Tangerang Selatan – Humas BRIN. Riset material menjadi salah satu fondasi penting dalam pengembangan teknologi modern. Melalui pendekatan nanoteknologi dan rekayasa material, berbagai inovasi dapat diterapkan mulai dari industri otomotif, perangkat keamanan, kesehatan, hingga energi.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Sistem Nanoteknologi (PRSN), Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material (ORNM), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Tri Marji Atmono, menekuni penelitian di bidang thin film atau lapisan tipis sejak menempuh pendidikan doktoralnya di Jerman. Fokus tersebut terus dikembangkan hingga kini untuk menghasilkan material dengan karakteristik khusus sesuai kebutuhan aplikasi.
“Thin film itu material dengan ketebalan sangat kecil, umumnya dalam orde nanometer. Tetapi aplikasinya sangat luas di berbagai bidang,” jelas Prof. Tri dalam wawancaranya dengan Tim Humas BRIN (21/05)
Menurutnya, teknologi lapisan tipis memungkinkan suatu material memiliki sifat baru, seperti lebih tahan korosi, lebih keras, antibakteri, hingga memiliki karakter optik tertentu. Salah satu contoh penerapannya terdapat pada kaca spion kendaraan premium. Lapisan multi-material seperti titanium dan cobalt digunakan untuk menghasilkan kaca spion yang tetap optimal dalam berbagai kondisi cuaca, termasuk hujan dan salju.
Selain otomotif, teknologi lapisan tipis juga diterapkan pada security paper seperti hologram pengaman pada uang dan paspor. Teknologi tersebut memanfaatkan material khusus dan teknik optik untuk menciptakan sistem keamanan yang sulit dipalsukan.
Di bidang kesehatan, riset lapisan tipis juga berpotensi diterapkan pada alat medis dan implan tulang. Pelapisan menggunakan material tertentu seperti perak, tembaga, dan emas dapat membantu menciptakan permukaan antibakteri sehingga mengurangi risiko infeksi pada pasien.
Untuk menghasilkan lapisan tersebut, Prof. Tri dan tim mengembangkan teknologi sputtering, yaitu metode deposisi material dengan menembakkan ion gas argon ke target material sehingga partikel-partikelnya berpindah dan melapisi permukaan tertentu.
Menariknya, sebagian perangkat RF sputtering yang digunakan di laboratorium dikembangkan secara mandiri oleh tim peneliti BRIN. “Kami mengintegrasikan sendiri sistemnya bersama tim. Tidak mudah, tetapi Alhamdulillah alatnya dapat berfungsi dengan baik,” ujarnya.
Teknologi RF sputtering memiliki keunggulan karena dapat digunakan untuk berbagai jenis material, termasuk konduktor, semikonduktor, maupun isolator. Dengan pengaturan parameter tertentu, material dapat direkayasa agar memiliki sifat listrik dan karakteristik sesuai kebutuhan aplikasi.
Prof. Tri juga menekankan pentingnya eksperimen dalam riset material. Menurutnya, proses trial and error menjadi bagian penting untuk menemukan formulasi terbaik dalam pengembangan material baru.
“Dalam simulasi terkadang belum tentu menghasilkan kondisi yang sesuai di eksperimen. Oleh karena itu kami banyak melakukan pengujian langsung hingga menemukan karakter material yang diinginkan,” tambahnya.
Ke depannya, ia berharap riset lapisan tipis dan material nano dapat mendukung pengembangan teknologi nasional, termasuk pada bidang energi seperti sel surya generasi baru dengan efisiensi lebih tinggi. Melalui pengembangan riset material dan nanoteknologi, BRIN terus mendorong hadirnya inovasi berbasis sains untuk mendukung kemandirian teknologi Indonesia. (adl, sm/ ed: aj,jml)
Tautan:
