BRIN Kembangkan Genting Komposit Biomassa Ringan untuk Bangunan Rawan Gempa

Tangerang Selatan โ€“ Humas BRIN. Indonesia membutuhkan material bangunan yang lebih aman. Apalagi, kondisi wilayah yang berada di Ring of Fire mengakibatkan rawan gempa.  Menjawab tantangan tersebut, peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional mengembangkan genting komposit berbasis biomassa yang lebih ringan, kuat, dan ramah lingkungan sebagai alternatif material atap bangunan. Inovasi ini dipaparkan dalam webinar Product Knowledge Seri 2 oleh Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk BRIN, Rabu (11/3).

Kepala Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk BRIN, Akbar Hanif Dawam Abdullah, dalam pembukaan webinar menyampaikan bahwa pengembangan genting komposit menjadi relevan dengan kebutuhan nasional, terutama dalam mendukung upaya pemanfaatan sumber daya biomassa yang melimpah di Indonesia.

Ia menjelaskan bahwa biomassa seperti limbah kelapa sawit, sabut kelapa, bambu, hingga sorgum memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk bernilai tambah melalui riset dan inovasi.

โ€œKita memiliki sumber daya biomassa yang sangat melimpah. Tantangannya adalah bagaimana sumber daya tersebut dapat dimanfaatkan menjadi produk inovatif yang memberikan manfaat bagi masyarakat,โ€ ujar Akbar.

Salah satu bentuk pemanfaatannya adalah pengembangan genting komposit berbasis biomassa. Dalam paparannya, Sukma Surya Kusumah, peneliti dari Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk BRIN, menjelaskan bahwa genting komposit yang dikembangkan berasal dari material biomassa atau lignoselulosa yang diolah menjadi partikel kecil dan kemudian diproses menjadi produk komposit.

Menurut Sukma, pengembangan genting komposit ini juga dilatarbelakangi oleh kondisi geografis Indonesia yang berada di kawasan Ring of Fire, sehingga rentan terhadap bencana gempa bumi.

โ€œPada banyak kejadian gempa, korban cedera terjadi akibat tertimpa genting yang berat. Oleh karena itu kami mengembangkan genting komposit yang lebih ringan namun tetap memiliki kekuatan mekanis yang baik,โ€ ujarnya.

Selain ringan, genting komposit biomassa juga memiliki sejumlah keunggulan lain, seperti tahan air, tahan api dengan laju pembakaran yang lebih lambat, serta ramah lingkungan. Produk ini juga diharapkan dapat mendukung target Net Zero Emission (NZE) Indonesia tahun 2060 melalui pemanfaatan material berbasis biomassa.

Sukma menambahkan bahwa dalam proses pembuatannya, biomassa terlebih dahulu dipreparasi menjadi partikel kecil menggunakan beberapa peralatan seperti ring flaker, drum chipper, dan hammer mill. Partikel tersebut kemudian dipisahkan berdasarkan ukuran, dikeringkan hingga kadar air tertentu, lalu dicampur dengan perekat sebelum diproses melalui tahapan mat forming, cold press, dan hot press molding hingga terbentuk genting komposit.

Pengujian dan Pengembangan Produk

Dalam memastikan kualitas produk, tim peneliti melakukan berbagai pengujian, antara lain uji sifat fisis dan mekanis, uji ketahanan terhadap cuaca, serta uji ketahanan terhadap api. Penelitian ini juga dilengkapi dengan uji lapangan yang dilakukan secara berkala untuk memantau performa material.

Sukma menjelaskan bahwa pengamatan lapangan dilakukan secara berkala setiap tiga bulan untuk melihat dampak perubahan cuaca serta kondisi lingkungan terhadap material genting.

โ€œPengujian ketahanan material tidak bisa disimpulkan dalam waktu singkat. Idealnya pengamatan dilakukan secara kontinu minimal selama lima tahun agar kita dapat melihat performa material dalam jangka panjang,โ€ ia menjelaskan.

Ia menambahkan bahwa kondisi atap bangunan yang berada di ruang terbuka memungkinkan berbagai faktor eksternal memengaruhi material, seperti paparan sinar ultraviolet, air hujan, hingga kemungkinan pertumbuhan lumut atau tanaman liar yang terbawa oleh burung.

Oleh karena itu, pengembangan teknologi pelapis menjadi bagian penting dalam penelitian genting komposit ini. Pelapis tersebut dirancang untuk memberikan perlindungan tambahan, seperti ketahanan terhadap sinar UV, air, api, serta menghambat pertumbuhan organisme atau tanaman yang tidak diinginkan pada permukaan genting.

Dalam diskusi webinar, para peneliti juga memberikan berbagai masukan untuk pengembangan produk, antara lain terkait standarisasi ukuran genting agar sesuai dengan ukuran genting komersial yang sudah beredar di pasaran, sehingga dapat lebih mudah diaplikasikan pada konstruksi atap bangunan yang ada.

Selain itu, muncul pula gagasan pengembangan genting komposit tanpa perekat (binderless) dengan memanfaatkan komponen alami biomassa sebagai pengikat alami melalui proses tertentu.

Menurut Sukma, konsep tersebut berpotensi menekan biaya produksi, meskipun masih memerlukan penelitian lebih lanjut karena umumnya membutuhkan proses pengepresan dengan suhu dan waktu yang lebih tinggi.

โ€œKe depan, BRIN akan terus mengembangkan berbagai alternatif teknologi, termasuk kemungkinan genting komposit tanpa perekat, sehingga produk ini dapat lebih kompetitif dan menjangkau berbagai segmen pasar,โ€ ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, perwakilan mitra industri menyampaikan bahwa produk berbasis biomassa memiliki peluang pasar yang cukup besar, baik di dalam negeri maupun di pasar ekspor, terutama seiring meningkatnya kebutuhan terhadap material bangunan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Melalui kegiatan webinar ini, BRIN berharap inovasi genting komposit berbasis biomassa dapat terus dikembangkan dan berkolaborasi dengan mitra industri sehingga berpotensi menjadi produk yang dapat dimanfaatkan secara luas oleh masyarakat. (adl/Ed: MM)

Tautan:

https://brin.go.id/news/127133/brin-kembangkan-genting-komposit-biomassa-ringan-untuk-bangunan-rawan-gempa