Pemanfaatan Batuan Basalt sebagai Bahan Baku Industri: Pespektif Riset BRIN

Tangerang Selatan – Humas BRIN. Batuan basalt  adalah batuan vulkanik yang banyak ditemukan di gunung api muda Indonesia, dan bermanfaat sebagai bahan baku mineral industri, serta untuk penyimpanan carbon capture and storage

Kemudian, limbah polimer polietilena tereftalat (PET) dan etilen-vinil asetat (EVA) memiliki potensi pemanfaatan luas. Dengan PET memiliki sifat mekanik yang baik, sedangkan EVA sebagai kopolimer juga bermanfaat apabila diolah lebih lanjut.

Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Pusat Teknologi Polimer (PTP) Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material (ORNM) BRIN Joddy Arya Laksmono, dalam forum pertemuan ilmiah riset dan inovasi ORNAMAT #69 secara daring, Selasa (12/8).

Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Mineral (PRTM) BRIN Yusuf Hendronursito menyatakan, batuan basalt banyak terdapat di Sukadana, Lampung Timur, yang memiliki cadangan basalt melimpah dan mudah diakses. 

BRIN berfokus pada pengembangan basalt fiber yang produknya meliputi serat kontinu, basalt rebar (penguat tulangan), pipa, pelapis (lining), hingga serat pendek (chopped fiber). Penelitian juga mencakup pengembangan semen berbasis basalt, basalt cast, media tanam hidroponik, pupuk, dan glass ceramic.

Berdasarkan pengamatan Scanning Electron Microscope (SEM), basalt yang dipanaskan selama 3 jam memiliki bentuk dan susunan berbeda dibandingkan yang dipanaskan 8 jam. Analisis X-Ray Diffraction menunjukkan bahwa jenis kristal yang terbentuk sama, yaitu anortit, olivin, dan piroksen, tetapi pemanasan lebih lama membuat material lebih keras. 

Glass ceramic yang dibuat memiliki kekuatan 6–8 gigapascal (GPa) dan dapat digunakan di kedokteran gigi, prostetik, dan biomaterial, meskipun proses pemesinan terbatas karena kekerasannya di atas 5 GPa,” ujar Yusuf.

Yusuf menambahkan, versi ringan basalt glass ceramic yang dapat mengapung di air berhasil dibuat. Material ini dapat dijadikan pengisi komposit tulang buatan, lebih efektif menyerap radiasi dibanding barium borosilikat, dan tahan pelapukan dalam larutan garam.

Sementara itu, Peneliti Ahli Muda PRTM BRIN Muhammad Amin, memaparkan potensi limbah Polietilena Tereftalat (PET) dan Etilen-Vinil Asetat (EVA) sebagai bahan konstruksi bangunan. Penelitian terbaru menunjukkan limbah PET dan EVA dapat digunakan untuk meningkatkan kelenturan beton sehingga lebih tahan terhadap guncangan gempa.

“Limbah PET memiliki karakteristik fisik yang mirip dengan agregat alam, dengan ukuran partikel bervariasi mulai dari 0 hingga 100 milimeter. sehingga dapat menggantikan sebagian agregat dalam beton tanpa mengubah sifat campuran,” bebernya. 

EVA yang banyak berasal dari limbah sol sepatu, tambahnya, memiliki ukuran partikel hingga 10 milimeter dan dapat menambah fleksibilitas beton jika dijadikan substitusi agregat.

“Dalam uji coba, sebagian pasir diganti PET dan sebagian semen diganti EVA yang diolah menjadi partikel kasar dengan kloroform. Campuran ini dibuat menjadi mortar dan diuji pada umur 7, 14, 21, dan 28 hari. Hasilnya, PET meningkatkan kuat lentur hingga kadar tertentu meski sedikit menurunkan kuat tekan, sedangkan EVA menurunkan keduanya namun tetap menambah kelenturan campuran,” urainya.

Muhammad mengatakan, secara mikroskopis, struktur mortar berkembang dari pembentukan CSH yang minim pada umur 7 hari menjadi lebih padat pada 14–21 hari, dan hampir seluruh pori terisi CSH pada 28 hari dengan ikatan Si–O–Si yang meningkatkan kekuatan mekanis. 

“Analisis Termogravimetri (TGA) mengonfirmasi hidrasi lanjutan melalui penurunan massa akibat hilangnya air dan terbentuknya kalsium hidroksida. Kami merekomendasikan penambahan superplastisizer berbasis polikarboksilat untuk mengoptimalkan kemudahan pengerjaan dan kepadatan mortar pada tahap berikutnya,” pungkasnya. (dv/ed:jh, ns)

Tautan:

https://brin.go.id/ornm/posts/kabar/pemanfaatan-batuan-basalt-sebagai-bahan-baku-industri-pespektif-riset-brin