan ini menawarkan keunggulan berupa biaya yang lebih rendah, proses yang ramah lingkungan, serta berpotensi diproduksi secara massal.

Hasil penelitian menunjukkan sensor tersebut memiliki sensitivitas tinggi dengan batas deteksi hingga 10⁻⁷ M untuk pewarna malachite green. Selain itu, sensor mampu mendeteksi beberapa jenis pewarna secara bersamaan dalam satu kali pengukuran sehingga cocok digunakan pada sampel yang kompleks.

“Keunggulan sensor ini tidak hanya terletak pada sensitivitasnya, tetapi juga pada kemampuannya mengenali beberapa jenis pewarna secara bersamaan serta mempertahankan performa yang stabil meskipun digunakan berulang kali,” jelasnya.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa sensor dapat digunakan kembali hingga delapan siklus pemakaian tanpa mengalami penurunan kinerja yang signifikan. Tidak hanya memiliki sensitivitas tinggi, sensor ini juga bersifat fleksibel sehingga dapat diaplikasikan langsung pada berbagai permukaan nyata. Dalam pengujian, sensor berhasil mendeteksi keberadaan pewarna pada permukaan sayuran seperti mentimun, pare, terong, dan labu siam hanya melalui teknik usap sederhana.

Kemampuan tersebut membuka peluang pemanfaatan perangkat Raman portabel untuk melakukan inspeksi keamanan pangan secara langsung di lapangan tanpa harus membawa sampel ke laboratorium. Dengan demikian, proses pengawasan kualitas pangan dapat berlangsung lebih cepat, praktis, dan efisien.

Isnaeni menambahkan bahwa inovasi ini memiliki prospek pengembangan yang sangat luas untuk mendukung berbagai sektor. Dia berharap platform sensor berbasis nanoteknologi ini dapat dikembangkan lebih lanjut untuk mendeteksi berbagai kontaminan lain seperti residu pestisida, bahan kimia berbahaya, mikroplastik, hingga biomarker kesehatan. 

“Inovasi ini diharapkan menjadi fondasi bagi hadirnya perangkat sensor portabel generasi baru yang murah, mudah digunakan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” tuturnya.

Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal internasional bereputasi Biochemical Engineering Journal (2026) melalui artikel berjudul “Single-vessel microwave-assisted fabrication of flexible Ag@FG substrates for robust and reusable SERS multi-dye detection”. (is,adl/ed:aj,jml)

Tautan:

https://brin.go.id/news/128948/peneliti-brin-ciptakan-kain-pintar-untuk-deteksi-zat-berbahaya-pada-makanan